Sepulang dari bekerja, Bara mampir ke rumah Adel untuk menjemput Gema. Sejak tadi siang, Gema pergi ke rumah Adel karena Alma pun sedang ada di sana. Padahal Gema sudah mengatakan pada Bara kalau Bara tidak perlu sampai menjemputnya karena Gema datang menggunakan mobilnya sendiri.
Tapi Bara tetap saja bersikeras mau menjemput. Bara tidak mau ketika pulang ke rumah, tidak ada Gema yang menyambut. Lagi pula Papi dan Maminya juga sedang tidak ada di rumah sejak kemarin. Seperti bisa, sedang berada entah di belahan bumi mana untuk menghabiskan waktu berdua.
Bara baru saja melangkahkan kakinya masuk, suara teriakan Gema sudah terdengar dan membuat telinga Bara sakit. Dari dalam rumah, tampak Liora berlari keluar sambil tertawa lebar. Di belakangnya ada Gema dan Ansel yang mengejar dengan wajah kesal.
"Liora!" Teriak Ansel.
"Jangan lari!" sahut Gema.
Mereka berdua melintasi Bara begitu saja di ambang pintu, mengejar Liora yang berlarian di halaman rumah tanpa alas kaki. Meski mereka berusaha mengepung Liora, namun putri Arka dan Alma itu terlalu lincah hingga selalu saja berhasil meloloskan diri.
"Nggak bisa, wleee." Liora menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil menjulurkan lidah mengejek. Bocah berusia empat tahun itu kembali berlari menjauhi Gema dan Ansel yang lagi-lagi mengejar.
Liora berlari ke dalam rumah. Bara masih berdiri diam di sana.
"Bara! Tangkap Liora! Tangkap!" teriak Gema.
Seolah tahu kalau Bara tidak akan melakukan apa yang Gema perintahkan, Liora hanya tersenyum miring saat berlari melewati Bara yang tetap dalam posisinya.
Gema menatap suaminya tidak percaya. Saat Ansel sudah berlari ke dalam rumah, Gema berhenti tepat di hadapan Bara. Napasnya tersengal namun matanya menyipit kesal. "Kamu nggak dengar, ya, aku bilang apa?!" omel Gema.
"Dengar."
"Terus kenapa diam aja? Aku kan udah bilang, tangkap Liora. Anaknya jadi kabur lagi, kan!"
Bara mengernyit malas. "Kamu udah tua, Gem. Ngapain masih main kejar-kejaran sama Liora?" telapak tangannya merapikan helai rambut Gema yang berantakan, lalu mengusap peluh di dahi istrinya.
"Siapa juga yang main kejar-kejaran." Suara Gema masih terdengar kesal. "Tadi aku sama Ansel lagi susun lego. Kita udah hampir selesai, tapi Liora malah berantakin semuanya. Liora tuh beneran titisan Kak Alma. Nyebelin."
Bukannya merasa iba, Bara justru menahan tawa. Keponakannya yang satu itu memang sering kali membuat keributan. Tapi anehnya, jika sedang kumpul keluarga dan Liora tidak ada, mereka justru merasa terlalu sepi.
"Susah memangnya?"
"Hah?"
"Legonya."
Gema menipiskan bibir. Kebiasaan si Tuan muda yang sering kali bicara tak jelas ini entah kapan bisa menghilang. "Susah lah, aku sama Ansel aja sampai menghabiskan waktu tiga jam."
"Susah nyusunnya, atau memang kamu yang bego?"
Gema tertawa hambar, lalu kakinya menendang tulang kering Bara sampai suaminya itu mengaduh kesakitan. "Rasain!" rutuk Gema yang setelah itu berlalu pergi meninggalkan Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unstoppable 3
RomanceSetelah dua tahun hidup tanpa tujuan, pasca perceraian yang telah membuat hidup Bara hancur berantakan, dia kembali bertemu Gema, sang mantan istri yang sempat menghilang. Sejak awal, meski mengabulkan permintaan Gema untuk bercerai, namun Bara tida...
