"Oyy.. ! Lo manusia apa bukan ?" Teriak seseorang yang tidak jauh dari belakangnya.
Dengan cepat, Naiara menghapus air matanya.
Seseorang itu pun mendekati Naiara. Ia tidak terlihat seperti dalam kondisi sadar sepenuhnya.
"Ooh, ternyata lo manusia."...
Kalo kita ngejaga perasaan orang lain terus, lalu mau sampai kapan orang lain juga baru bisa memahami maksud dari penyampaian kita ?
Akibat ulahnya Arion yang tiba-tiba menyerang tempat itu, membuat emosi Aldrich semakin memanas. Betapa tidak habis pikirnya ia, disana dipenuhi para anak buahnya tapi tetap saja musuhnya itu berhasil menemukan lokasi tersebut.
Hingga menyebabkan kerugin yang begitu besar. Bahkan, para kliennya Aldrich meminta ganti rugi atas hancurnya alat-alat yang mereka berikan saat itu.
Untuk itu Aldrich segera memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Ia langsung menghubungi putranya untuk menangani masalah itu.
"Satria.. Dimana anak itu ? Suruh dia kembali. Cepat !" Ucap Aldrich kepada beberapa anak buahnya.
Namun, ketika mereka hendak menghubungi Satria, Aldrich malah mendapatkan kabar bahwa anak buah kepercayaannya itu sedang mencari informasi tentang keluarganya.
Bukannya panik, tapi Aldrich hanya biasa saja. Pikirnya, Satria tidak akan berani bertindak padanya. Karena selama ini ia lah yang membesarkan pria itu.
***
Tampak seorang pria sedang memperhatikan rumah lamanya dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat, belum siap untuk bertemu secara langsung dengan sang pemilik rumah.
, tanpa sengaja sang pemilik rumah yang baru kembali dari berbelanja malah memergokinya. Karena terlihat seperti sedang memata-matai rumah itu.
Ketika pria itu membalikkan tubuhnya, sontak saja wanita itu terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Matanya sudah berkaca-kaca saat melihat keberadaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Erina Dulce.
Mata yang indah itu, wajah itu, dan bibir itu, bagaimana bisa Erina melupakannya begitu saja. Mau seberapa lama pun mereka terpisahkan, yang namanya naluri seorang ibu tidak pernah salah dalam mengenali anaknya.
"Sa-sartria.." Sambil memegangi tubuh putranya yang kini sudah lebih tinggi darinya.
Dulu ketika mereka berpisah, Satria masih sangat kecil. Masih belum bisa membedakan benar dan salah. Hanya mengikut saja disaat Aldrich membawanya pergi.
"Ini.. Ini benar Satria anak mama, kan ?" Air matanya tiada hentinya menetes. Tangis haru karena akhirnya ia bisa bertemu dengan putra satu-satunyanya itu. Karena ketika keluarga mereka diserang oleh para anak buahnya Aldrich dulu, pikirnya putranya itu tidak akan selamat.
Nyatanya. Putranya kembali dalam keadaan utuh dan sehat bahkan sudah lebih tinggi dan tampan. Wajahnya persis seperti almarhum papanya.
"I-iya ma. Ini benar Satria." Ia juga menggenggam erat tangan sang mama, lalu memeluknya erat.