Ceklek...
Jeffrey masuk kamar. Dia terkejut saat melihat Joanna yang ternyata berada di dalam. Dia duduk di tepi ranjang. Sembari memainkan ponselnya.
"Kukira kamu belum pulang, Sayang. Di luar ada Kevin dan Rena. Aku sudah pesan makanan untuk kita berempat. Kamu belum makan, kan?"
"Aku tidak lapar. Kamu mau mandi, kan? Aku mau keluar untuk menyapa mereka."
Jeffrey mengangguk singkat. Lalu mengecup kepala istrinya sebelum membersihkan badan. Sebab wanita itu pasti marah jika dia mencium area yang lain sekarang.
Joanna keluar kamar. Dia melihat Kevin yang sedang duduk tenang di atas sofa. Sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Rena, dia tengah menata alat makan di atas meja. Untuk mereka berempat. Seolah tahu jika dirinya sudah berada di apartemen sekarang.
"Ma..."
Joanna menangguk kecil saat Kevin menyapanya. Dia juga mendekat dan mencium tangannya. Karena setelah masuk SMA, dia mulai sedikit dewasa dalam menyikapi ini semua.
Kevin bisa menerima Joanna, namun tidak dengan ibunya. Rena, karena wanita itu masih suka mencari-cari kesalahan Joanna. Bahkan, dia juga yang memaksa Jessica untuk membawa Joanna dan Jeffrey ke dokter kandungan sebelumnya.
"Kenapa tadi tidak ikut, Ma?" tanya Kevin setelah mencium tangan Joanna. Membuat wanita ini agak terkejut juga. Sebab baru kali ini Kevin mencium tangannya. Karena untuk beramah tamah dan memanggilnya Mama sudah pernah dilakukan dalam panggilan video dan chat.
"Tadi ada janji dengan teman. Kamu have fun di sana?"
"Iya, tapi pasti akan lebih seru lagi kalau Mama ikut juga."
Joanna tersenyum saja. Lalu menatap Rena yang kini sudah menatapnya. Dengan senyum tipis yang tersungging di wajah.
"Kalau Mama ikut, nanti ada yang tidak suka."
Kevin yang mendengar itu mulai menatap ibunya. Rena tampak terkejut akan ucapan Joanna. Karena tidak menyangka akan diserang sekarang.
"Aku maksudnya? Joanna, jangan kekanakan!"
Joanna terkekeh saja. Lalu membuka kulkas. Guna meraih air dingin dari sana.
"Bercanda. Lain kali kita liburan berempat. Kalau masih ada kesempatan."
Kevin mengangguk setuju. Lalu kembali duduk. Namun kali ini dia tidak memainkan ponselnya. Tetapi menatap ibu tirinya.
"Papa tadi pesan apa?" tanya Joanna pada Kevin. Seolah tidak menganggap Rena ada. Padahal wanita itu sedang menunggu diajak bicara.
"Ayam dan burger sepertinya. Mama mau apa memang? Aku pesankan lagi kalau ada yang Mama inginkan."
"Tidak perlu. Mama bisa makan apa saja."
Joanna duduk di samping Kevin. Lalu bertanya tentang kegiatannya di sekolah selama ini. Sekaligus menggoda apakah si anak sudah memiliki pacar saat ini.
"Pasti banyak yang cantik. Kamu dilarang pacaran memang?" Joanna menatap Rena yang sudah duduk di salah satu kursi makan. Sembari memantau perbincangan dua orang di depannya.
"Tidak. Papa dan Mama Rena tidak melarang. Semua teman-temanku cantik di kelas, tapi tidak ada yang sesabar Mama Rena dan sepintar Mama Joanna."
Joanna salah tingkah saat dipuji pintar oleh anak sambungnya. Karena dipuji cantik sudah biasa. Namun dipuji pintar oleh anak remaja, tentu bisa membuatnya salting brutal.
"Mama tidak sepintar itu. Kalau Mama pintar, pasti masuk UI atau malah kampus Ivy. Bukan—"
"Bukan itu, Ma. Pintar mengatur strategi maksudnya. Hingga nama Papa kembali dibersihkan. Mama juga setia menemani Papa meski dia susah. Pokoknya Mama hebat!"
Joanna tersenyum senang. Seolah lupa akan rasa kesal yang sebelumnya dirasakan. Rasa kesal karena Jeffrey akan menomorsatukan Kevin di atas segalanya.
Hingga tidak lama kemudian makanan datang. Disusul dengan Jeffrey yang baru saja membersihkan badan.
Mereka makan malam bersama. Kevin melihat kemesraan Jeffrey dan Joanna dengan senyum yang tersungging lebar. Berbeda dengan Rena yang tampak menekuk wajah.
"Jadi kapan kalian akan melakukan program kehamilan?"
Joanna dan Jeffrey yang sebelumnya sedang tertawa mulai terdiam. Begitu juga dengan Kevin yang tahu jika topik ini begitu sensitif bagi ibu sambungnya. Karena dia sering mendengar pembahasan ini dari ibu dan neneknya di rumah.
"Mama sudah ingin cucu lagi."
"Kan sudah ada Kevin. Seharusnya kamu senang karena tidak akan ada yang menyaingi." ucapan Joanna membuat Jeffrey terpaku. Dia jelas tidak suka dengan kalimat itu. Karena telah membuat Kevin merasa tidak nyaman tentu.
"Aku tidak akan punya anak. Jadi Kevin akan menjadi yang nomor satu selamanya. Iya kan, Jeff? Sama seperti yang sudah kamu katakan sebelumnya."
Joanna menatap suaminya. Seolah sedang meminta konfirmasi padanya. Akan hal yang jelas akan menimbulkan pertikaian nantinya.
"Iya, kan Sayang? Aku dengar sendiri tadi."
Rahang Jeffrey sudah mengeras saat ini. Apalagi dia menatap raut wajah Kevin yang tampak sedih. Kecewa mungkin, karena Joanna yang diam-diam dikagumi justru mengecewakan hati.
"Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Kali ini kamu sudah keterlaluan!"
Senyum yang sebelumnya tersungging di wajah Joanna mulai luntur perlahan. Dia juga menatap Kevin dan Rena bergantian. Karena penasaran akan reaksi mereka.
Sama. Itu yang dilihat. Mereka menampilkan raut wajah yang sama. Sama-sama muram seolah keberatan akan apa yang baru saja diucapkan.
"Loh? Aku benar, kan? Kamu sendiri tadi yang mengiyakan kalau selamanya Kevin akan menjadi yang nomor satu bagimu. Meski jika nanti kamu punya anak denganku." Joanna tersenyum tipis sekarang. Seolah tidak sedang terluka. Padahal sejak tadi, dia sudah menahan diri untuk tidak murka.
"Aku rasa kamu cukup dewasa untuk mengerti ucapanku pada Kevin sebelumnya. Joanna, kamu sangat kekanakan!"
Joanna tersenyum hambar. Lalu menatap Jeffrey yang tampak begitu marah sekarang. Karena matanya terus menatap tajam dirinya.
"Aku tahu mana ucapan yang serius dan bukan. Ucapan Rena tadi pasti akan benar-benar kamu wujudkan. Kamu akan lebih sayang pada Kevin daripada pada anak kita kelak!"
"Memangnya kamu mau punya anak? Tidak, kan? Lalu kenapa harus mempermasalahkan?"
Bukan. Ini bukan ucapan Jeffrey. Namun Rena yang menahan geram sejak tadi.
"Tidak, kan?" Air mata Joanna mulai berkumpul di pelupuk mata saat Jeffrey bertanya seperti ini padanya. Di depan Kevin dan Rena. Seolah ingin merendahkan dirinya.
"Memang tidak."
Joanna berusaha menyunggingkan senyuman. Lalu bangkit dari duduknya. Lalu pergi menuju kamar. Meninggalkan mereka bertiga makan malam tanpa dirinya.
"Bajingan!" Joanna memaki saat masuk kamar mandi. Dia menendang tempat sampah hingga isinya berhamburan di samping bath tub mandi. Termasuk test pack yang telah dibuang tadi.
"Aku hamil?" Joanna mulai jongkok saat ini. Dia juga mengernyitkan dahi. Karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat saat ini.
"Tidak mungkin!" Joanna menggeleng pelan. Tangannya bergetar saat menyentuh test pack yang telah menunjukan garis dua. Pertanda jika dia sedang mengandung sekarang.
Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
Storie d'amoreJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)