Sejak menerima lamaran Gana, Gema mengurung diri rumah. Dia tidak memiliki tenaga dan keberanian untuk bertemu siapa pun. Jangankan bertemu, menerima telepon masuk di ponselnya pun Gema tidak berani. Seperti saat ini, Gema sedang duduk di ranjang sambil memeluk kedua kakinya. Menatap ponsel yang sejak tadi terus menyala. Seluruh nama keluarga Hamizan muncul silih berganti, membuatnya gemetar ketakutan.
Bukan. Gema bukan takut akan kemarahan mereka. Mereka berhak marah, Gema pantas mendapatkan kemarahan mereka. Tapi yang membuat Gema takut adalah kabar buruk yang bisa saja mereka sampaikan.
Kabar buruk tentang Bara.
Gema telah melukai Bara. Kali ini... mungkin yang paling parah. Mengingat apa saja yang pernah Bara lakukan dua tahun lalu ketika Gema meninggalkannya, bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi lagi.
Sungguh Gema tidak bisa mengenyahkan segala spekulasi di kepalanya tentang keadaan Bara saat ini. Apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan itu terus menerus membayangi Gema.
Pelukan Gema di kedua kakinya semakin mengerat. Kuku tangannya menancap kuat di kulit kaki, melampiaskan takut dengan cara itu meski rasa takut itu tak berkurang sedikit pun.
Suara ketukan pintu terdengar. Wajah Gema menoleh cepat ke arah pintu kamar. Jantungnya berdebar sangat kuat hingga rasanya sangat menyakitkan.
Siapa yang datang? pikir Gema cemas.
Gundah menghantam, Gema berperang di antara dua keputusan. Membuka pintu atau mengabaikan siapa pun yang datang ke rumahnya.
Tapi bagaimana kalau itu adalah Bara?
Bagaimana kalau ada hal penting yang ingin Bara sampaikan?
Jika itu Bara... bukankah Gema pun sedang sangat merindukan dirinya? Bukankah Gema butuh memeluknya?
Gema akhirnya memutuskan beranjak dari kamar, berdiri dengan tubuh gemetar di depan pintu rumah. Tangannya ragu-ragu menyentuh gagang pintu. Gema menarik napas panjang yang tercekat sebelum akhirnya membukanya.
Bukan Bara. Yang berdiri di hadapannya saat ini bukan lah Bara.
"Gan..." gumam Gema dengan suara serak.
Gana tak mengatakan apa pun. Dia hanya diam, menatap wajah pucat pasi Gema dengan sangat lekat. Gema sedang tidak baik-baik saja, pikir Gana. Ekspresi Gema sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan segalanya. "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Katanya.
Gema belum mengatakan apa pun, bahkan mengangguk saja pun belum. Namun Gana sudah lebih dulu menarik tangan Gema dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk berdampingan, jemari Gema tidak Gana lepaskan, sementara Gana masih menatap lekat wajahnya.
"Ada apa, Gan?" tanya Gema lirih. Sesekali dia merunduk, melirik genggaman tangan Gana yang terasa asing.
"Harusnya aku yang tanya kamu begitu."
"Maksudnya?"
"Kamu kenapa?" tak ada nada marah dalam suara Gana. Dia bertanya dengan suara lembut yang menenangkan.
Gema menggeleng pelan. "Aku nggak ngerti. Memangnya aku—"
"Kamu bohong kan selama ini sama aku?"
"Bohong?"
"Bara."
Begitu nama Bara di sebut, wajah Gema tersentak hebat. Mengapa Gana tiba-tiba menyebut nama Bara? Apa mungkin... Gana sudah mengetahuinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
