"Lepas Jeffrey! Wanita ini memang layak dipukuli! Dia seorang pembunuh! Dia tidak layak hidup!" Kemarahan Jessica tidak lagi bisa dibendung. Karena dia memang sudah lama menginginkan cucu. Meski sudah ada Kevin yang sudah sebesar itu.
"Mama cukup! Mama tidak tahu apapun! Mama keluar! Jangan buat keributan!" Jeffrey menarik Jessica pergi. Keluar dari ruangan ini. Hingga Kevin yang sejak tadi diminta Rena membeli air kembali dan tentu saja terkejut saat melihat keributan ini.
"Ada apa, Pa?" tanya Kevin yang sedang membawa sebotol air. Karena dia diminta Rena membeli air saat Joanna membuka mata dan mencari Jeffrey.
"Nenek mengacau di dalam. Jangan biarkan dia masuk lagi dan membuat kekacauan!"
Rena yang ikut keluar langsung Jeffrey tarik agar bergabung bersama ibunya. Lalu segera masuk dan mengunci pintu dari dalam. Agar ibunya tidak kembali masuk dan mengacau di dalam.
"Sayang, maaf. Seharusnya aku tidak meninggalkan kamu sendirian." Jeffrey memeluk istrinya yang sudah menangis tentu saja. Karena selain kesakitan, dia juga begitu merasa bersalah pada semuanya. Sebab telah menghilangkan nyawa anaknya.
"Sayangku tenang saja. Saat ini tidak akan ada yang bisa menyakitimu barang sejengkal. Tidak akan ada yang kubiarkan menyentuhmu, Sayang!"
Jeffrey mengusap punggung istrinya. Dengan pelukan yang masih melingkar erat. Karena dia tidak ingin si wanita merasa sendirian dan akhirnya melakukan hal yang lebih gila dari sebelumnya.
"Ini semua bukan salahmu. Aku bisa mengerti kenapa kamu melakukan itu. Sayangku tidak sejahat itu. Hal ini terjadi karena aku, aku yang memicu kamu melakukan itu. Sebagai kepala rumah tangga, aku yang gagal dan bertanggung jawab akan semua itu, bukan kamu."
Isakan Joanna tidak berganti. Namun justru semakin kencang dari yang tadi. Membuat Jeffrey semakin mengeratkan pelukan lagi. Seolah ingin menenangkan si istri agar tidak merasa bersalah kembali.
"Tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa menata semuanya dari awal. Sayangku tidak perlu mengkhawatirkan apapun mulai dari sekarang."
Jeffrey melepas pelukan. Lalu mengusap air mata istrinya dengan kedua tangan. Sebab dia benar-benar merasa bersalah sekarang. Karena sikap emosionalnya yang sebelumnya telah membuat si istri merasa tidak lagi memiliki sandaran. Hingga nekat berlalu demikian.
"Mulai sekarang, aku janji akan selalu memihakmu. Apapun yang kamu inginkan akan terkabul. Mau semustahil apapun itu."
"Aku minta maaf. Aku salah. Seharusnya aku tidak melakukannya."
Jeffrey mengangguk kecil. Kembali memeluk sang istri. Dengan air mata yang ikut mengalir.
"Mulai sekarang kita jaga anak kita bersama. Aku janji akan selalu ada. Aku janji tidak akan membuatmu merasa sendirian."
Joanna yang tidak tahu jika janinnya masih ada, tentu sangat terkejut akan ucapan suaminya. Dia bahkan mulai menghentikan tangisnya. Lalu menatap perutnya yang masih rata. Karena memang kandungannya masih berusia satu bulan.
"Jadi, dia masih ada?"
Jeffrey mengangguk cepat. Air matanya masih keluar sampai sekarang. Karena kabar ini jelas sangat membahagiakan. Di saat dia sudah merelakan.
"Iya, Sayang. Dia sangat hebat, seperti ibunya. Mulai sekarang kita jaga dia bersama, ya?"
Joanna mengangguk cepat. Dia jelas merasa senang, meski perasaan bersalahnya masih begitu besar. Namun untuk sekarang, perasaan lega itu lebih besar. Dia bersyukur karena masih diberi kesempatan. Saat pikiran warasnya datang.
Tidak lama kemudian pintu diketuk dari luar. Dokter datang untuk memeriksa Joanna beserta janinnya. Karena Kevin yang memberi tahu jika ibunya telah siuman. Namun ruangan harus dikunci dari dalam karena ada lain hal.
Setelah diperiksa, Kevin masuk ruangan. Tanpa nenek dan ibunya. Karena mereka sudah pergi entah ke mana.
"Mama sudah enakan? Pengen beli sesuatu?"
Joanna menggeleng pelan. Dia tersenyum sekarang. Sembari menatap Kevin yang kini sudah duduk di samping ranjang. Karena Jeffrey tengah berbincang dengan dokter di luar.
"Mama, aku mau minta maaf. Ini semua karena Mama Rena yang sudah berbicara yang tidak-tidak sebelumnya. Andaikan saja saat itu Mama Rena tidak bicara sembarangan, Mama Joanna tidak akan terbaring seperti sekarang."
Joanna menggeleng pelan. Lalu meraih tangan Kevin yang sudah saling bertaut sekarang. Karena dia memang begitu merasa bersalah sekarang.
"Ini bukan salahmu, apalagi salah Mama Rena. Ini semua murni karena kebodohan Mama. Mama minta maaf, ya? Karena Mama membuatmu merasa bersalah, merasa ketakutan juga. Tidak seharusnya kamu melihat ini semua." Joanna mengusap kepala Kevin. Dia merasa bersalah sekali. Karena tahu jika Kevin pasti sudah tahu secara rinci akan apa yang sedang terjadi. Sehingga besar kemungkinan dia akan merasa trauma saat ini.
"Mama tidak perlu minta maaf. Mama tidak salah. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti ini semua. Izin, Ma." Kevin melepas tangan Joanna dari kepalanya. Lalu menggenggam tangan itu dengan kedua tangan. Lalu dikecup berulang.
Joanna yang melihat itu tersenyum kecil. Dia juga mengangguk kecil. Seolah mengizinkan dan tidak keberatan jika tangannya dicium oleh si anak tiri.
"Akhirnya aku bisa mengerti kenapa Papa lebih memilih Mama Joanna daripada Mama Rena. Ma, aku tahu kalau Mama disarankan Om Mega untuk meninggalkan Papa, supaya Mama tidak terbawa masalah yang sebelumnya. Tapi Mama justru menolaknya. Mama memilih jalan yang lebih susah dengan mempertahankan Papa. Hingga kita bisa seperti sekarang, ini semua berkat Mama. Papa, aku dan kita semua beruntung punya Mama. Termasuk adik bayi juga. Jadi Mama tidak perlu merasa berkecil hati, merasa tidak bisa mengurus adik. Karena aku yakin, Mama jauh lebih pintar dari yang kubayangkan. Mama pasti bisa mengurus adik bayi nantinya. Apalagi ada aku dan Papa yang akan siap membantu juga."
Kevin tersenyum lebar. Dia mulai bercerita jika dia berencana pindah sekolah ke Jakarta. Agar bisa ikut menjaga dirinya yang tengah hamil sekarang. Meski Rena dan Jessica pasti akan menentang pastinya.
"Mama setuju tidak? Kalau aku pindah sekolah di Jakarta dan ikut tinggal bersama Mama dan Papa?"
Joanna mengangguk pelan. Lalu meraih pundak Kevin sekarang. Sebab dia ingin memeluknya. "Iya, Sayang. Mama setuju!"
Mereka saling memeluk sekarang. Tangis haru juga keluar dari masing-masing mata. Sebab tidak menyangka jika mereka akan akur seperti sekarang. Mengingat sebelumnya, mereka seperti tikus dan kucing karena suka bertengkar.
"Tapi Mama tidak setuju! Kecuali kalau Nenek dan Mama juga ikut!" seru Rena yang baru saja masuk. Karena sejak tadi dia menguping bersama Jessica. Setelah Jeffrey pergi ke ruangan dokter kandungan.
"Aku tidak akan membiarkan cucuku dalam bahaya lagi! Joanna, kita harus tinggal bersama sampai bayi itu lahir!" Jessica menunjuk perut Joanna hang masih rata. Karena dia benar-benar kecewa. Dia tidak percaya dengan Joanna. Sehingga berniat ikut tinggal di Jakarta juga.
Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)