Satu bulan berlalu.
Joanna dan Mega semakin dekat. Hari ini, Joanna bahkan diantar Mega untuk menghadiri acara ulang tahun anaknya di Jakarta. Mengingat sejak kemarin Kevin terus memaksa agar dirinya hadir ke sana.
"Turun, yuk!"
"Aku belum siap masuk. Terakhir kali aku datang ke sini tiga tahun yang lalu dan pengalaman buruk yang kudapat tentu."
Joanna menatap rumah Jeffrey dari dalam mobil Mega. Karena saat ini mereka masih berada di depan gerbang. Enggan masuk meski gerbang sudah terbuka lebar. Karena ada banyak tamu yang datang. Sebab selain tetangga, teman-teman TK Juno juga diundang.
"Aku takut kembali diusir seperti dulu. Aku takut mengganggu acara ulang tahun anakku seperti dulu."
Joanna menunduk dalam. Menatap sepatu kets yang dikenakan. Karena saat ini dia hanya memakai pakaian sederhana. Dress lengan panjang warna biru muda dan sepatu kets warna putih agak usang. Karena sudah tiga tahun lebih dipakai bekerja.
"Itu kan dulu. Saat Juno masih kecil dan masih belum mengenal banyak tentangmu. Sekarang dia pasti sudah bisa lebih mengerti akan keberadaanmu. Masuk sekarang, ya? Sudah ramai di dalam. Pasti acaranya akan segera dimulai juga."
Joanna masih diam. Dia terus mereject panggilan dari Kevin. Karena dirinya merasa belum siap bertemu anaknya lagi. Karena saat bertemu terakhir kali, Juno enggan disentuh dirinya sama sekali. Seolah tahu jika dirinya adalah bukan ibu yang baik
"Mega!" seru Joanna saat Mega tiba-tiba saja merebut ponsel dari genggaman. Lalu mengangkat telepon dari Kevin yang entah sudah ke berapa.
"Halo Kevin? Ini Om Mega, aku sedang dengan Mama Joanna sekarang. Kami sudah di depan, tapi Mamamu tidak mau masuk. Takut katanya." Mega menatap Joanna yang tampak kalut. Lalu mengangguk singkat karena si lawan bicara akan menjemput.
"Kevin sudah di depan, dia akan datang. Itu dia!" Mega mengembalikan ponsel Joanna. Lalu menunjuk pemuda tinggi dan tampan yang tentu saja Kevin Iskandar.
"Dia mirip sekali dengan Jeffrey." Komentar Mega setelah menatap Kevin. Karena baru kali ini dia melihat Kevin sebesar ini. Bahkan tinggi badannya hampir dilampaui.
"Bawa Mamamu masuk duluan, Vin. Om ada perlu sebentar. Setelah ini ikut masuk juga."
Kevin mengangguk singkat, lalu membuka pintu mobil segera. Agar bisa lekas membawa Joanna masuk rumah. Karena acara ulang tahun akan dimulai sekarang.
"Ayo, Ma!"
Kevin menggandeng Joanna masuk rumah. Meninggalkan Mega yang kini menelepon seseorang. Karena dia harus meninggalkan pekerjaan di Bali sebentar, untuk mengantar Joanna ke Jakarta.
"Sejak kapan Mama dekat dengan Om Mega?" tanya Kevin saat berjalan masuk rumah. Membuat Joanna agak salah tingkah. Karena merasa diinterogasi sekarang.
"Baru-baru ini."
Kevin mengangguk kecil. Sebenarnya Masih ada yang ingin ditanyakan lagi. Namun tidak jadi saat melihat ayahnya yang kini mendekati.
"Kamu datang ternyata. Ayo masuk! Juno sudah menunggu."
Jeffrey meraih salah satu tangan Joanna. Membuat pegangan Kevin terlepas. Karena ayahnya tampak begitu bersemangat untuk membawa mantan istrinya menemui si anak.
"Kok dia, Pa? Mama Rena mana?" tanya Juno yang kini sedang merajuk. Dia terlihat begitu tampan saat itu. Karena sudah memakai tuxedo putih sama seperti yang dipakai ayah dan kakaknya tentu.
"Rena di mana memang?" tanya Joanna setelah melepas tangan. Matanya terus menatap Kevin yang sedang ditenangkan wanita paruh baya yang tampak familiar. Karena dia adalah salah satu ART rumah yang kini merangkap menjadi baby sitter anaknya. Mengingat Rena dan Jessica sudah diusir dari rumah.
"Dia dan Mama sudah pergi."
Joanna menautkan alis. Lalu menatap Kevin yang sudah mendekati. Karena anak itu tidak mengatakan apapun selama ini. Padahal dia selalu memberi update akan kehidupan Juno setiap hari.
"Kita bahas nanti. Sekarang kita mulai acara ini!" Kevin meraih mic, karena dia yang akan menjadi MC. Sedangkan Joanna dan Jeffrey mulai memenangkan Juno yang tampak masih merajuk saat ini.
"Tidak mau Mama ini! Aku maunya Mama Rena!" Juno hampir menangis. Dia tidak ingin didekati oleh ibu kandungnya sendiri. Membuat Joanna enggan mendekati, karena takut semakin menyakiti.
"Dia Mamamu sayang, dia Mama Joanna. Seperti yang sering Papa bilang, Mama ini yang sudah mengandung dan melahirkanmu ke dunia." bisik Jeffrey pada anaknya. Dia sudah jongkok sekarang, agar tinggi badan mereka sejajar.
"Tapi Mama Rena yang selalu ada! Aku mau Mama Rena Papa! Tidak mau dia!"
Joanna yang mendengar rengekan anaknya jelas tidak tega. Sehingga dia meminta Jeffrey mendekat. Karena ingin bicara.
"Suruh Rena datang sekarang, Jeff. Aku tidak tega melihat Juno seperti ini. Kevin, jangan mulai dulu acaranya! Tunggu Mama Rena datang."
Kevin yang sedang membaca rundown acara tampak tidak suka. Dia menatap ayahnya, seolah meminta persetujuan. Karena dia dan ayahnya sepakat untuk tidak mendatangkan Rena dalam acara.
"Tidak bisa, Ma. Aku dan Papa sudah sepakat untuk memisahkan mereka. Kami sudah berhasil memisahkan selama satu bulan. Sekarang sudah masuk babak final, Mama harus tega melihat Juno tantrum sekarang. Karena sebentar lagi dia pasti bisa menerima keadaan. Bisa menerima Mama dan melupakan Mama Rena perlahan."
Joanna yang mendengar itu mulai berkaca-kaca. Apalagi kalau bukan karena melihat Juno yang saat ini sudah menangis. Karena ingin Rena datang kemari.
"Ma, aku dan Papa sudah berusaha keras sejauh ini. Kami ingin Mama kembali. Jadi tolong kerjasamanya! Mama pasti ingin dekat dengan Juno juga, kan?" Joanna mengangguk cepat. Karena dia jelas ingin dekat dengan anak kandungnya.
"Akan Mama coba." Joanna menyeka air mata yang sudah keluar. Lalu jongkok di depan Jeno yang saat ini ditenangkan ART yang selama satu bulan ini mengurusnya.
"Juno, ini Mama, Sayang. Maaf karena baru bisa datang."
"Aku tidak mau kamu datang! Pergi! Aku mau Mama Rena! Bukan Mama Joanna!" Juno memukul wajah Joanna berkali-kali. Membuat Kevin dan Jeffrey yang melihat jelas langsung memisah mereka saat ini.
"Bangun! Juno! Jangan nakal!" Jeffrey menarik pundak Joanna, membawanya berdiri saat itu juga. Karena Juno baru saja memukul wajahnya berulang-ulang dan si wanita diam saja. Tidak berusaha menghindar apalagi melawan.
"Juno jangan seperti itu pada Mama! Kamu kenapa jadi nakal, hah!?" Kali ini Kevin yang menegurnya. Membuat Juno Mulai menangis kencang. Membuat para tamu undangan yang sebelumnya sibuk mencicipi makanan mulai menatap ke arah mereka.
"Rena ada di mana sekarang? Kalau masih di Jakarta, lebih baik bawa dia datang sekarang." ucap Joanna pada Jeffrey. Dia hampir menangis. Karena tidak tega saat melihat Juno yang tengah meraung saat ini. Menangis begitu kencang dan menolak ditenangkan oleh Kevin.
Jeffrey yang melihat itu juga tampak iba sekali. Apalagi Kevin juga mendapat cakaran adiknya berulang kali. Hingga mau tidak mau dia harus menengahi. Mengalah demi kebaikan semua orang di sini.
"Kevin mundur!" Jeffrey menarik Kevin. Lalu menghadang Juno yang tengah mengamuk saat ini.
"Akan Papa bawa Mama Rena kesini! Jadi berhenti!"
Tangisan Juno langsung mereda. Dia juga tidak lagi berusaha mencakar Kevin yang ada di samping ayahnya. Sebab keinginan terbesarnya akan terkabul segera.
Sorry baru bisa update sekarang. Karena Bapak yang bulan lalu aku temani di rumah sakit akhirnya berpulang. Jadi aku gabisa fokus nulis belakangan. Tapi aku akan berusaha buat nulis lagi sekarang. Jadi tolong dikoreksi kalau misal ada kesalahan ketik ataupun yang lainnya.
Seperti biasa, kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa. Akan aku usahakan cerita ini selesai sebelum akhir bulan. See yaaa!
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)