Chapter 74

23 0 0
                                        

Setelah beberapa hari mengumpulkan berkas-berkas sebagai bukti tidak bersalahnya Reynand, Bima pun segera mengutus Juna untuk menyerahkannya langsung kepada Aline.

Bima tahu bahwa Reynand sengaja difitnah oleh papanya sendiri karena ada sesuatu yang sedang diincar oleh papanya itu.

Sepertinya Bima mulai tahu bahwa apa yang dilakukan oleh keluarganya selama ini jika ingin mendapatkan sesuatu, maka mereka akan melakukannya dengan segala cara apapun tanpa memperdulikan kerugian orang lain. Hal itu yang paling tidak Bima sukai.

"Gimana kabar dia ?" Tanya Bima.

"Masih dikediaman pak Arvin, pak."

"Ya sudah. Terus awasi dia."

"Baik pak."

Segera Juna menghubungi anak buahnya yang selalu mengawasi keberadaan Naiara. Meski dari dulu Naiara tidak suka diikuti, tapi mau bagaimana lagi. Hanya dengan cara seperti itu baru bisa membuat Bima bekerja dengan tenang.

***

Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu dari luar kamar Naiara.

Sunyi.

Tak ada jawaban sama sekali dari dalam.

Lalu diketukanya sekali lagi.

Hasilnya tetap sama. Sunyi dan senyap.

Karena merasa khawatir, Arvin pun segera membukanya.

Setelah dilihatnya, kamar sudah kosong dan rapi. Seolah tak ada yang menempati kamar itu.

Sudah berapa lama gadis itu pergi, Arvin sendiri tidak menyadarinya.

Salahkan dirinya yang tidak mengecek keadaan gadis itu. Pikirnya, gadis itu masih perlu waktu untuk menenangkan pikirannya, sehingga tidak berani untuk menemuinya.

Untuk itu, segera Arvin mengambil kunci mobilnya.

Mobil pun meluncur ke jalanan raya dengan kecepatan maksimal. Siapa tahu gadis itu masih belum jauh meninggalkan rumah.

Sepertinya, memang pada dasarnya gadis itu tidak sah jika tidak membuat orang lain mengkhawatirkannya.

***

Seorang pria tampak berkelahi melawan beberapa orang berpakaian serba hitam. Mereka seolah tak ada habisnya menyerang pria itu sendirian.

Namun, ketika sisa satu orang lagi yang hendak dikalahkannya, tiba-tiba dari belakangnya seseorang yang sudah dikalahkannya tadi kembali berdiri dan memukul bagian kepalanya menggunakan besi panjang.

Tubuh pria itu pun langsung roboh. Kepalanya begitu pusing. Sehingga orang-orang itu memiliki kesempatan untuk kembali memukulinya sampai babak belur dan tidak berdaya lagi. Barulah mereka meninggalkannya begitu saja dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Sekarang lo udah gak berguna lagi bagi bos besar. Makanya jangan sok baik kalo udah dasarnya jahat ya jahat aja." Ucapnya pada pria yang setengah sadar itu.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan padanya ? Apa kita serahkan langsung ke bos besar ?"

"Gak perlu. Bos besar udah gak perduli mau dia hidup atau mati."

Lalu segera pergi dari tempat itu. Ia merasa puas karena sudah tidak ada lagi saingannya dan akan menjadi satu-satunya ketua bodyguard untuk bos besarnya.

 Ia merasa puas karena sudah tidak ada lagi saingannya dan akan menjadi satu-satunya ketua bodyguard untuk bos besarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang