54/54

3.1K 139 9
                                        

Beberapa bulan kemudian.

Joanna sedang berada di hotel sekarang. Guna bersiap untuk menghadiri acara pernikahan adiknya. Mengingat kini dia sedang berada di Singapura. Untuk menghadiri pernikahan Putri dan Brian.

"Sudah, Sayang?" tanya Jeffrey yang baru saja membuka pintu kamar. Karena sebelumnya dia tengah menelpon klien di ruang tamu kamar yang disewa. Mengingat kini, mereka menginap di suite room sekarang.

"Sudah. Kita ke ballroom nanti-nanti saja. Masih ada satu jam."

Jeffrey menggeleng pelan. Lalu meraih tas kecil milik istrinya. Karena dia ingin mereka berangkat sekarang. Sebab dia akan menjadi MC di sana. Menggantikan teman Brian yang tiba-tiba saja diare dan sudah dibawa ke rumah sakit sekarang.

"Aku menggantikan teman Brian untuk jadi MC. Kita harus berangkat sekarang!"

Pinggang Joanna dirangkul suaminya. Karena mereka harus ke tempat acara. Agar Jeffrey bisa sedikit latihan. Mengingat pernikahan akan diadakan pada ballroom hotel yang diinapi sekarang.

Beberapa jam berlalu. Acara pernikahan Putri dan Brian berjalan dengan lancar. Meski Jeffrey harus menjadi MC dadakan.

Namun di akhir acara, ada sedikit ketegangan di sana. Saat Joanna tidak ada ketika sesi foto keluarga dilangsungkan. Membuat Jeffrey harus berlari ke kamar guna membawa kembali istrinya. Sebab wanita itu pergi tanpa berpamitan.

"Hanya karena aku sangat mencintaimu, bukan berarti aku tidak bisa marah padamu!" Jeffrey membentak saat menutup pintu kamar. Setelah dia kembali dari melangsungkan sesi foto bersama di ballroom yang ada di lantai satu sedangkan kamar mereka ada di lantai sebelas.

Joanna diam saja. Sejak tadi dia terus diam. Bahkan dia tidak tersenyum saat sesi foto bersama. Seolah tidak bahagia akan pernikahan adiknya.

"Kamu pikir aku tidak akan marah karena tingkahmu yang kekanakan itu? Kamu pikir aku akan diam saja saat melihatmu bertingkah buruk pada keluargamu? Bahkan di hari bahagia adikmu!"

Jeffrey mendekati Joanna yang kini sudah berada di kamar mandi. Menghapus riasan dengan cleansing oil. Sebab dia sudah ingin beristirahat saat ini.

"Joanna! Aku berbicara denganmu!" Jeffrey meraih pergelangan tangan kanan Joanna. Mencegah tangan wanita itu agar tidak kembali menyapu wajah. Sebab dia ingin berbicara sekarang.

"Kamu mau aku bereaksi seperti apa sekarang? Di matamu sekarang aku sangat bersalah, kan? Ya sudah, aku terima. Aku memang salah. Aku memang jahat di mata kalian!"

Joanna menarik tangan. Lalu membasuh wajah dengan tergesa. Dengan banyak sabun yang secara asal dituang. Sebab dia malas lama-lama berdebat dengan suaminya.

"Aku lelah Jeffrey, mau tidur setelah ini. Kalau kamu masih mau marah, aku akan sewa kamar lain!"

Joanna melepas dress navy di depan suaminya. Lalu mandi di bawah shower air hangat. Tidak peduli akan reaksi si pria. Karena dia sedang dalam mode lelah sekarang.

"Kamu keterlaluan!"

Jeffrey keluar kamar. Dia kesal karena diabaikan. Serta tidak berhasil membuat Joanna meminta maaf, atau paling tidak mengakui jika dirinya telah berbuat salah. Bukan justru bersikap apatis seperti sekarang.

———

Besoknya Joanna bangun siang. Dia tidak menemukan Jeffrey di sampingnya. Sebab pria itu sudah berada di bawah. Sarapan bersama keluarganya. Karena ini sudah jam sembilan.

Joanna sengaja berdiam diri di atas ranjang cukup lama. Sembari berkirim pesan pada seseorang. Sekaligus melihat-lihat pakaian. Mengingat nama baik Jeffrey sudah dipulihkan. Sehingga semua asset yang sempat disita telah dikembalikan. Termasuk rumah lama mereka. Namun mereka tidak meninggalinya. Karena Joanna lebih memilih tinggal di apartemen dan meminta agar rumah itu diberikan pada Kevin dan Rena saja.

Tetapi sampai sekarang, rumah itu masih kosong juga. Karena kevin dan Rena memutuskan untuk ikut tinggal bersama Jessica di rumahnya. Di rumah lama mereka. Mengingat Andra and Lena sudah mengembalikan uang sogokan yang sebelumnya diberikan. Sehingga Jessica bisa membeli kembali rumah peninggalan mendiang suaminya.

Kevin juga sudah lulus SMP sekarang. Dia berencana sekolah di SMA dekat rumah Jessica. Agar bisa tinggal bersama ibu dan neneknya. Karena dia sudah sadar dan mulai merelakan ayahnya dengan istri barunya.

"Aku tunggu di bawah! Tapi kamu malah rebahan!"

Joanna terperanjat saat Jeffrey tiba-tiba saja masuk kamar. Pria itu mendekat, dengan raut marah. Karena dia menunggu si istri untuk sarapan bersama keluarganya. Sebelum mereka kembali ke Indonesia.

"Setelah ini mereka pulang, kamu tidak mau berpamitan pada mereka!?" Jeffrey menaikkan nada suara. Membuat Joanna terpancing dan mulai mendudukkan badan. Sebab dia memang sengaja melewatkan sarapan karena malas bertemu mereka.

"Tidak. Lagipula untuk apa? Aku mau datang saja seharusnya mereka senang."

"Joanna!"

"Kenapa kamu selalu mempermasalahkan hal ini, sih? Aku bukan kamu yang tumbuh di keluarga cemara! Aku tumbuh di keluarga disfungsional! Aku terbiasa menerima bentakan dan luapan emosi mereka! Lalu apa salah jika sekarang aku ingin menghindar? Ingin berjauhan dari mereka yang telah menurunkan rasa trauma! Trauma akan pernikahan dan memiliki anak!"

Joanna berdiri sekarang. Dengan membawa ponselnya. Karena dia ingin keluar dari kamar sekarang.

"Kamu tidak akan bisa mengerti Jeffrey, anak dari keluarga baik-baik sepertimu tidak akan bisa relate dengan semua ini." Joanna menepuk pundak Jeffrey dua kali sebelum pergi. Meninggalkan suaminya yang kini hanya mematung dan tidak mengatakan apapun lagi.

Setelah keluar dari kamar, Joanna masuk kamar mandi yang ada di depan. Guna membasuh wajah. Lalu turun ke restoran karena sudah lapar.

Namun saat tiba di sana, dia menemukan Brian dan beberapa temannya. Tidak ada Putri dan para orang tua. Apalagi keluarga si pria, pertanda jika mereka sudah selesai sarapan.

Untung hanya mereka.

Batin Joanna yang mulai mendekat. Sebab Brian yang sudah melihatnya mulai melambaikan tangan. Guna memintanya datang.

"Mau sarapan, Kak? Duduk di sini saja. Ini mereka juga baru mau sarapan. Kak Jeffrey baru naik, kan?"

Joanna mengangguk singkat. Lalu menatap dua teman Biran bergantian. Mereka adalah Steve dan Laura. Pasutri baru asal Indonesia juga, sehingga mereka langsung akrab.

Setelah mengambil makanan, Joanna duduk di samping Brian. Berhadapan dengan dua temannya. Namun tidak lama kemudian Jeffrey datang dan ikut duduk disampingnya. Sehingga dia jadi malas bergabung dalam perbincangan. Padahal sebelumnya, dia sangat exited pada mereka. Sebab Laura seorang fashion designer di mana itu adalah salah satu cita-cita lamanya.

"Aku berencana lahiran di sini sebenarnya. Atas saran mertua, kembar soalnya. Agak riskan."

"Kamu hamil kembar sekarang?" tanya Joanna tiba tiba. Karena tidak menyangka jika wanita ramping di depannya tengah hamil kembar.

"Iya, tiga bulan." Laura mulai berdiri sekarang. Memamerkan perutnya. Karena sejak tadi dia hanya duduk saja. Sehingga tidak heran jika Joanna sempat terkejut sekarang.

"Kita kebobolan." Stevan tekken pelan. Lalu meminta istrinya kembali duduk sekarang.

"Wah! Kok bisa hamil tapi perutnya saja yang besar? Rahasianya apa?" tanya Joanna penasaran. Karena setahunya, orang hamil pasti akan bertambah berat badan seiring bertumbuhnya kehamilan. Berbeda dengan Laura yang tampak seperti model yang makan banyak. Sehingga yang membesar hanya bagian perut saja.

"Kenapa tanya-tanya? Bukannya kamu tidak mau punya anak?" tanya Jeffrey sembari menatap istrinya lekat-lekat. Seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan bukan sebuah candaan.

Membuat Brian dan kedua temannya hanya bisa mematung saja. Sebab sadar jika pasangan ini sedang tidak baik-baik saja. Sehingga muncul percikan seperti sekarang.

Kalau mau baca next chapter duluan ada di karyakarsa, ya.

Tbc...

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang