Sudah satu bulan Jeffrey dan Joanna menempati rumah baru mereka. Rumah baru yang membuat keduanya semakin intim tentu saja. Karena Jeffrey bisa bekerja di mana saja dan 24 jam berada di rumah. Menemani istrinya yang kini sudah full menjadi ibu rumah tangga.
"Lama-lama rusak ini kursi!" seru Joanna saat turun dari pangkuan Jeffrey. Karena mereka baru saja melakukan itu di sini. Pada siang hari saat matahari masih terik.
"Tinggal beli lagi. Jangan seperti orang susah, suamimu Jeffrey."
Joanna hanya mendecih pelan. Lalu memungut celana dalam yang tadi dilempar ke bawah meja. Karena terburu-buru saat melepas.
"Setelah ini aku mau belanja. Kamu tidak perlu ikut. Aku mau sekalian facial. Jadi agak lama. Kamu mau nitip apa?"
"Belum kepikiran. Nanti aku telepon kalau ada pengen sesuatu. Kamu naik apa? Mau dijemput pulangnya?" Jeffrey mulai meraih beberapa lembar tisu di atas meja. Guna membersihkan sisa percintaan yang mengenai paha. Kemudian memakai celana setelahnya.
"Jemput naik taksi? Nanti bolak-balik. Boros nanti. Tidak perlu jemput!"
"Iya-iya Ibu Negaraaa!"
Joanna terkekeh dan pergi dari ruang kerja suaminya. Sebab pria itu ingin lanjut bekerja. Setelah memakai hand sanitizer di kedua tangan.
Setelah mandi dan bersiap pergi, Joanna pamit pada Jeffrey. Karena tidak ingin si suami mencari. Mengingat tidak ada yang bisa ditanyai. Sebab mereka hanya berdua di rumah ini.
Jeffrey selesai kerja pada jam empat sore. Dia langsung mandi besar dan melipat pakaian. Sebab ingin sedikit meringankan beban istrinya.
Namun saat sedang asyik melipat sembari mendengarkan musik di ponselnya, tiba-tiba saja ada tamu datang. Jessica dan Rena, sembari membawa makanan.
"Kamu yang melipat baju, Jeff? Bukannya kamu sibuk kerja? Kamu sudah ada banyak klien, kan?" tanya Jessica yang sudah masuk rumah. Karena pintu depan dibuka lebar.
"Istrimu di mana? Bisa-bisanya membiarkan kamu melipat pakaian! Mentang-mentang kamu 24 jam di rumah! Jadi bisa suruh-suruh seenaknya!"
"Belanja bulanan. Tidak masalah kali, Ma. Lagi pula hanya melipat. Pekerjaanku juga sudah selesai untuk hari ini. Gabut juga kalau tidak ngapa-ngapain." Jeffrey masih lanjut melipat. Sembari sesekali menatap ibunya dan Rena yang kini menginspeksi isi rumah.
"Masih kosong, Ma. Sedang belanja bulanan istriku sekarang." Jeffrey berbicara lagi saat melihat ibunya membuka kulkas. Mungkin ingin memeriksa isinya.
Jessica masih tidak menjawab dan mulai memasukkan beberapa kotak isi makanan yang dibawa. Sebab itu adalah tujuannya datang ke sana. Guna memberikan makanan sisa catering arisan yang hari ini dibuat dengan Rena.
"Sini Jeff! Mama ingin bicara!"
Jeffrey yang mendengar itu jelas merasa malas. Sebab dia tahu jika pembicaraan ini pasti akan menyudutkan istrinya. Sebab belakangan, Jessica mulai menunjukkan sikap sinis pada Joanna. Mungkin sedikit terpengaruh dengan Rena, pikirnya.
"Apa lagi, Ma? Joanna mengurusku dengan baik di sini. Tidak perlu—"
"Bukan itu! Ini tentang Lena dan Andra."
Jeffrey yang awalnya ingin lanjut melipat mulai mendekati ibunya. Duduk di kursi makan yang berhadapan dengan si wanita. Sedangkan Rena hanya berdiri di depan kulkas dan mengamati saja.
"Kenapa dengan mereka?"
"Mereka baru saja datang ke rumah, untuk meminta maaf."
Jeffrey yang mendengar itu hanya tersenyum saja. Karena senang namun masih menyimpan kesal juga. Mengingat gara-gara mereka masalah ini membesar. Hingga dia dan ibunya kehilangan rumah serta yang lainnya.
Ya. Jeffrey sudah bisa berdamai dengan semuanya, meski belum seutuhnya. Dia juga mencoba ikhlas meski harus difitnah, lalu menjadi tumbal sakit hati Andra dan Lena atas pertengkaran yang sebelumnya.
Awalnya, Jeffrey memang tidak terima. Dia menangis seharian saat pertama kali masuk penjara. Rasanya dia ingin menghilang saja karena sudah merepotkan orang tua, istri dan anaknya.
Namun perasaan itu hilang saat keesokan harinya Joanna datang. Wanita itu menenangkan dirinya. Mengatakan segala rencana yang akan wanita itu lakukan untuk membebaskannya. Sekaligus memberi alternatif lain jika usahanya gagal.
Kalaupun semua ini tidak berhasil, aku akan menunggu kamu Jeffrey. Hanya dua tahun. Aku yakin kamu bisa bangkit setelah itu.
Jeffrey masih ingat sekali setiap kalimat itu. Kalimaya yang mampu membuatnya kembali semangat menjalani hidup. Meski dalam keadaan tidak berdaya seperti itu.
"Bagus kalau begitu. Tapi apa permintaan maaf itu bisa mengembalikan semuanya? Papa, rumah dan semuanya?" Jeffrey bertanya sarkas. Dia juga melirik Rena yang kini masih berdiri dan memantau perbincangan mereka.
"Jeffrey! Papa meninggal karena memang sudah waktunya. Untuk rumah dan yang lainnya, mereka akan mengembalikan. Mereka juga sudah melakukan investigasi ulang. Namamu akan dibersihkan."
Jeffrey yang mendengar Itu hanya terkekeh saja. Karena dia merasa jika itu semua tidak penting sekarang. Toh, dia sudah dipenjara dan kini telah memulai hidup baru dengan istrinya. Sehingga mau dibersihkan atau tidak, itu tidak akan berpengaruh banyak sekarang. Selagi istrinya masih ada.
"Itu semua sudah tidak penting! Mau dibersihkan atau tidak namaku nanti, aku juga akan tetap hidup dengan baik! Mama lihat sendiri, aku bisa bangkit lagi. Jadi katakan pada mereka, tidak perlu repot-repot melakukan ini!"
Jessica diam saja. Karena dia paham akan rasa sakit hati anaknya. Akan apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah Jessica dan Rena pulang, Joanna tiba. Jeffrey langsung membantu istrinya merapikan belanjaan. Sekaligus cerita tentang kedatangan ibunya dan Rena.
"Bagus, dong! Mereka memang harus tanggung jawab! Aku yakin, kebenaran pasti akan terungkap! Aku penasaran dengan siapa orang yang memfitnahmu sebenarnya. Ingin sekali aku mematahkan hidungnya!" seru Joanna berapi-api. Karena dia memang tengah emosi. Masih dendam akan si pelaku ini.
"Aku sih tidak peduli. Aku sudah merasa nyaman hidup seperti ini. Jujur, aku lelah jika harus menghadiri persidangan lagi. Rasanya melelahkan dan menguras emosi. Aku merasa sudah tidak memiliki energi."
Jeffrey mencuci tangan setelah menutup kulkas. Sedangkan Joanna yang tengah meminum jus buatan Jeffrey mulai mendekati suaminya. Guna memeluk pria itu dari belakang.
"Nanti aku transfer energi setiap hari. Aku ingin yang terbaik untukmu Jeffrey. Kalau itu bisa mengembalikan nama baikmu lagi, aku akan—"
"Aku tidak mau kamu terluka. Aku yakin siapapun pelakunya, pasti akan berbalik melukaimu jika ketahuan. Karena dia tahu hanya kamu yang berharga di hidupku sekarang."
Jeffrey langsung membalikkan badan. Membuat Joanna melepas pelukan. Lalu menatap suaminya yang kini berbalik memeluknya.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)