Seorang laki-laki yang tidak bisa menghabiskan waktunya bersama keluarganya, belum bisa disebut laki-laki sejati.
-Don Vito Corleone
Alicia terburu-buru menghampiri Nesya yang sedang makan siang di kantin kampus. Lebih jelasnya lagi bukan seperti kantin biasa, melainkan seperti sebuah restoran mewah.
Universitasnya saja pemilik dari perusahaan ternama, jadi fasilitas-fasilitas yang terdapat di kampus itu juga serba mewah.
"Nes, gawat Nes.."
"Gawat ? Gawat kenapa ?"
"Dekan manggil lo."
"Ooh.. Kirain gue ada apa." Nesya masih menyikapi respon Alicia dengan santai. "Santai. Gak usah tegang gitu."
"Gue takut aja, lo kena masalah."
Nesya tertawa geli. "Ya elah Al.. Ya nggak mungkin lah. Nyokap gue kan juga sebagian donatur di kampus kita. Jadi mana mungkin gue dipanggil karna buat masalah."
Dengan sangat percaya dirinya, Nesya pergi ke ruang dekan, diikuti Alicia.
***
Jam kuliah Arvin sudah berakhir. Para mahasiswa dan mahasiswi berkeluaran dari ruangan mereka. Sebagian ada yang langsung pulang dan sebagian lagi masih berada di sekitaran kampus menyelesaikan tugas mereka.
Arvin mencari keberadaan Naiara. Dilihatnya dari kejauhan, gadis itu sedang melihat-lihat Mading kampus.
Ia tersenyum lega, lalu menghampirinya.
"Kenapa nggak coba daftar di kampus ini, sih ?"
Naiara menoleh kaget ke arah Arvin. "Aku kuliahnya LDR-an."
"LDR-an ?" Arvin tertawa geli. "Kayak hubungan aja pakek LDR-an segala."
Naiara tersenyum. "Dulu aku pernah kuliah secara normal seperti kalian. Tapi semenjak orang-orang tau kalau aku calon menantu dari keluarga Ganendra, jadi aku gak diizinin lagi tuk kuliah secara normal."
"Berarti kuliah online, dong ?"
"Hm."
"Universitas mana ?"
"President University."
Arvin sangat kaget mendengarnya. "Jadi, lo mahasiswi sini juga ?"
Naiara mengangguk.
"Fakultas apa ?"
"Hukum."
Arvin mengangguk-angguk. "Keren.. Pantesan aja.."
"Kenapa ?"
"Lo bisa ngebungkam mulutnya si Nesya yang udah ngeremehin lo tadi."
Naiara tertawa. "Apaan sih. Garing banget."
"Garing. Tapi ketawa juga." Arvin juga ikut tertawa.
Di tengah melanjutkan perjalanannya, mereka berdua melihat seorang gadis yang mereka kenali sedang memunguti sampah-sampah dan ada seorang dosen yang mengawasinya.
"Itu konsekuensinya kalo ada mahasiswa maupun mahasiswinya berlaku buruk kepada orang lain di sekitaran kampus."
Dengan wajah terpaksa, Nesya melakukannya. Jari jemarinya tampak jijik untuk mengambil sampah-sampah yang ada di sekitarnya.
"Saya harap, jangan bikin malu nama universitas ini lagi."
"Iya pak."
Arvin dan Naiara tertawa melihatnya. Mereka segera pergi dari tempat itu menuju parkiran mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Teen Fiction"Oyy.. ! Lo manusia apa bukan ?" Teriak seseorang yang tidak jauh dari belakangnya. Dengan cepat, Naiara menghapus air matanya. Seseorang itu pun mendekati Naiara. Ia tidak terlihat seperti dalam kondisi sadar sepenuhnya. "Ooh, ternyata lo manusia."...
