Chapter 88

6 0 0
                                        

Beberapa mobil tiba di kediaman Ganendra. Para bodyguard yang mengenakan pakaian serba jas hitam itu segera turun dari mobil mereka masing-masing mendampingi bos mereka untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

Rumah yang begitu besar bak istana itu tampak dijaga sangat ketat oleh para bodyguard sang pemilik rumah.

"Tuan muda.. Akhirnya tuan muda pulang juga." Ucap salah satu bodyguard penjaga rumah itu sambil menyambutnya.

"Papa dimana ? Aku mau ketemu !" Memaksa masuk begitu saja.

"Maaf tuan muda, tapi papa tuan muda sedang tidak bisa diganggu." Mencoba untuk mengahalangi langkahnya.

"PA.. KELUAR ! AKU MAU BICARA SAMA PAPA !"

Beberapa bodyguard mencoba untuk menghalangi pria itu, tapi pria itu tidak memperdulikan mereka dan langsung naik begitu saja ke lantai atas.

Dari wajahnya saja sudah terlihat jelas bahwa ia sedang marah besar terhadap papanya itu.

BRAKK !!

Pintu ruang kerja Raymond pun terbuka lebar.

Tapi Raymond tak sedikitpun bergerak dari meja kerjanya. Hanya bersikap acuh seoalah tak merasa bersalah sedikitpun terhadap putranya itu.

 Hanya bersikap acuh seoalah tak merasa bersalah sedikitpun terhadap putranya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bima Putra Ganendra.

Dengan wajah emosinya itu, Bima pun langsung meluapkan semua amarahnya yang sudah ditahannya selama beberapa hari yang lalu. Ia sudah tidak mampu lagi untuk menahannya. Sudah terlalu banyak pertanyaan yang ada dibenaknya yang ingin diketahuinya.

"Aku gak habis pikir sama jalan pikiran papa.. Bisa-bisanya papa mempermainkan aku cuma tuk dapatin apa yang papa mau ! Bahkan yang aku gak habis pikir lagi, bisa-bisanya papa mau membahayakan Naiara didepan aku ! Pa, papa mau buat aku melawan papa ?"

"Sudah papa duga kamu pasti akan ngebela anak itu daripada papa kamu sendiri."

"Pa, Naiara itu manusia pa.. Dia punya nyawa. Papa mau main-main sama nyawa orang ?"

"Buktinya dia gapapa kan ? Masih hidup kan ? Gak usah terlalu berlebihan, Bima. Dia bukan siapa-siapa. Dia gak pantas buat kamu ! Bisanya cuma jadi beban kamu aja."

"Kalo sampai Naiara kenapa-kenapa lagi.. Gak akan aku biarkan siapapun tuk lolos dari aku ! Termasuk papa !"

"Liat kan ? Gara-gara pengaruh buruk dari anak itu, kamu mulai menentang papa kamu sendiri."

"Karna papa selalu bertindak sendiri tanpa pernah nanya sedikitpun pendapat aku !__Papa pikir aku gak tau, kemana hilangnya para pekerja tambang itu ?"

"Apa maksud kamu ?"

"Menurut papa ?" Sambil memperlihatkan berkas yang dikeluarkannya dari dalam jasnya.

"Kamu.. !"

"Kalo sampai kakek tau soal pekerja itu.. Berapa banyak kerugian yang udah papa sembunyiin dibelakang kakek.."

RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang