Chapter 10 - Mimpi Buruk

1.2K 203 7
                                        

"Jadi, Gana punya peluang untuk bebas?" tanya Prita.

                Bara yang baru saja menjelaskan apa yang terjadi pada Gana dan bagaimana proses hukum selanjutnya pada keluarga Gana, kini mengangguk. Saat berkendara menuju kantor tadi, Bara mendapatkan telepon dari Arjuna yang menanyakan tentang Gana.

                Karena tidak mau membuat keluarga Gana khawatir, maka Bara datang untuk memberitahu mereka semua apa yang terjadi.

                "Selain barang bukti, Antonio juga akan bersaksi di pengadilan tentang suap yang dia terima dari Komandan Setyo. Dua alat bukti itu sangat kuat, jadi besar kemungkinan Gana akan dibebaskan setelah persidangan selesai." Jelas Bara lagi.

                Prita dan Arjuna saling memandang dengan mata berlinang air mata. Arjuna merangkul Prita, mengusap punggung istrinya penuh arti.

                "Om sama Tante nggak usah khawatir, kali ini aku jamin Gana akan segera pulang." Bara berujar tegas.

                "Terima kasih, Bara." ucap Prita.

                Tangisnya pecah, dia bahkan sampai memeluk Bara erat dan menangis tersedu-sedu. Dua tahun sudah dia kehilangan putranya, hidup dalam kebingungan dan juga cemas karena memikirkan putranya.

                Pelukan dan tangisan Prita membuat Bara tertegun dengan sorot mata nanar. Dia kembali teringat pergelutan batinnya beberapa saat lalu. Ketika Bara tahu Gana pergi bersama Gema, kemarahan Bara berbisik padanya agar dia menghancurkan Gana seperti kehancuran yang Bara rasakan atas kehilangan Gema.

                Apa lagi saat Gema rela merendahkan harga dirinya di hadapan Bara hanya demi Gana. Saat itu, keinginan Bara untuk menghancurkan Gana semakin besar.

                Tapi setiap kali memikirkan kebencian Gema, rasa kecewa yang membuat Gema semakin menjauh darinya jika Bara melukainya, tangisan dan permohonan Gema, Bara tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Gema.

                Lagi-lagi Gema menaklukkannya, membuat Bara bertekuk lutut demi mempertahankan Gema di sisinya.

                Jadi, meski Bara marah, meski hatinya penuh kebencian, meski dia lebih dari mampu untuk menghancurkan siapa saja yang ingin dia hancurkan, namun ketakutan Bara atas kehilangan Gema telah mengalahkan segalanya.

                Tapi hari ini, Gema telah mengajarkan sesuatu yang berharga pada Bara sekali lagi. Meski tidak secara langsung, namun permohonan Gema atas sesuatu yang Bara benci itu nyatanya mampu membuat seorang Ibu menangis penuh harap.

                Melalui pelukan Prita saat ini, Bara tahu seperti apa kerinduan yang Prita rasakan, kehancuran apa yang dia terima selama ini. Ibu mana yang bisa baik-baik saja ketika anaknya menghilang? Menjalani hidup dalam ketidakpastian. Di mana putranya? Bagaimana keadaannya? Masihkah dia hidup? Atau... sudah tiada.

                Itu mengapa kini Prita menangis keras sembari memeluk Bara setelah Bara meyakinkan mereka kalau Gana punya peluang besar untuk bebas.

                Bara tahu dia bukan orang yang baik. Dia pun tidak pernah merasa pernah melakukan kebaikan. Namun hari ini, untuk pertama kalinya Bara tidak menyesal telah melakukan sesuatu yang meski bertolak belakang dengan keinginannya.

                Maka meski dengan ragu-ragu, kini kedua tangan Bara bergerak lambat, memeluk Prita, mengusap pelan punggungnya. Tangis Prita semakin kuat, dan Bara merasa hatinya semakin getir. Barangkali Prita sedang membayangkan Gana lah yang memeluknya saat ini.

Unstoppable 3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang