Air mata Joanna sudah membanjiri wajah. Kedua kakinya sudah mengangkang lebar di atas ranjang. Dengan kain jarik yang sudah membentang di atasnya. Karena saat ini, dia akan melakukan aborsi di rumah wanita tua yang alamatnya didapat dari sosial media.
Joanna benar-benar sudah hilang akal sekarang. Dia tidak peduli jika dirinya akan berakhir kehilangan nyawa karena telah melakukan aborsi di tempat yang tidak diriset lebih banyak. Karena dia benar-benar takut anaknya hidup menderita karena memiliki ibu seperti dirinya.
Keputusan ini sudah benar. Lebih baik aku yang menderita. Lebih baik aku yang dihukum Tuhan asal anakku tidak hidup menderita di dunia.
Batin Joanna dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dia ketakutan sekarang. Karena memang tidak ada siapapun yang tahu akan tindakan yang ingin dilakukan. Bahkan dia sudah mematikan ponselnya, agar Jeffrey tidak tahu di mana keberadaannya. Mengingat pria itu pernah ketahuan memasang GPS di ponselnya.
Mata Joanna terpejam. Berusaha menghalau air mata agar tidak terus keluar. Karena dia benar-benar ketakutan sebenarnya. Bahkan, kenangan saat kecil hingga dewasa terputar secara otomatis. Seolah pertanda jika dirinya akan segera mati.
Dengan susah payah, Joanna meraih ponsel yang ada di sampingnya. Dia hidupkan perlahan. Lalu memeriksa pesan masuk yang datang bertubi dari suaminya. Guna bertanya di mana keberadaannya.
Namun bukannya membalas, Joanna justru kembali mematikan benda pipih itu sedetik kemudian. Seolah tidak puas dengan rentetan pesan yang diketik suaminya. Karena tidak berhasil membuat dia berubah pikiran.
Aku yakin ini yang terbaik. Aku dan Jeffrey memang tidak layak mendapatkan anak ini.
Batin Joanna sekali lagi. Sebelum dirinya merasakan nyeri. Karena kegiatan aborsi baru saja dimulai tanpa disadari.
"Akhhh!"
Pekik Joanna sembari meremas sprei ranjang. Dia benar-benar merasa kesakitan. Hingga keringat bercucuran di pelipis dan leher juga.
Joanna tidak berani menatap ke arah bawah. Dia hanya menatap ke langit-langit kamar. Sembari membayangkan kisah hidupnya yang begitu berantakan. Karena banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan.
Rasa pusing juga mulai Joanna rasakan. Disusul dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Hingga membuatnya mau tidak mau harus mengalihkan pandangan.
Jeffrey. Itu yang Joanna lihat saat ini. Namun karena dirasa tidak mungkin, Joanna akhirnya hanya tersenyum tipis. Hingga kesadarannya berangsur-angsur hilang dalam sedetik.
"KURANG AJAR!" Pekik Jeffrey yang baru saja tiba di dalam ruangan. Setelah dibantu dua detektif yang disewa. Untuk melacak sinyal yang sempat terlihat sebentar dari ponsel si wanita.
Karena meski hanya sebentar, itu dapat memudahkan detektif untuk menemukan lokasi asli si wanita. Mengingat sebelumnya, mereka sudah berada di sekitar sana. Setelah menelusuri jalan yang Joanna lewati setelah mendatangi dokter kandungan.
Jeffrey akan menghajar wanita tua yang baru saja melakukan praktik aborsi pada istrinya. Hingga darah bercucuran di bawah ranjang. Namun usahanya segera dicegah oleh dua orang detektif yang datang bersamanya. Karena untuk sekarang, keselamatan Joanna yang utama. Sehingga wanita itu akan diurus oleh beberapa orang yang sudah berada di belakang.
"Tenang, Pak. Ambulan sudah di jalan. Istri dan anak anda akan selamat!" seru salah satu detektif dengan raut tegang. Dia berusaha menenangkan. Karena saat ini, kliennya tengah terguncang.
Jeffrey membeku di tempat. Dia tidak mengatakan apapun sekarang. Namun air matanya mulai membasahi wajah. Dengan tangan yang mulai terulur perlahan untuk menyentuh wajah istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)