Chapter 86

4 0 0
                                        

"Aruna, tolong kamu hubungi Naiara." Ucap jaksa Mark sambil fokus mengemudi.

"Baik pak."

Segera mengeluarkan ponselnya. Mencari kontak Naiara.

Namun, setelah beberapa panggilan dilakukan oleh Aruna. Tak ada jawaban sama sekali dari gadis itu.

"Gimana ?"

"Aktif. Tapi gak diangkat pak."

"Coba sekali lagi."

Sekali lagi Aruna mencoba untuk menghubungi nomor itu.

"Hallo.."

Terdengar suara seorang pria dikejauhan sana yang mengangkat panggilannya.

"Apa benar, ini dengan nomornya mbak Naiara ?"

"Iya benar. Ada apa ya ?"

"Saya Aruna, asistennya jaksa Mark. Apa saya bisa bicara dengan mbak Naiara ?"

"Maaf, sepertinya tidak bisa. Karena sekarang dia lagi di rumah sakit. Kondisinya masih belum sadar."

Mendengar pria itu menjelaskannya, Aruna pun mengeraskan suara panggilannya agar jaksa Mark juga mendengarnya.

"Apa kami boleh ke sana ?" Tanya Aruna.

"Iya, silahkan."

"Baik, terimakasih."

Mobil yang dikendarai jaksa Mark pun melaju dengan kecepatan maksimal. Selagi jalanan raya tidak begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang.

***

Di ruang operasi, dua pasien sedang ditangani beberapa perawat dan dokter. Keduanya terbaring lemah tak sadarkan diri dan sedang berada diambang kematian. Saling mempertaruhkan nyawanya agar terselamatkan dari luka yang membahayakan nyawa mereka.

Sementara di ruang tunggu, tampak wajah-wajah gelisah, khawatir, cemas, dan panik dari orang-orang yang sedang menunggu kabar dari kedua pasien itu.

Arion masih belum menghubungi Cindy. Ia tidak mau membuat bosnya itu khawatir. Bisa double kena marah jika ia tidak menjaga putri bosnya itu dengan baik.

Salah satu perawat berlari begitu cepat dengan membawa sebuah box darah masuk ke dalam ruang operasi.

Seseaat, ruang operasi terbuka kecil. Salah satu perawat mengatakan bahwa stock darah untuk pasien yang bernama Naiara tidak ada di bank darah. Karena darahnya sangat langka.

Mendengar itu, membuat Bima semakin cemas dan khawatir. Karena setahunya, golongan darah Naiara sangat mudah didapatkan.

"Bagaimana bisa, sus ? Bukannya, golongan darahnya O+ ya ?"

"Bukan. Tapi O Rh-negatif."

"Apa ?" Betapa kagetnya Bima mendengarnya.

"Iya. Dan kami tidak memiliki stok darah itu di rumah sakit ini. Apakah salah satu dari kalian keluarganya pasien ? Karena hanya keturunannya langsung yang memiliki darah yang sama dengannya."

"Sebentar, biar saya hubungi orangtuanya dulu." Arion sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi bosnya itu, tapi Bima sudah lebih dulu mengajukan dirinya untuk donor.

"Pakai darah saya aja, sus. Darah saya sama dengan dia."

"Ya sudah. Mari ikut saya. Kita chek dulu."

"Suster, sebentar.." Cegah Aline. "Adik saya gimana, sus. Gimana keadaannya ?"

"Masih ditangani dokter. Tadi pasien sempat mengalami kehilangan banyak darah. Untungnya saja, stok darahnya masih ada di bank darah. Sehingga kondisi pasien sudah mulai stabil. Jadi mbak tenang saja."

RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang