Brian yang lebih cepat sadar akan ketegangan di sana mulai tertawa sumbang. Seolah menganggap jika ucapan Jeffrey tidak berarti apa-apa. Mengingat zaman sekarang topik childfree sudah marak.
"Belum siap kali, Kak. Putri juga sama, dia mau menunda dulu sampai apartemen yang kita incar selesai dibangun oleh developernya. Supaya mobilitas kita mudah nantinya, karena dekat dengan rumah sakit kita kerja."
Jeffrey mulai melipat tangan di depan dada. Lalu beralih menatap Brian yang ada di samping istrinya. Sehingga dia mulai memajukan badan juga.
"Kalau itu sih masih masuk akal, karena memiliki tenggat waktu yang jelas. Tidak dengan istriku yang memang sepertinya tidak akan pernah siap memiliki anak. Karena dia tidak punya alibi yang jelas."
Joanna yang sebelumnya masih lanjut mengunyah mulai tidak nafsu makan. Karena merasa jika sindiran Jeffrey sudah keterlaluan. Mengingat mereka sedang berhadapan dengan orang asing sekarang.
"Temanku juga banyak yang seperti itu, Kak. Masa lalu orang kan beda-beda. Mungkin Kak Joanna masih ada trauma akan pengasuhan orang tua. Sehingga sekarang dia merasa kebingungan jika ditanya alasannya apa." Laura berusaha membela. Sebab dia sering melihat kasus seperti ini juga. Tidak hanya di dunia maya, namun di dunia nyata juga.
Jeffrey baru saja akan membuka suara. Ingin menanggapi ucapan Laura. Namun Joanna telah mendahului dirinya.
"Jeffrey benar, Ra. Aku memang tidak mau punya anak, selamanya. Bukan sedang ingin menunda. Maaf, ya? Karena perselisihan kami telah membuat kalian agak takut dan kebingungan. Kalau begitu aku permisi saja."
Joanna bangkit dari duduknya. Sembari membawa piring dan gelasnya. Karena dia sudah tidak berselera.
Brian yang merasa bertanggungjawab akan hal ini tampak bingung. Ingin mengejar kakak iparnya atau tetap duduk di situ. Mengingat Jeffrey tampak terpaku. Dengan raut kecewa tentu. Karena dia tidak terima akan apa yang dikatakan wanita itu.
"Kak Jeffrey! Kak Joanna tidak dikejar? Sepertinya dia marah. Sebelum turun kalian bertengkar, ya?"
Jeffrey tidak menjawab. Namun dia lekas bangkit dan menepuk pundak Brian. Seolah ingin pamit sekarang. Guna mengejar istrinya yang tampak begitu kesal.
"Sepertinya pertengkaran mereka serius, Bri."
Brian menagguk cepat saat Stevan berkomentar. Dia masih menatap Jeffrey yang kini berjalan cepat menyusul istrinya. Karena tidak ingin tertinggal lift mungkin saja.
"Ucapanmu tadi tidak serius, kan?" tanya Jeffrey setelah berhasil ikut masuk lift. Saat ini mereka berdua saja. Sehingga dia berani bertanya.
"Serius. Aku memang tidak mau punya anak. Toh, sekarang sudah ada Kevin juga. Keturunan keluargamu tidak akan putus meski aku tidak punya anak." Joanna melipat tangan di depan dada. Dia menatap Jeffrey lekat-lekat. Seolah ingin menantangnya.
"Gil—"
Lift yang sebelumnya sudah naik kembali terbuka. Karena ada beberapa orang yang ingin naik juga. Sehingga pertengkaran mereka terjeda.
Keduanya diam saja hingga lift berhenti di lantai sebelas. Namun Joanna berlajan cepat dan membuat Jeffrey tertinggal. Karena dia muak melihat wajah si pria sekarang.
"Kamu hilang akal, hah!? Kamu pikir aku setuju dengan renacana gilamu itu? Aku juga mau punya anak denganmu!"
Teriak Jeffrey setelah menutup pintu kamar dengan kasar. Dia diam di tempat. Namun pandangannya masih lurus ke depan. Pada Joanna yang kini mulai meriah koper miliknya. Guna berkemas tentu saja.
"Aku memang gila. Makanya sering datang ke rumah sakit jiwa. Salahmu sendiri mau menikah dengan wanita dengan penyakit mental!" ucap Joanna asal. Dia sudah kepalang sakit hati sekarang. Sehingga ucapannya tidak bisa dikontrol dengan benar.
"Oh, kamu mau playing victim sekarang? Joanna, konflik awal kita bukan tentang pernikahan kita. Tapi tentang sikap burukmu pada keluarga! Tidak ada sangkut pautnya dengan anak apalagi pernikahan kita! Bisa kamu rasional sedikit saja?" Jeffrey mendekati Joanna yang kini sedang memasukkan barang-barang ke koper dengan asal. Seolah ingin pergi sekarang. Padahal mereka masih ada dua jam sebelum check out dari sana.
"Aku tahu kamu masih punya rasa sakit hati pada orang tua, pada pola pengasuhan mereka yang kurang benar. Tapi mereka orang tuamu juga! Mereka baru pertama kali hidup dan menjadi orang tua, tidak bisakah kamu memaafkan mereka? Supaya jalan pernikahan kita mudah." Jeffrey mencengkram pergelangan tangan kanan Joanna. Karena ingin mencegah wanita itu pergi dari sana.
"Masalah kemarin sudah bisa kita lewati dengan mudah. Apa kamu rela perjuangan kita sia-sia? Joanna... kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, meski berawal dari perjodohan."
Jeffrey meraih tangan Joanna yang lainnya. Raut wajah yang sebelumnya tegang berubah teduh dalam sekejap. Seolah kemarahannya sirna begitu saja.
"Aku minta maaf karena sudah berbicara menyakitkan tadi. Aku seperti itu karena kesal—"
"Kamu tidak tulus meminta maaf, Jeff. Aku tahu tadi kamu memang sangaja ingin menyakitiku. Sama seperti keluargaku." Joanna langsung menarik tangan. Lalu meraih koper dan tas juga. Sebab dia ingin menenangkan diri sekarang.
Sorry baru bisa update gengs, aku lagi nemenin bapak di RSUD. Jadi nggak bisa sering update. Anyway, kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa, ya. See yaaa!
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)