79/79

1.4K 92 0
                                        

"Aku mau bertemu Juno sebentar." ucap Joanna pada Mega. Karena bagaimanapun juga dia merindukan anaknya. Tidak masalah jika dia menangis setelahnya. Sebab jelas reaksi si anak akan buruk saat melihatnya.

"Ke mana?"

"Di kamarnya mungkin. Ke lantai dua."

Mega mengangguk kecil. Lalu mengekori si calon istri. Karena tidak mungkin dia keluar sendiri. Bisa-bisa Jeffrey mengganggu lagi.

Tok... Tok... Tok...

Joanna langsung membuka pintu setelah mengetuk pintu tiga kali. Dia senang saat melihat Juno sedang bermain sendiri. Karena itu berarti tidak akan ada Rena yang menginterupsi.

"Juno..."

Joanna mendekati anaknya. Namun seperti biasa reaksi Juno pasti mengecewakan. Karena dia tidak menyukai ibu kandungnya.

"Juno sedang main apa? Mama boleh ikut bergabung juga?" tanya Joanna setelah duduk bersila di depan si anak. Bersama ratusan leggo yang berceceran di sana. Karena Juno sedang membuat menara.

"Kok kamu di sini? Pergi!" Bukannya marah, Joanna justru tersenyum sekarang. Lalu menyusun leggo untuk menarik perhatian. Agar Juno mau berteman, karena kini mereka memiliki minat yang sama.

"Mama kangen Juno, makanya kesini. Juno sedang buat menara, ya? Mama mau buat prajurit yang menjaga menara kalau begitu."

"Tidak mau! Pergi! Jangan kesini lagi!"

Duk...

Juno melempari Joanna dengan potongan leggo berukuran besar. Hingga mengenai mata. Membuat Mega yang sejak tadi hanya mengamati dari pintu mulai mendekat. Berusaha menjauhkan Joanna dari anaknya.

"Ayo bangun!"

Mega membantu Joanna berdiri. Agar si wanita tidak terkena lemparan leggo lagi. Sebab tidak mungkin dia menghalangi apalagi mencegah Juno melempari. Karena takut salah langkah dan dibenci oleh calon anaknya ini.

"Kita keluar, kita periksa matamu sebentar!" Joanna hanya menurut saja. Karena mata kirinya terasa sangat sakit sekarang. Sehingga dia memutuskan untuk menurut saja. Daripada berdebat di depan Juno yang sedang kesal padanya.

Di depan kamar, Mega memeriksa keadaan mata Joanna cukup lama. Hingga pria itu yakin jika memang tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Karena kini, pandangan Joanna tidak buram seperti sebelumnya. Meski rasa nyeri masih terasa di sekitar kelopak mata, karena terkena lemparan cukup kasar.

"Aku mau ke dalam lagi." 

"Tapi—"

"Sebentar saja. Aku mau pamit dengan anakku sebelum pergi. Syukur-syukur bisa memeluknya sekali. Kamu tunggu di sini." Joanna menahan dada Mega saat pria itu ingin ikut lagi. Sebab dia ingin berduaan dengan Juno kali ini. Agar bisa berkomunikasi lebih baik lagi.

"Juno..."

Panggilan Joanna membuat Juno melengos kali ini. Dia berlari keluar kamar. Lalu menuju kamar lain yang ada di sebelah. Karena memang Rena berada di dalam. Sehingga dia berlari ke sana.

"Juno masuk sana!" seru Mega saat Joanna keluar kamar. Dia menunjuk kamar sebelah. Membuat Joanna lekas mendekat.

Pintu sedikit terbuka, membuat dirinya memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Meski tahu jika di dalamnya ada Rena, wanita yang telah memecah keluarga kecilnya.

"Juno..."

Mata Joanna terbelalak saat melihat Rena yang sedang duduk tenang. Wanita itu tampak menyedihkan sekarang. Bagaimana tidak? Kakinya lumpuh akibat terjatuh dari tangga. Sehingga kini harus duduk di kursi roda. 

"Rena, kamu kenapa?" tanya Joanna saat mendekat. Dia jongkok di depan Rena, sehingga kini dia bersebelahan dengan Juno yang berdiri tegak. 

"Berhenti basa-basi! Aku tahu kamu sudah tahu dari Kevin!" Rena menyingkirkan tangan Joanna yang sedang menyentuh paha. Dia juga beralih menggenggam tangan Juno sekarang. Seolah sedang ingin pamer di tengah keterbatasan.

"Maaf, aku hanya diberi tahu kalau kamu cidera dan belum sembuh. Tapi aku tidak tahu kalau separah itu, sampai harus duduk di kursi roda seperti ini." Joanna diam sejenak. Karena matanya beralih menatap tangan Juno dan Rena yang saling bertaut sekarang.

"Aku turut prihatin akan apa yang terjadi padamu sekarang. Kalau butuh bantuan, kamu bisa menghubungi aku atau Mega, calon suamiku punya paman dokter tulang. Iya, kan?" Joanna menolehkan kepala. Mencoba memastikan. Karena seingatnya, salah satu paman Mega ada yang berprofesi sebagai dokter tulang.

"Iya, Sayang. Benar."

Mega mengangguk cepat. Lalu mengusap pundak Joanna pelan. Kemudian menundukkan badan, guna mengusap kepala si wanita. Seolah menunjukkan rasa bangga, karena Joanna benar dalam mengingat profesi salah satu anggota keluarga yang ditemui sebelumnya. Mengingat ada begitu banyak orang yang harus ditemui semalam. Tidak heran jika Joanna takut salah ingat.

Rena yang melihat itu merasa terbakar. Rasanya panas dan begitu sesak di dada. Padahal bukan Jeffrey yang sedang berlaku demikian.

"Aku tidak butuh bantuan kalian! Jeffrey sudah sangat baik mengurus pengobatanku! Jadi tidak perlu ikut campur!"

Joanna yang mendengar mulai menarik nafas panjang. Lalu melirik Juno yang tampak kebingungan akan perdebatan mereka.

"Ya sudah kalau begitu. Juno, Mama mau pulang. Boleh Mama peluk kamu sebentar? Sebentar saja. Mama janji tidak akan sering datang-datang lagi dan mengganggu kalian." Joanna berusaha membujuk anaknya. Membuat Mega yang melihat jelas tidak tega. Sehingga dia mulai memalingkan muka. Karena tidak sanggup melihat interaksi mereka.

Lihat saja. Joanna sedang menahan air mata. Bagian dalam bibirnya bahkan digigit kencang. Agar isakan tidak keluar. Karena mungkin rasa kecewa yang akan didapat. Mengingat Juno begitu antipati padanya.

Joanna pernah berpikir untuk membawa Juno secara paksa. Toh, dia ibunya dan kini sudah ada Mega yang pasti bisa membantunya untuk memenangkan hak asuh si anak. Namun setelah dipikir ulang, rasanya ini tidak benar. Joanna tidak mungkin tega melihat anaknya berteriak ketakutan dan merasa trauma berkepanjangan. Hanya karena tidak mau ikut tinggal bersama ibu kandungnya.

"Oke. Tapi janji! Jangan sering datang kemari! Kalau perlu jangan pernah datang lagi!" Juno melepaskan pegangan tangan Rena. Padahal wanita itu tidak memberi gesture mengizinkan. Sebab dirinya ingin Joanna merasa kesakitan karena dibenci anak kandungnya.

"Terima kasih, Sayang!" Joanna berhambur memeluk anaknya. Begitu hati-hati karena takut si anak terluka. Sebab dia begitu rindu padanya. Takut jika pelukannya terlalu erat dan membuat si anak sesak.

"Mama selalu bermimpi bisa memelukmu setiap hari. Juno, anak Mama. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia." ucap Joanna dengan air mata yang mengalir perlahan. Dia memeluk Juno cukup lama. Karena si anak juga tidak bereaksi apa-apa. Tidak mencoba berontak apalagi ingin melepas. Mungkin sudah paham akan cara kerja kesepakatan orang dewasa. Sehingga dia terlihat pasrah saat dipeluk ibunya.

Tbc…

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang