Jeffrey dan Joanna tiba di tempat tujuan pada jam delapan malam. Sebab mereka berangkat sore sebelumnya. Takut terjebak macet semakin lama jika berangkat malam.
Sehingga kini, Joanna dan Jeffrey bisa makan malam di sana. Tidak perlu memakan bekal di rest area. Sebab Jessica memang sudah menyiapkan makanan untuk mereka.
Selama makan, hanya Jeffrey dan orang tua Joanna yang berbicara. Sedangkan Joanna hanya diam saja, dia sibuk dengan makanan yang ada di piringnya. Sama seperti ketiga adiknya yang tentu saja pulang dari perantauan saat lebaran.
Dari perbincangan di sana Jeffrey jadi tahu apa pekerjaan ketiga adik istrinya. Karena sebelumnya, Joanna enggan membahas. Sebab terakhir yang dia katakan, mereka sudah bermusuhan sejak lama. Entah benar atau tidak.
Adik pertama Joanna bernama Nikolas. Dia bekerja di Papua, di Freeport Indonesia yang merupakan perusahaan tambang. Adik kedua Joanna bernama Putri, dia bekerja sebagai perawat di Singapura dan sudah menjadi permanent resident di sana. Sehingga kini, dia memiliki passport sakti Asia. Sedangkan adik ketiga Joanna bernama Julian, dia bekerja di Nestle Semarang. Namun jarang pulang karena tuntutan pekerjaan. Sama seperti dua kakak teratasnya.
"Tahun depan Putri akan menikah. Dia akan menikah di Singapura. Kira-kira kamu dan orang tuamu bisa datang?"
Jeffrey sempat melihat raut terkejut istrinya sebelum menjawab. Namun dia berusaha fokus pada Liana yang baru saja bertanya. "Bisa, Bu. Nanti aku yang akan bilang mereka. Siapa calonnya? Orang mana?"
"Tahun depan kamu kan sibuk. Mana bisa ikut!"
Jeffrey menatap Joanna yang tiba-tiba berbicara. Padahal Putri baru saja akan bersuara. "Kalau tidak bisa ikut tidak apa-apa, Kak. Aku minta doanya saja. Calonku dokter di rumah sakit tempatku kerja, Brian namanya. Orang tuanya orang Indonesia, tapi dia lahir dan besar di sana. Jadi ya, kita berencana menikah di sana saja."
Jelas Putri panjang lebar. Membuat Jeffrey tersenyum lega. Karena tidak perlu merasa khawatir sekarang. Mengingat si adik ipar baru berusia 25 tahun sekarang.
"Sudah pernah ke sini orangnya?"
"Sudah, Kak. Sekali saja, bulan lalu sebelum puasa. Sudah bertemu Ibu Bapak juga."
Jeffrey kembali menyunggingkan senyuman. Lalu menatap istrinya yang hanya fokus pada makanan. Seolah tidak tertarik dengan topik pembicaraan.
"Kapan-kapan kita ke Singapura, ya? Kita perlu bertemu Brian juga. Sekalian bawa Ibu Bapak. Nikolas dan Julian bisa kosongkan jadwal kalau mau ikut juga."
Julian mengangguk semangat. Pertanda jika wanita 22 tahun itu setuju juga. Mengingat dia memiliki banyak jatah cuti yang belum terpakai sekarang.
Namun berbeda dengan Nikolas yang tampak tidak tertarik ikut serta. Pria 28 tahun itu menggeleng pelan. Karena tidak ingin ikut mereka.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut, Kak. Susah izinnya."
"Nanti bisa izin di jauh-jauh hari. Kalau masih sulit, nanti aku yang izinkan. Beri saja kontak HRDnya."
"Dia bukan anak kecil lagi. Kenapa juga kamu yang harus minta izin! Kalau dia tidak mau yasudah! Tidak usah. Aku juga belum setuju, kan? Kamu tidak perlu persetujuanku memang?"
"Kamu kan tidak kerja, Sayang. Kamu available 24 jam."
"Tapi bukan untuk mereka. Lagi pula terserah dia mau menikah dengan siapa. Dia bukan anak kecil yang masih perlu diawasi keputusannya. Tidak perlu berlebihan!"
Jeffrey yang mendengar itu jelas merasa tidak enak pada mertuanya. Karena mereka tampak kecewa. Padahal sebelumnya, mereka sempat terlihat senang saat mendengar rencananya.
"Ayo tidur! Besok pagi kita kembali ke Surabaya! Aku tidak betah lama-lama di rumah!"
Joanna langsung pergi masuk kamar. Meninggalkan Jeffrey yang merasa malu jelas saja. Karena kelakuan istrinya.
"Maaf, ya? Joanna mau datang bulan. Wajar kalau emosinya meledak-ledak."
"Kita memang harus selalu mewajarkan, Kak. Mau sekurang ajar apa dia. Karena dia memang anak kesayangan Ibu Bapak."
"Nikolas!" Tegur Liana pada anaknya. Membuat pria berambut lebat itu mulai berdiri sekarang. Karena malas mendengar ocehan ibunya.
"Aku benar, kan? Dia memang anak kesayangan kalian. Apapun yang dia minta selalu kalian turuti dalam sekejap! Hanya karena dia anak pertama!"
"Kak Niko benar, selama ini aku juga selalu merasa demikian. Kak Putri pasti selalu menjadi korban. Kalian selalu mengutamakan kakak pertama, sedangkan dia sebagai anak tengah selalu diabaikan. Selalu memakai pakaian bekas dan jarant diperhatikan. Bahkan saat kita semua di rumah, hanya Kak Joanna yang selalu ditanya mau makan apa sebelum Ibu masak. Padahal kami juga mau request makanan."
Liana tidak sanggup berbicara. Dia hanya bisa meluruhkan air mata sembari memegangi dada. Karena tidak percaya akan diserang anak-anaknya.
"Kenapa namaku pasaran sendiri? Putri! Apa karena aku jelek dan tidak secantik Kak Joanna yang berkulit putih dan bertubuh langsing? Dia juga pintar karena selalu rangking. Aku juga mau disayang seperti dia, Bu! Aku mau pakai rok pendek dan baju-baju lucu seperti dia saat di rumah! Bukan kaos kebesaran dan celana bekas Kak Nikolas!"
Putri menangis sekarang. Sedangkan Julian mulai memeluk karena ingin menenangkan. Namun tentu ditolak dan langsung pergi dari sana. Diikuti Nikolas juga.
"Jeffrey, maaf karena kamu harus mendengar ini. Lebih baik kamu masuk kamar, tenangkan Joanna. Biar kami yang urus sisanya." ucapan Rendy membuat Jeffrey masuk kamar. Dia benar-benar marah. Karena istrinya begitu tidak bersyukur baginya. Sebab masih bersikap kurang ajar padahal sudah menjadi anak kesayangan di rumah.
Namun saat akan masuk kamar, tiba-tiba saja ponsel Jeffrey bergetar. Karena ada pesan dari ibunya datang. Sehingga dia mengurungkan niat untuk menemui istrinya.
Mama
Pulang kapan?
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)