Chapter 83

8 0 5
                                        

Setelah mengganti baju dan mengisi perutnya, Naiara kembali berpikir. Mencari cara agar bisa kabur dari kamar itu. Ia harus menemui jaksa kepercayaannya, yang selama ini sudah membantunya untuk mengumpulkan bukti-bukti tentang ketidakbersalahan papanya Arvin.

Tapi bagaimana caranya, ia masih memikirkannya. Karena ponselnya disita oleh sang mama.

"Oh iya, gelang.. Bima pernah ngasih gelang. Pasti dia nyimpan tanda pelacak deh."

Tapi ketika dilihatnya, gelang itu tidak ada.

"Hah, gelang aku.. Gelang aku kemana ?"

Ia panik melihat gelang ditangannya sudah tidak ada.

"Duuh.. Gimana nih ? Jangan-jangan jatoh di tempat itu lagi. Kalo mereka gunain itu buat mancing Bima gimana ?" Ia stress memikirkannya. Takut hal itu benar-benar terjadi. Sama saja ia akan membuat Bima celaka karenanya.

Ia pun kembali berpikir keras. Selama ide-ide itu masih ada, ia tidak boleh nyerah.

Lalu mencari-cari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membuka pintu kamarnya.

Begitu berhasil membuka kuncinya, perlahan ia membuka pintunya.

Ternyata benar saja. Dua orang sedang berjaga di depan pintu kamarnya.

Kebetulan gadis itu kan bisa bela diri. Untuk itu ia membuat satu persatu bodyguard mamanya pingsan.

Maafin aku ya ma. Aku harus pergi dari perlindungan mama.

Namun, ketika sudah hampir tiba di pintu samping. Ia malah ketahuan oleh Arion.

Sempat mereka berkelahi. Meski yang menang tetaplah si Arion.

Tapi gadis itu tidak menyerah. Ia pun menggunakan pisau yang dipegangnya lalu diletakkannya dilehernya sendiri. Untuk mengancam Arion agar mau membiarkannya pergi.

"Naiara.. Kamu.."

"Biarin aku pergi dari sini atau kamu mau bertanggung jawab atas kematian aku disini ?"

"Kamu.. Kita bisa bicarain ini baik-baik. Kalo kamu mau pergi, saya bantu kamu buat bicara sama bos."

"Kalo bicara baik-baik, gak perlu pake dikurung kan ?"

"Oke.. Oke.. Saya bantu kamu, tapi kamu harus lepasin dulu pisau itu."

"Nggak ! Aku gak percaya siapapun lagi !" Semakin kuat Naiara meletakkan pisaunya, sehingga keluar darah dari lehernya.

"Oke.. Saya bantu kamu keluar dari sini."

Mau tidak mau, Arion pun membantu Naiara keluar tanpa ketahuan oleh bodyguard yang lainnya. Ia sudah tidak memikirkan lagi resikonya jika bosnya mengetahuinya. Yang terpenting gadis itu tidak melukai dirinya sendiri seperti itu.

***

Setelah berhasil kabur dari kawasan Cindy, tempat pertama kali yang dihampirinya adalah rumah persembunyian papanya. Tempat ia menyembunyikan mamanya Bima.

Ia sangat khawatir akan keadaan tante Deana setelah begitu lama ditinggalkannya.

"Tante.."

Deana yang sedang termenung memandangi jendela pun kaget dan langsung menoleh ke arah gadis itu.

"Anak mama.." Langsung berlari memeluknya. "Kamu kemana aja ? Kenapa ninggalin mama sendirian disini ?"

"Maafin Naiara ya, tante.. Sekarang Naiara mau bawa tante pergi dari sini. Tante mau kan ?"

Deana mengangguk. "Mama ikut kemanapun anak mama bawa mama pergi. Yang penting ada kamu disisi mama."

"Yuk.."

RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang