Sudah satu minggu Joanna menginap di hotel. Dia juga tidak menghubungi Jeffrey. Karena pria itu adalah sumber kemarahannya kali ini.
"Paling tidak beri kabar, aku khawatir kamu tidak pulang selama satu minggu ke belakang."
Joanna terperanjat saat suara Jeffrey terdengar. Pria itu sudah duduk di depannya. Dengan setelan jas kerja. Karena ini masih jam delapan dan sedang tidak akhir pekan.
"Jadi bagaimana? Kamu sudah merasa lebih baik sekarang? Mau pulang dalam kurun waktu dekat?"
Joanna yang baru saja akan sarapan mulai menggeleng pelan. Dia yang sebelumnya lapar mulai merasa kenyang. Karena melihat wajah suaminya tiba-tiba.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Tapi aku tidak bisa pulang."
"Kenapa?" tanya Jeffrey dengan raut kecewa. Karena dia jelas sangat merindukan istrinya. Itu sebabnya dia rela mengeluarkan banyak uang untuk menyewa detektif swasta guna mencari keberadaan Joanna. Mengingat wanita itu begitu pandai menghilang tanpa jejak.
"Aku tidak mau pulang kalau masih ada anakmu di rumah."
"Joanna, Kevin anakku! Sejak lahir aku tidak ada untuk anak itu, apa salah jika sekarang aku ingin menebus dengan membawanya tinggal bersamaku?" Emosi Jeffrey tersulut. Karena dia memang sudah memutuskan agar Kevin ikut tinggal bersama mereka. Mengingat dia tidak menemukan asrama yang cocok untuk si anak.
"Tidak salah kalau tidak ada aku. Kamu pikir aku sebaik hati itu sampai mau mengurus anakmu? Apalagi dia sangat membenciku. Aku yakin, dia pasti sudah merencanakan sesuatu untuk mengusikku!"
"Kevin masih kecil. Dia tidak semenakutkan itu. Dia memang agak nakal, tapi aku yakin suatu saat nanti dia pasti bisa baik padamu."
Jeffrey mulai menyentuh kedua tangan istrinya. Dia berusaha bernegosiasi dengan Joanna. Berharap wanita itu luluh sekarang.
"Kalau tidak?"
Jeffrey diam sejenak. Karena tidak mengerti maksud Joanna. "Maksudnya?"
"Kalau dia tidak baik denganku setelah berjalannya waktu, apa yang akan kamu lakukan? Tetap mempertahankan kami dalam satu rumah meski dalam keadaan luka-luka? Atau kamu akan merelakan salah satunya demi menyelamatkan keduanya?"
Joanna menarik tangan. Dia juga mulai melipat tangan di depan dada. Sebab ingin menantang suaminya. Ingin pria itu meninjau ulang keputusannya untuk mempersatukan mereka di dalam satu rumah.
"Hubungan kalian tidak setegang itu. Kamu berlebihan dalam memandang hal itu. Kevin, aku yakin dia bisa berubah menjadi anak manis dalam seminggu. Aku sendiri yang akan mendidiknya agar tidak lagi membuat masalah denganmu."
"Satu minggu. Aku akan melihat bagaimana anak itu bersikap padaku. Jika dia masih mengusikku, aku akan angkat kaki dari rumahmu!"
Jeffrey menelan ludah. Dia mulai menciut sekarang. Karena mendadak meragukan ucapan yang sudah terlanjur dilontarkan. Padahal dia tahu sendiri setengil apa Kevin belakangan. Jelas sulit untuk merubahnya menjadi anak manis dalam waktu seminggu saja.
"Satu bulan. Bagaimana kalau satu bulan? Aku butuh waktu lebih lama untuk mendidiknya. Tahu sendiri anak yang baru beranjak remaja rebelnya seperti apa. Mereka suka memberontak dan—"
"Fine! Aku setuju. Tapi status pernikahan kita juga dipertaruhkan. Karena aku baru sadar jika kamu memang lebih ingin mempertahankan dia daripada aku sekarang."
"Joanna, bukan seperti itu! Aku hanya ingin bertanggungjawab pada anakku. Kamu istriku sekarang, jelas kamu lebih penting dari dia. Tapi aku juga tidak bisa menutup mata. Kevin butuh aku sekarang. Sekolahnya jauh dari rumah Mama dan Papa, aku kasihan jika dia harus siap-siap lebih awal dan pulang hampir malam. Aku sudah cari asrama, tapi tidak ada yang bagus. Kalaupun ada pasti sudah penuh. Tidak mungkin juga aku minta Kevin ngekos. Dia masih 15 tahun sekarang, aku belum siap—"
"Ada ibunya! Kamu bisa sewakan atau belikan saja sekalian apartemen di tengah kota untuk mereka tinggali berdua, jadi kamu tidak perlu repot-repot membawa dia ke rumah! Hubungan kita terancam Jeffrey! Aku tahu sekali dia sangat ingin menyingkirkanku selama ini! Supaya ibunya bisa masuk dalam keluarga kalian lagi!"
Jeffrey menatap Joanna yang tampak tersulut. Dia bahkan tidak malu meski orang-orang menatap ke meja mereka saat itu.
"Aku memang bisa melakukan itu. Tapi apa kamu tidak cemburu jika aku sering bertemu dengan dia? Karena aku pasti akan sering menemui Kevin nantinya. Jika dia tinggal bersama ibunya, kesempatan untuk kita bertemu semakin banyak. Apa kamu tidak masalah? Aku memikirkan perasaanmu, Sayang. Aku tidak mau kamu semakin overthinking karena berandai-andai yang tidak-tidak."
Kali ini Joanna bungkam. Dia tidak berpikir sejauh itu sebelumnya. Karena jelas apa yang dikatakan Jeffrey ada benarnya. Jika dirinya jelas akan cemburu dan sering curiga nantinya. Mengingat Rena tampak mulai menginginkan suaminya. Jelas Joanna akan merasa was-was dan harus terus waspada jika mereka sering berjumpa.
"Bagaimana? Kamu mau aku bagaimana sekarang? Kevin—"
"Kita lakukan uji coba. Aku akan tinggal dengan Kevin selama satu bulan. Jika dia bisa bersikap baik, aku tidak akan mempermasalahkan. Tapi jika sebaliknya, aku yang angkat kaki dari rumah!"
Jeffrey menegang. Dia benar-benar takut sekarang. Takut jika Kevin tidak bisa bersikap baik pada istrinya. Karena itu akan membuat pernikahannya terancam. Sebab tidak mungkin dia memilih salah satu diantara keduanya untuk sekarang.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)