41/41

3K 136 19
                                        

Joanna menatap Jeffrey dengan nyalang. Kedua tangannya mengepal dan bersiap mengayunkan pukulan. Karena dia jelas tidak terima akan fakta yang baru saja didengar. Tentang suaminya yang telah memiliki anak dengan wanita di masa lalunya.

"Sayang, aku bisa jelaskan. Aku juga baru tahu kemarin. Aku tidak berniat menyembunyikan ini. Semalam kamu langsung tidur, jadi aku tidak sempat memberi tahu. Aku juga panik, aku terkejut akan—"

"Tutup mulutmu! Aku tidak butuh segala pembelaanmu! Intinya Kevin yang sedang berada di depan adalah anakmu! Dia ingin aku pergi dari hidupmu agar ibu kandungnya bisa menikah denganmu!"

Jeffrey yang mendengar itu jelas terkejut. Karena Kevin tidak mungkin berani berkata seperti itu. Mengingat semalam, mereka sudah sepakat untuk hidup masing-masing sementara. Karena menurut rencana, dia ingin membawa Kevin untuk tinggal bersama istrinya. Tanpa Rena.

"Kevin berkata seperti itu? Tidak, Sayang! Aku tidak pernah menjanjikan hal itu! Aku tidak mungkin meninggalkan kamu demi wanita itu! Aku hanya mau kamu! Aku tidak mungkin bercerai denganmu!" Jeffrey jelas panik. Dia tidak memprediksi jika akan ketahuan secepat ini. Karena dia belum menyiapkan apapun untuk membela diri. Untuk meyakinkan istrinya jika pernikahan ini masih layak dipertahankan lagi.

"Aku tidak tahu harus berbicara seperti apa lagi Jeffrey. Jelas ini mengecewakan sekali. Untuk itu aku ingin sendiri, sebelum memutuskan akan melakukan apa nanti."

Joanna mulai menyeka air mata. Lalu mengemasi beberapa barang ke dalam koper hitam. Membuat Jeffrey hanya bisa pasrah. Karena dia pun berpikir demikian, akan lebih baik jika Joanna menenangkan diri sebentar. Jangan sampai dia membuat keputusan dalam keadaan kepala panas seperti sekarang.

"Aku setuju, akan aku antar kamu ke manapun kamu mau menenangkan diri tanpaku." Jeffrey mulai masuk kamar mandi. Berniat membersihkan diri.

Dia tidak mandi, hanya mencuci wajah dan menggosok gigi. Lalu memakai baju ganti dengan kaos hitam dan jeans warna navy. Sebab dia tidak ingin Joanna pergi sendiri dan berpikir jika dirinya tidak peduli.

"Aku bawakan!"

Jeffrey mengambil alih koper hitam yang baru saja akan Joanna bawa keluar kamar. Wanita itu sudah tidak menangis sekarang. Namun raut wajahnya masih tegang seperti sebelumnya. Seolah takut bertemu Kevin yang masih berada di bawah.

"Aku carikan hotel—"

"Aku bisa cari sendiri. Aku juga bisa pergi sendiri. Lebih baik kamu urus anakmu ini!" Joanna merebut koper yang Jeffrey pegang tadi saat mereka tiba di lantai dasar. Di sana masih ada Kevin yang datang sendirian. Dengan koper besar di sisi kanan badan.

"Kevin? Apa yang sudah kamu bicarakan pada istri Papa tadi? Bukankah semalam kita sudah sepakat untuk—"

"Aku hanya bercanda, Pa. Dia saja yang berlebihan menanggapi ucapanku sebelumnya."

"Lalu kenapa kamu datang dan memberi tahu tentang hal ini sekarang? Bukankah semalam Papa sudah memintamu untuk bersabar?"

"Sorry, Pa. Aku bertengkar dengan Mama, jadi aku memutuskan pergi dari rumah. Papa mau aku pergi ke jalan? Papa tahu sendiri kalau aku tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali—"

"Aku pergi!" Joanna menarik kopernya pergi. Meninggalkan Jeffrey dan Kevin yang masih ingin berdebat saat ini. Karena masih ada banyak hal yang ingin Jeffrey tanyakan lagi pada si anak yang sudah datang ke rumah pagi-pagi.

"Kamu hutang banyak penjelasan ke Papa!"

Kevin mengangguk cepat. Dia juga tersenyum lebar karena merasa menang. Sebab misinya sekarang adalah untuk menyingkirkan Joanna dan menggantikan wanita itu dengan ibunya. Sehingga dia harus bertindak berani seperti sekarang. Tidak peduli jika akan mendapat amukan di belakang.

"Jadinya mau menginap di mana? Aku antar!"

Jeffrey membuka minta mobil. Namun Joanna justru melewati. Sembari memainkan ponsel karena ingin memesan taksi.

"Sayang..."

"Aku butuh waktu sendiri Jeffrey! Jangan membuatku semakin kesal lagi! Lebih baik kamu urus saja Kevin!"

Jeffrey tentu tidak berdiam diri. Dia mengekori Joanna yang kini sudah mendapat taksi. Namun dia harus menunggu beberapa menit lagi.

"Aku benar-benar minta maaf karena sudah mengecewakanmu. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menebus kesalahanku. Aku bingung, aku tidak menyangka jika Kevin adalah anakku."

Joanna mengabaikan ucapan Jeffrey. Dia masih menatap ponselnya saat ini. Guna mentracking posisi taksi yang akan tiba sebentar lagi.

"Sayang..."

"Aku tidak bisa berkomentar banyak saat ini Jeffrey. Karena jika aku sudah bereaksi, maka perpisahan yang akan terjadi. Aku tahu jika kita sama-sama tidak menginginkan ini. Jadi tolong, biarkan aku sendiri. Aku butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Aku tidak selapang dada itu sampai bisa menerima Kevin secepat ini."

"Maaf. "

Joanna tidak mengatakan apa-apa. Saat taksi datang, Jeffrey langsung memasukkan koper pada bagasi tanpa diminta. Sebagai tanda jika hubungan mereka masih baik-baik saja dan dia mengizinkan istrinya mengambil banyak ruang untuk menyendiri sekarang.

"Kabari kalau butuh sesuatu, ya?"

Joanna tidak merespon apa-apa. Dia bahkan menjauhkan diri saat Jeffrey ingin mengecup pipinya. Sehingga si pria malu tentu saja. Karena interaksi mereka diamati oleh supir taksi di depan.

Setelah melepas kepergian Joanna, Jeffrey kembali memasuki rumah. Guna berbicara pada anaknya. Karena dia adalah alasan kepergian Joanna.

"Kevin, kita perlu bicara!"

Kevin yang sedang memakan es krim di depan kulkas mulai mendekat. Berdiri di depan ayahnya yang kini sudah berkacak pinggang. Dengan raut serius tentu saja.

"Papa tidak habis pikir akan apa yang kamu lakukan hari ini! Seharusnya Papa bisa memberi tahu dengan baik-baik, supaya dia tidak pergi. Tapi kamu justru merusak rencana ini. Kevin, kamu tahu kalau kamu sudah membuat masalah kali ini?"

"Tahu, Pa. Untuk itu aku minta maaf. Sorry." Kevin tidak lagi menjilat es krim. Membuat lelehan es krim mengenai tangan dan lantai ruangan ini.

"Papa antar kamu kembali ke rumah—"

"Pa, aku mau tinggal di sini saja. Dengan Papa. Toh, istri Papa sudah tahu juga. Kalau dia baik, dia pasti bisa menerima aku di rumah."

"Kevin—"

"Aku capek, Pa. Setiap hari aku harus bangun subuh kalau mau sekolah. Kalau Papa tidak mengizinkan aku tinggal di sini dengan Papa, kalau begitu aku mau ngekos saja."

Jeffrey baru saja tersadar jika selama ini Kevin harus berangkat sangat pagi jika akan sekolah. Mengingat jarak rumah orang tuanya dan rumah Lena sangat jauh dari kota. Sehingga jelas Kevin butuh waktu lebih lama untuk tiba di sekolah. Tidak seperti rumah ini yang hanya berjarak beberapa menit saja sampai sekolah.

"Baiklah, untuk sementara kamu tinggal di sini. Papa akan carikan asrama kalau ada, Papa belum tega membiarkan kamu ngekos sekarang."

Kevin tersenyum lega. Dia merasa senang. Karena akhirnya bisa tinggal bersama ayah kandungnya. Serta merealisasikan rencana sebelumnya.

Tbc…

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang