Satu minggu berlalu.
Flu dan batuk Joanna sudah sembuh. Sehingga kini, dia bisa beraktivitas di luar rumah tentu. Meski sebenarnya tidak ada banyak hal yang bisa dikerjakan saat itu.
"Jeffrey pulang kapan?" tanya Jessica yang baru saja belanja di pasar. Sendirian. Karena Kevin sekolah dan Rena mengasuh anak tetangga
"Katanya sih nanti malam, Ma. Kenapa?" Joanna yang sejak tadi duduk di teras mulai membantu membawa barang belanjaan Jessica. Karena seperti biasa dia akan dibelikan jajanan pasar. Seperti risoles dan es kacang hijau juga.
"Ya sudah. Sebenarnya Mama agak khawatir kalau dia pergi lama-lama. Agar trauma kalau dia tiba-tiba dipenjara lagi seperti sebelumnya."
"Mama tenang saja. Jeffrey aman di Jakarta. Dia masih di tempat Jordan."
Jessica mengangguk singkat. Dia agak merasa terganggu sekarang. Karena Jeffrey yang sedang menemui klien di Jakarta harus menginap di tempat Jordan. Mantan pacar istrinya yang pernah diajak tinggal bersama.
"Lain kali kalau Jeffrey ada kerjaan di Jakarta lagi, lebih baik berikan anggaran untuk hotel juga. Dia pasti tidak enak kalau harus menumpang di tempat mantan pacar istrinya."
Joanna yang akan memakan risoles mulai terdiam. Dia menatap Jessica yang sedang mencuci ikan. Agar tidak terlalu amis saat masuk kulkas.
"Iya, Ma. Aku tidak kepikiran dampai kesana. Lain kali aku akan buatkan anggaran untuk hotel juga."
Joanna mengurungkan niat untuk makan. Lalu membuka kulkas guna merapikan belanjaan. Sebab dia agak sungkan juga jika tidak melakukan apa-apa di rumah.
"Kamu apa tidak mau kembali kerja? Lumayan kalau dapat gaji UMR saja. Bisa kamu pakai untuk sewa rumah lain. Tidak mungkin kalau kalian tinggal di sini selamanya."
"Maksudnya Mama mau kita pindah ke rumah yang lebih besar? Maaf, ya, Ma? Kalau selama ini Mama kesempitan tidur dengan Rena."
Joanna yang sudah merasa kesal mulai berbicara sarkas. Sebab dia tahu jika Jessica mulai sedikit merubah sikap. Dia tidak lagi sehangat dulu. Mungkin karena keadaan yang sudah dilalui wanita itu.
"Bukan kita. Tapi kamu dan Jeffrey saja. Kevin akan tinggal bersama kami. Toh, setelah ini dia akan lulus SMP. Dia akan masuk SMA negeri dekat sini. Jadi dia tidak perlu ikut kalian nanti."
Joanna yang mendengar itu jelas merasa tidak enak hati. Karena sempat suudzon tadi.
"Aku akan bicara dengan Jeffrey lagi. Kami belum membicarakan ini."
Joanna mulai mencuci tangan. Dia berniat kembali ke kamar. Guna mencari lowongan pekerjaan yang masih bisa menerima dirinya. Sebab dia juga berminat akan usulan Jessica. Untuk pindah dari kontrakan ini segera.
Malamnya, Jeffrey pulang terlambat. Dia juga sudah makan di jalan. Karena dia naik ojek dan sempat turun untuk makan. Sekalian membelikan orang rumah juga. Sebab dia tidak diizinkan Joanna untuk membeli oleh-oleh dari Jakarta.
"Buat Kevin saja. Aku masih kenyang." ucap Joanna saat Jeffrey masuk kamar. Dia membawa piring yang sudah berisi sate ayam dan lontong juga. Lengkap dengan garpu dan sendok pula.
"Kevin sudah dapat tadi. Mama dan Rena juga. Aku beli untuk kita semua."
Jeffrey yang baru saja selesai mandi langsung mendekati Joanna. Wanita itu sedang memainkan ponsel di atas ranjang. Dengan raut serius tentu saja.
"Kamu ngapain, sih? Sibuk amat! Ini suaminya baru pulang bukannya disayang tapi malah dicuekin sekarang!"
Jeffrey meraih ponsel Joanna. Lalu diletakkan di atas meja. Di samping piring yang berisi makanan.
"Kamu pasti kesel, ya? Karena selama di Jakarta tinggal di tempat Jordan. Aku salah, seharusnya aku pesankan kamu hotel juga. Hanya gara-gara berhemat, kamu jadi kurang nyaman selama di sana. Sorry, Sayang."
Jeffrey terkekeh pelan. Lalu mengecup tangan kanan Joanna yang baru saja menyentuh pipinya. Sebab dia merasa lucu tentu saja. Merasa senang juga karena begitu diperhatikan oleh istrinya tersayang.
"Iya. Dimaafkan. Aku salah juga karena tidak berpikir sejauh itu sebelumnya. Di sana masih ada foto kalian. Rasanya ingin aku hancurkan! Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa paham juga. Masuk akal kalau Jordan masih sayang kamu sekarang. Karena kamu memang layak disayang banyak orang."
Joanna menarik tangan. Karena Jeffrey mulai menggigit gemas jari telunjuknya. Seolah tengah ingin menggoda.
"Jordan cerita banyak hal kemarin. Dia juga cerita tentang kamu yang dulu pernah membantunya bangkit dari kegelapan. Dia pernah kecanduan narkoba, kan? Makanya kalian tinggal bersama. Agar kamu bisa memantau setiap pergerakannya, agar dia tidak kembali melakukan hal yang sama." Jeffrey mendekatkan badan. Lalu menangkup wajah istrinya. Sebelum mengecup bibirnya pelan.
"Aku bangga karena memilikimu. Rasanya aku benar-benar beruntung karena kamu mau denganku. Padahal kamu bisa saja meninggalkan saat aku terpuruk."
Joanna menyentuh sisi kiri leher suaminya. Lalu mengusap rambut belakangnya pelan. "Aku tidak mungkin meninggalkan suamiku. Apalagi hubungan kita sedang baik-baik saja saat itu. Kecuali kalau ketahuan selingkuh, baru kutinggalkan kamu!"
Jeffrey terkekeh pelan. Lalu memberi banyak kecupan dan disusul dengan hisapan di bibir bawah istrinya. Untuk yang pertama kali setelah dia masuk penjara. Karena sebelum berangkat ke Jakarta, istrinya masih batuk pilek parah.
Explicit content ada di karya karsa. Aku publish di sini kalau chapter 1-50 dapat 10 komentar di setiap chapternya.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)