Sikapmu seakan-akan menyuruh diriku pergi
Tapi perkataanmu seolah aku penting bagimu
Sebenarnya aku siapa, tak dianggap tapi ada
Bersamamu ku terluka
Melepaskanmu aku lebih terluka
Arvin yang masih mencari keberadaan Naiara, tanpa sengaja melihat gadis itu ketika berhenti di lampu merah.
Dari kejauhan, tampak gadis itu sedang termenung dari dalam mobil.
Maka, tanpa ditunda-tundanya lagi Arvin pun mencari jalan lain yang bisa memutar balik mobilnya dengan cepat untuk menghampiri mobil itu.
Akhirnya aku menemukan kamu, Naiara.
Wajahnya tampak begitu senang ketika mendekati mobil itu.
Syukurlah kamu baik-baik aja.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Arvin mencoba mengetuk kaca mobil disamping Naiara duduk.
"Nai.. Naiara.."
Naiara yang dihampiri Arvin pun kaget. Ia tidak menyangka pria itu bisa menemukannya.
"Arvin.. ?" Mau tidak mau, ia pun turun menemuinya.
"Naiara.." Langsung memeluknya begitu saja. "Syukurlah kamu baik-baik aja.__Aku khawatir banget waktu kamu pergi dari rumah."
Naiara tidak membalas pelukan Arvin. Ia malah langsung melepaskan pelukan pria itu. Seolah tidak ingin berlama-lama dipeluk olehnya.
Arvin terheran. Seperti ada yang berbeda dari diri gadis itu. Dilihat dari sorot matanya juga tampak sembab, seolah lepas menangis.
"Maafin aku yang selalu buat kamu khawatir terus."
"Ya udah, kalo kamu gak mau buat aku khawatir lagi.. Ayo kita pulang." Bujuknya. Ia sudah sadar karena jika terlalu keras memaksanya lagi, akan sulit bagi gadis itu untuk luluh.
Kalo aku ikut Arvin pulang, pasti aku gak bakalan bisa buat ngebalasin dendamnya Atifa.
Arvin tidak ingin membicarakan soal kehilangan Atifa pada gadis itu terlebih dahulu. Sudah pasti gadis itu akan khawatir dan nekat kabur lagi nantinya.
Namun, ketika Arvin hendak menarik lengan gadis itu, gadis itu seolah enggan untuk melangkahkan kakinya.
"Ada apa ?"
Maafin aku, Vin. Masalah aku semakin serius. Aku gak mau ngelibatin kamu ke dalam bahaya lagi.
Aku udah gagal jaga Atifa. Aku gak mau kamu kehilangan kamu juga.
"Aku gak bisa pulang sama kamu."
"Kenapa ?__Oh ya, kamu sama siapa ? Ini mobil siapa ?"
Nesya tidak ikut turun. Arvin yang mencegahnya. Jika turun, sudah pasti gadis itu akan adu argumen lagi dengan Naiara.
Bisa-bisa gagal untuk membujuk Naiara pulang.
Sementara Arion yang baru keluar dari mini market, segera menghampiri Naiara. Karena penasaran akan mereka berdua.
"Ada apa ?" Tanya Arion pada Naiara. "Kalian saling kenal ?"
"Gue Arvin." Mengunjukkan tangannya untuk berkenalan dengan Arion.
"Arion." Balasanya.
"Temannya Naiara juga ?" Tanya Arvin penasaran.
"Oh, bukan. Tadi saya..."
Belum sempat Arion menyelesaikan pembicaraannya, Naiara sudah lebih dulu memotongnya. Ia tidak mau membuat Arvin mengkhawatirkannya jika tau yang sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Fiksi Remaja"Oyy.. ! Lo manusia apa bukan ?" Teriak seseorang yang tidak jauh dari belakangnya. Dengan cepat, Naiara menghapus air matanya. Seseorang itu pun mendekati Naiara. Ia tidak terlihat seperti dalam kondisi sadar sepenuhnya. "Ooh, ternyata lo manusia."...
