Joanna menatap Jeffrey yang sedang makan dengan lahap di sampingnya. Karena mereka sedang berada di ruangan khusus pasutri yang ingin bercinta. Sehingga kini, mereka bisa berinteraksi tanpa terhalang kaca.
"Aku akan tetap menjadikan Jordan sebagai pengacara kamu untuk sidang yang selanjutnya. Tidak peduli kamu mau menolak atau tidak." ucapan Joanna membuat Jeffrey berhenti mengunyah. Lalu menatap istrinya yang matanya mulai bercekung sekarang. Karena kurang tidur selama tiga bulan ke belakang.
"Kamu tidak setuju? Hanya karena cemburu?"
Jeffrey menarik nafas panjang. Dia yang awalnya diam sejenak mulai lanjut makan. Karena tidak ingin berdebat dan membuat istrinya semakin kesal. Sebab Joanna memang tampak kelelahan, mengingat banyak hal yang harus dilakukan sejak dia masuk penjara.
"Terserah kamu, atur saja. Aku percaya kamu pasti punya banyak pertimbangan untuk menjadikan dia sebagai pengacara."
Jeffrey bergegas menghabiskan makanan. Hingga tuntas tidak tersisa. Dia juga meminum air mineral yang istrinya bawa. Lalu memeras botolnya setelah isinya tandas.
"Aku habiskan sampai bersih bukan karena aku suka masakan Rena. Tapi supaya kamu bisa pulang lebih cepat dan banyak istirahat. Aku tahu kamu pasti lelah belakangan." ucap Jeffrey sembari merapikan tas bawaan istrinya. Karena sejak tadi wanita itu terus menatapnya. Seolah sedang kesal namun enggan diungkapkan.
"Dari mana kamu tahu kalau itu masakan Rena? Aku tidak bilang—"
"Kalau kamu yang masak, aku akan marah! Aku tidak akan makan supaya kamu tidak perlu repot-repot memasak dan mengantar!" Jeffrey berdiri dari duduknya. Sembari membawa tas yang berisi kotak bekal dan beberapa botol minuman yang sudah habis isinya. Seolah ingin Joanna segera pergi dari sana.
"Aku tahu kamu sudah berkorban banyak hal untukku, untuk keluargaku. Jadi biarkan saja Rena melakukan tugas itu. Gunakan sisa waktumu untuk istirahat."
Joanna menangis sekarang. Membuat Jeffrey langsung memeluknya. Guna menenangkan istrinya. Sebab dia tahu jika Joanna begitu lelah sekarang.
"Aku minta maaf. Karena aku hidupmu jadi susah. Tidur tidak nyenyak dan makan pun tidak kenyang. Maaf, ya? Aku janji setelah ini akan menebus semuanya."
Tangis Joanna berangsur-angsur reda. Dia juga pamit pulang setelahnya. Karena tubuhnya benar-benar sudah lelah sekarang. Apalagi lututnya terasa sakit luar biasa. Sehingga dia kerap berhenti saat berjalan. Tentu saja saat Jeffrey tidak melihat, agar pria itu tidak khawatir padanya.
Setibanya di rumah, Joanna melihat Rena dan Kevin yang sedang melipat pakaian. Di sana ada pakiannya juga. Karena memang tugas Joanna hanya mengurus urusan di luar rumah saja. Sehingga saat di rumah, dia hanya tinggal beristirahat.
Namun tetap saja, Joanna tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena khawatir jika usahanya sia-sia. Takut Jeffrey tidak bisa kembali setelah banyak perjuangan yang dilakukan sebelumnya.
"Kamu sudah makan? Mau dipanaskan supnya? Aku masak asam-asam, kata Mama kamu suka. Aku dapat resepnya dari ibumu tadi siang."
Joanna menggeleng pelan. Dia tidak punya tenaga untuk sekedar makan. Sehingga dia memutuskan langsung masuk kamar setelah meletakkan tas yang berisi kotak bekal di atas meja. Karena Rena yang bertugas membersihkan.
"Hidupkan kompor, Vin. Dia terlihat lelah sekali."
Kevin Mengangguk singkat. Dia segera menghangatkan masakan ibunya. Sebab belakangan dia mulai sadar jika Joanna tidak sejahat yang dikira.
Wanita itu baik meski agak kejam kelihatannya. Terbukti dari sikapnya yang tidak memaksa untuk memotong anggaran pendidikannya. Padahal keadaan keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Padahal, bisa saja Kevin pindah sekolah. Agar mereka bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Bukan di kontrakan tiga kamar yang sebenarnya cukup sempit untuk mereka.
Sekedar informasi, Kevin dan Joanna tidur sendiri. Sedangkan Jessica dan Rena tidur satu kamar saat ini. Dengan pertimbangan Kevin yang sudah besar dan Jeffrey yang akan keluar sebentar lagi.
Dua minggu kemudian.
Jeffrey hari ini dibebaskan. Namun hanya Jessica, Rena dan Kevin yang menjemput dirinya. Sehingga dia merasa agak kurang senang tentu saja. Mengingat selama ini Joanna yang banyak berjuang untuk kebebasannya.
"Kita langsung pulang, kan? Joanna di rumah sendirian. Masih demam."
Jeffrey mengangguk cepat. Dia sedang memeluk Jessica dan Kevin secara bersamaan. Di depan Rena yang baru saja bertanya.
"Kita naik mobil itu, Jeff." Lagi-lagi jeffrey mengangguk saja. Lalu membawa ibu dan anaknya mendekati mobil yang sudah disewa. Karena dia sudah tidak sabar bertemu istrinya.
Selama perjalanan, Jeffrey khawatir pada Joanna. Sebab wanita itu tidak pernah melewatkan segala hal yang terjadi padanya. Namun sekarang, dia justru tidak datang. Saat dia akhirnya terbebas setelah sekitar tiga bulan dipenjara.
"Sakitnya parah? Sudah berapa hari? Sudah dibawa ke dokter? Tidak biasanya dia seperti ini."
Jeffrey yang sejak tadi duduk di depan bersama supir mulai menoleh ke belakang. Menatap ibunya dan Rena bergantian. Sebab jalanan macet dan mereka akan tiba sedikit lebih lama.
"Kemarin bilang radang tenggorokan, sudah kubelikan obat di apotek juga dengan Kevin semalam. Pagi tadi dia batuk pilek, suaranya hilang. Jadi Mama minta Joanna untuk istirahat saja." Penjelasan Rena membuat Jeffrey tampak kesal. Karena dia jelas semakin khawatir sekarang.
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit, sih? Takut uangnya habis?"
"Joanna yang bawa uang bulanan. Dia sendiri yang minta dibelikan obat saja. Kamu berlebihan, dia hanya batuk pilek biasa. Tidak perlu diperpanjang." ucap Jessica saat melihat kemarahan anaknya. Dia Jelas tidak mau terjadi pertengkaran sekarang. Apalagi ini hanya karena masalah sepele saja.
Jeffrey akhirnya bungkam. Karena tidak enak dengan supir yang mengantar. Hingga mobil tiba di depan kontrakan dan dia bergegas masuk begitu saja. Karena pintu rumah sedikit terbuka.
"Sayang! Kamu sakit apa?" Joanna yang sedang memasak air terkejut saat mendapat pelukan dari belakang. Karena dia tidak mendengar ada suara mobil tiba. Sebab di luar hujan sangat deras.
"Batuk pilek!" Jawab Joanna setelah melepas pelukan. Dia sedikit berteriak karena suaranya hanya akan keluar jika dia memberikan tekanan.
"Ya Tuhan! Sampai hilang begitu suaramu. Kita ke dokter sekarang, ya?" Jeffrey menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Sebab kini mereka sudah berhadapan.
"Cuman batuk pilek biasa, ini. Sebentar lagi juga sembuh. Akhirnya kamu sudah pulang!"
Joanna beralih memeluk Jeffrey. Membuat pria itu tersenyum lebar sekali. Karena sejak tadi ini yang dinanti. Pelukan dari sang istri.
"Ini semua juga berkat kamu, Sayang! Terima kasih banyak!"
Mereka pelukan semakin erat. Tidak sadar jika sejak tadi ada tiga pasang mata yang mengamati mereka dengan tatapan kesal. Karena merasa jika kebebasan Jeffrey bukan hanya usaha Joanna saja, namun usaha mereka bertiga juga sebagai keluarga.
Tbc....
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)