Besoknya, Jeffrey dan Joanna survey mencari kontrakan seharian. Karena Jeffrey tidak kerja di kantor juga. Sehingga bisa bekerja kapan saja.
"Aku lebih suka rumah yang ketiga karena pas untuk kita. Tidak terlalu kecil dan besar. Dekat dengan banyak tempat juga." ucap Joanna yang saat ini sedang makan siang mie ayam di pinggir jalan. Bersama suaminya tentu saja.
"Aku sebenarnya lebih suka yang pertama. Agak mahal memang karena lebih besar. In case kita ada tamu yang ingin menginap."
"Tamu siapa? Pokoknya aku mau rumah yang ketiga saja. Lebih masuk akal juga harganya. Rumah yang pertama ini terlalu bagus dan besar. Pusing aku bersih-bersihnya, belum perawatannya pasti mahal juga. Kita tidak punya ART sekarang. Aku pasti capek kalau bersih-bersih sendirian!"
"Nanti aku bantu, lah! Aku kan kerja di rumah. 24 jam aku bisa kamu suruh-suruh kalau perlu bantuan!"
Joanna menggeleng cepat. Sebab dia tidak setuju dengan usulan suaminya."No! Kamu cukup kerja saja! Aku yang akan mengurus urusan domestik di rumah! Kamu jadi raja dan aku ratunya. Kita sama-sama mengerjakan peran kita. Karena aku tidak bisa lama-lama hidup susah. Badanku pegal-pegal karena sudah lama tidak pilates dan spa. Ditambah wajahku kering karena tidak mampu repurchased moisturizer yang seharga setengah juta."
Jeffrey terkekeh sekarang. Padahal seharusnya dia agak tersinggung dan kesal mungkin saja. Namun Joanna justru membuat semangatnya semakin membara.
"Fine! Kita pilih rumah ketiga. Tapi setelah ini aku antar kamu ke tempat spa dan beli moisturizer seharga setengah juta. Sekalian daftar pilates juga."
"Nanti, lah! Itu bukan prioritas sekarang. Kita harus patuh dengan anggaran yang aku rancang supaya keuangan kita tidak berantakan!"
"Sesekali cheating tidak apa-apa. Atau potong saja dari anggaran vitaminku? Semalam kulihat hampir dua juta untuk satu bulan anggarannya. Lebih baik untuk kamu pilates dan spa. Karena aku masih bisa sehat meski tanpa vitamin-vitaminan."
"Tidak-tidak! Vitamin itu sudah anjuran dari dokter saat kamu medical check up yang terakhir kali! Kamu ada bawaan penyakit dari Papa Sandi! Aku tidak mau kamu cepet-cepet mati! Aku belum siap jadi janda Jeffrey! Apalagi dalam keadaan miskin!"
Jeffrey lagi-lagi tertawa. Dia merasa gemas sekali dengan Joanna. Karena segala ucapan frontal yang keluar dari mulutnya begitu lucu baginya, meski si wanita sedang serius sebenarnya.
———
Selesai makan, Jeffrey membawa Joanna belanja skincare. Lalu mendatangi tempat spa. Mereka dipijat berdua selama hampir dua jam. Sehingga saat kembali ke rumah, tubuh mereka terasa begitu segar. Hingga mereka lupa untuk menghubungi pihak properti yang ingin diberi kabar.
"Kami akan ke sana sekalian serah terima kunci. Besok lusa baru kami tinggali." ucap Jeffrey saat Joanna masuk kamar. Karena ingin tidur sekarang. Setelah seharian berada di luar. Guna mengurus kepindahan mereka segera. Sebab mereka tidak nyaman tinggal bersama Jessica dan Rena.
"Besok aku ikut juga?" Kali ini Joanna yang bertanya. Dia mulai memakai pelembab wajah yang baru saja si suami belikan. Menggunakan uang yang didapat sebelumnya.
"Iya, lah. Sekalian beli furniture juga."
"Kenapa tidak bawa kasur ini saja? Sayang kalau kita beli yang baru lagi, kan?"
"Kamar ini kan mau dipakai Mama. Yakali kita kosongkan juga."
"Iya, sih. Ya sudah, kita beli seperlunya saja. Kita list sekarang supaya tidak kebanyakan. Takutnya saat sampai sana kalap."
"Iya. Sayang!"
"Dipan, kasur, meja, kaca dan sofa untuk ruang tamu. Siapa tahu ada temanmu yang berkunjung."
"Sekalian beli kulkas dan peralatan dapur. Katamu mau masak supaya bisa meal prep setiap minggu."
"Iya, sih. Beli setrika uap juga sekalian. Aku akan jadi wanita rumah tangga sungguhan sekarang."
Jeffrey terkekeh pelan. Lalu menepuk sisi ranjang yang ada di sampingnya. Agar istrinya segera berbaring di sana.
"Kita seperti pengantin baru saja. Rasanya agak aneh. Tapi menyenangkan juga. Seperti main rumah-rumahan."
Joanna menangguk setuju. Karena dia juga merasa seperti itu. "Aku lupa kalau kamu kerja di rumah. Kita harus beli meja kerja dan kursinya juga. Supaya kamu nyaman."
"Iya, Sayang. Atur saja."
Mereka sudah berpelukan sekarang. Sembari membayangkan bagaimana layout rumah yang akan mereka tinggali besok lusa. Karena mereka jelas tidak sabar ingin tinggal berdua saja.
"Tadi lupa belum daftar pilates."
"Tidak usah, lah. Untuk beli mesin cuci dulu saja. Kalau dipikir-pikir, kasihan tanganku nanti kalau keseringan terkena detergen pakaian. Bisa kasar."
Jeffrey terkekeh pelan. Lalu menggigit gemas tangan istrinya. Sebab wanita itu begitu menggemaskan baginya.
Kalau mau mau baca duluan bisa ke karyakarsa, ya.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
Lãng mạnJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)