Chapter 89

7 0 0
                                        

Karena setiap detak jantung kamu itu adalah detik berharga buat aku.

Naiara yang ditinggal sendirian diruangannya mulai merasa jenuh. Lalu ia pun memanggil suster untuk membawakannya sebuah kursi roda. Ia ingin menjenguk Arvin.

Meski dokter menyarankannya untuk tidak terlalu banyak gerak dulu, tapi ia tidak bisa hanya berdiam ditempat tidurnya saja.

TOK.. TOKK..

Setelah mengetuk pintu. Suster pun membukakan pintu ruangan Arvin sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Naiara masuk ke dalam ruangan itu.

Di dalam ruangan tidak ada siapa-siapa. Sepertinya yang sedang menjaga Arvin sedang keluar.

"Suster kalo mau lanjut kerja, gapapa lanjut aja. Nanti kalo saya perlu suster, saya panggil lagi."

"Baik mbak. Tapi jangan banyak gerak dulu ya mbak. Nanti saya yang dimarah dokter lho mbak."

Naiara mengangguk.

Beberapa bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga ruangan mereka berdua masih berjaga di depan ruangan. Mereka tidak berani untuk membawa Naiara keluar, karena Bima melarangnya. Sehingga Naiara meminta perawat untuk membawanya keluar.

Tampak Arvin masih tertidur dengan ditangannya masih terpasang alat pendeteksi jantung dan alat infus.

Naiara memandangi wajah pria itu dengan lekat. Lalu meraih tangannya.

"Kamu tau.. Kamu itu cowok terbodoh yang pernah aku temui, Vin. Kenapa ? Karna ini yang kedua kalinya kamu ngorbanin diri kamu buat nyelamatin orang yang udah nyakitin kamu berkali-kali."

"Kamu bilang gak mempermasalahin ini semua karna kamu perduli sama aku. Tapi Vin.. Cara kamu memperlakukan aku yang seperti ini malah buat aku semakin merasa bersalah. Lantas, bagaimana aku bisa membalas perasaan kamu, kalo semuanya didasari rasa bersalah seperti ini ?"

Tak ada jawaban apapun. Masih sama seperti tadi, sunyi. Hanya terdengar suara monitor pendeteksi jantung dari sang pasien.

"Kata perawat.. Sejak selesai dioperasi kemarin, kamu juga belum kunjung sadar. Sebernarnya, seberapa parah luka yang kamu alami ? Sampai saat ini kamu juga belum mau bangun dari tidur kamu."

"Apa kamu sengaja, supaya aku jenguk kamu dulu baru kamu mau bangun dari tidur kamu ?"

"Vin.. Jangan buat aku semakin merasa bersalah seperti ini ke kamu. Please.." Perlahan air mata Naiara menetes. Ntah kenapa, ia merasakan hal yang begitu sedih ketika menatap wajah pria itu.

Bukannya mereda, tapi malah membuatnya semakin menangis tersedu-sedu. Hingga menundukkan kepalanya, takut akan dilihat oleh perawat jika masuk ke dalam ruangan itu.

Namun, seketika sebuah tangan perlahan mendekati wajahnya. Lalu menyentuhnya dengan lembut.

Naiara pun kaget. Ia segera mendongakkan kembali kepalanya dan melihat seorang pria yang ditunggunya untuk membuka matanya kini ternyata benar-benar sudah sadar.

Maka, semakin pecah tangisan Naiara ketika pria itu menatapnya.

"Jangan nangis.." Kembali memegang wajah Naiara sambil menghapus air matanya.

"Vin.. Kalo kamu gak mau liat aku nangis kayak gini.. Aku mohon sama kamu, jangan lakuin hal bodoh kayak gini lagi. Karena setiap detak jantung kamu itu adalah detik berharga buat aku."

"Maafin aku udah buat kamu khawatir lagi.__Meskipun kamu gak minta, aku juga bakalan tetap ngelindungi kamu."

"Tapi Vin.."

RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang