Chapter 29 - Restu

780 132 23
                                        

Nadi baru saja menekan bel rumah Bara. Lalu berdiri termenung selagi menunggu pintu itu terbuka. Ketika menyadari pintu akhirnya terbuka, Nadi mengerjap hingga tersadar dari lamunan. Bara muncul dari balik pintu, keadaannya sangat memprihatinkan. Banyak sekali bekas luka di wajahnya yang penuh lebam

Mereka saling menatap satu sama lain. Nadi dengan sorot mata khawatir, sedang Bara... dengan tatapan kosong yang tak memiliki arti.

Bara membiarkan pintu tetap terbuka saat dia memutuskan masuk lebih dulu. Di belakangnya, Nadi mengikuti dengan langkah lambat.

Nadi melihat Bara duduk di atas sofa, bahunya sedikit membungkuk saat mengambil botol dari atas meja. Meneguknya langsung, kemudian berdiam diri dengan tatapan kosong lurus ke depan.

Meja itu di penuhi oleh banyak sekali botol minuman. Sekitar rumah Bara pun tampak sangat berantakan. Seluruh tirai tertutup rapat hingga rumah itu teramat gelap. Nadi mengenal Bara seumur hidupnya. Bara tidak pernah bisa berada di tempat yang kotor dan berantakan. Namun hari ini... apa yang Nadi lihat benar-benar membuat hatinya terenyuh pilu.

Nadi mendekat, duduk tepat di samping Bara. Dia tidak mengatakan apa pun, hanya memandangi wajah sahabatnya ini lekat dengan tatapan sendu.

Bara sendiri seolah tak peduli dengan keberadaan Nadi. Dia hanya diam termenung, kemudian meneguk minuman kala sesak menghantam hatinya. Rasa pahit alkohol sedikit membantu untuk melupakan rasa sakit di hatinya meski hanya satu atau dua detik.

Isi botol alkohol itu telah habis. Bara mencoba memeriksa botol yang lain, tapi nihil. Bara telah menghabiskan seluruh persediaan alkohol di rumahnya. Menyadari itu Bara tertawa hambar, kemudian dia lempar satu per satu botol-botol itu ke sembarang arah dengan penuh amarah.

Napasnya tersengal-sengal saat tak ada lagi botol yang tersisa. Lalu dia menyandarkan kepala ke belakang. Bara memejamkan mata.

Nadi menyaksikan semuanya. Keadaan Bara nyatanya lebih parah dari dua tahun lalu. Senyum getir terpatri di wajah Nadi. Jemarinya bergerak ragu, hendak menyentuh wajah Bara yang menyiratkan lelah. Namun Nadi mengurungkan niatnya. Nadi takut Bara akan marah, atau pun terganggu oleh sentuhannya.

Maka setelah menghabiskan sedikit waktu hanya dengan memandangi wajah Bara, Nadi menghela napas sebelum beranjak dari sana. bukan pergi meninggalkan Bara, namun membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan, serta merapikan rumah Bara yang berantakan.

Ketika membersihkan dapur, Nadi menemukan dua piring di atas meja yang salah satunya masih terisi oleh makanan yang sudah hampir membusuk. Ada dua gelas juga di sana. Yang satu telah kosong, sedangkan yang satu nya masih terisi penuh.

Nadi seakan bisa membayangkan apa yang telah terjadi di dapur ini. Apa yang terjadi di antara Bara dan Gema.

Berusaha mengenyahkan perasaan sesak yang menyelimuti, Nadi memutuskan untuk membersihkan dapur. Dia memakai sarung tangan, memindahkan piring kotor ke dalam wastafel untuk di cuci, kemudian membersihkan meja yang terdapat sisa-sisa makanan di atasnya.

Ketika sedang membersihkan meja, Nadi yang sejujurnya sejak tadi berusaha untuk tegar, kini tak bisa menahan air matanya.

Kabar buruk itu telah Nadi dengar sejak beberapa hari lalu. Nadi butuh menenangkan dirinya sebelum pergi menemui Gana. Beberapa hari telah berlalu, dan melihat kekacauan di rumah Bara... itu artinya selama beberapa hari ini Bara hidup di dalam rumah yang kacau balau seperti ini.

Membayangkan apa yang terjadi pada Bara, melihat bagaimana keadaannya, hati Nadi remuk redam. Nadi mengerti, dia bisa merasakan apa yang saat ini sedang Bara rasakan. Itu mengapa Nadi tak ingin bertanya, tak ingin mengatakan omong kosong tentang kesabaran.

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang