Keadaan Sandi yang baru saja sehat kembali drop saat tahu Jeffrey dibawa dua orang berpakaian hitam-hitam. Mereka juga membawa surat penangkapan atas tuduhan korupsi dana pembuatan jembatan di Papua.
Jessica jelas histeris sekarang. Dia menangis saat anaknya dibawa. Belum lagi suaminya juga baru saja pingsan. Sehingga dia tidak bisa ikut ke kantor polisi bersama si anak.
"Mama tenang saja. Jeffrey aku yang akan temani di kantor polisi. Aku yakin ini hanya salah paham saja. Jeffrey kita tidak mungkin korupsi seperti apa yang telah mereka tuduhkan."
Jessica mengangguk cepat. Dia juga menepuk punggung Joanna sebelum mengekori Jeffrey di belakang. Agar bisa menutupi tangan Jeffrey yang diborgol menggunakan jaket denim miliknya. Sehingga kini Joanna hanya memakai kemeja hitam tipis saja.
"Sayang, kamu di sini saja. Kamu temani Mama di rumah sakit. Nanti pengacaraku pasti datang, kamu tidak perlu—"
"Shut up, Jeffrey! Aku juga tahu hukum meskipun sedikit. Lebih baik kamu diam sampai pengacaramu datang ke kantor polisi!"
Joanna tampak marah. Membuat Jeffrey terkekeh pelan. Karena paling tidak, dia bisa sedikit lega sekarang. Sebab Joanna sekuat itu ternyata. Dia tidak menangis seperti ibunya, sehingga dia tidak terlalu panik seperti mereka. Mungkin lain cerita jika istrinya ikut menangis juga.
Joanna ingin mengekori Jeffrey hingga masuk mobil polisi. Namun dia tidak diizinkan ikut masuk ke dalam mobil. Tetapi bukan Joanna namanya jika dia tidak keras kepala dan agak sinting. Karena sedetik kemudian dia berhasil membujuk polisi, agar diizinkan ikut ke dalam mobil meski dalam keadaan sempit.
Jeffrey meringis karena dicubit si istri. Karena dia terus terkekeh sejak tadi. Membuat Joanna semakin kesal karena panik.
"Aku khawatir! Kenapa kamu tertawa sejak tadi, sih?"
Bisik Joanna yang hampir menangis. Karena menahan kesal sejak tadi. Mengingat disini masih ada dua orang yang menghimpit. Mungkin takut Jeffrey akan kabur lewat jendela samping. Dimana itu tidak masuk akal sekali.
"Kamu tenang saja. Tidak perlu khawatir berlebihan. Aku tidak salah, mereka tidak akan membawaku lama-lama." Jeffrey sedikit mengendus rambut istrinya saat berbisik pelan. Sebab dia sangat percaya diri sekarang. Ya, karena merasa tidak salah. Sehingga dia berani berkata demikian.
"Pengacaranya masih kakak Om Andra?"
"Iya. Kamu tenang saja, Om Renal bisa dipercaya."
Joanna masih tidak tenang. Karena dia belum kenal dekat dengan si pengacara. Sehingga dia belum bisa memastikan jika Renal bisa diandalkan atau tidak.
"Kenapa tidak pakai Jordan saja? Dia juga hebat. Aku sering—"
"Bisa kamu tidak bahas dia sekarang? Aku paling benci saat kamu membahas Jordan. Mengingat kalian tinggal bersama cukup lama dan ah! Sudah lah! Pokoknya jangan pernah hubungi dia! Atau aku akan marah!"
Joanna yang mendengar itu langsung bungkam. Meski Jeffrey berbicara cukup pelan. Masih berbisik di telinganya. Agar dua polisi di samping mereka tidak jelas mendengar.
———
Sudah beberapa jam berlalu. Namun Joanna masih belum bisa bertemu suaminya. Meski dia sempat bertemu Renal si pengacara.
"Bagaimana, Pak?" tanya Joanna saat Renal keluar ruangan. Sebab dia baru saja mendampingi Jeffrey saat diinterogasi oleh orang-orang di dalam.
"Ini sudah lebih dari lima jam. Dia belum makan, aku kasihan. Paling tidak biarkan dia makan dulu sebentar." Joanna berkaca-kaca. Dia benar-benar memikirkan nasib suaminya yang pasti lelah, mengantuk dan lapar. Mengingat pria itu baru saja tiba dan harus ditangkap tidak lama kemudian.
"Kamu tenang saja. Jeffrey masih aman. Masih sempat bercanda juga di dalam. Aku ada urusan sebentar, untuk sementara kamu tunggu disini sampai dia keluar."
Joanna yang mendengar itu jelas merasa kesal. Dia tahu jika salah satu tugas pengacara adalah mendampingi klien saat diinterogasi seperti sekarang. Bukan justru pergi di tengah-tengah kegiatan.
"Maksud Bapak? Jeffrey harus menjawab sendiri pertanyaan di dalam? Bagaimana kalau dia salah bicara dan berakhir memberatkan? Bapak sebagai pengacara seharusnya—"
"Kalau begitu cari pengacara lain saja! Sudah ada banyak bukti yang menunjukan Jeffrey bersalah! Pengacara manapun tidak akan ada yang bisa membebaskan dia!"
Air mata Joanna mengalir perlahan. Dia akhirnya menangis sekarang. Sedangkan Renal hanya pergi begitu saja. Meninggalkan Joanna dalam keadaan bingung dan ketakutan.
"Bagaimana ini? Aku tidak kenal siapa-siapa lagi kecuali Jordan."
Dengan berat hati, Joanna akhirnya menghubungi Jordan. Bertanya pria itu ada di mana. Dengan isakan yang tentu terdengar. Sehingga membuat pria itu panik dan memutuskan untuk segera datang. Guna menggantikan peran Renal.
Joanna tidak peduli jika Jeffrey akan marah padanya. Karena yang jelas, dia hanya ingin suaminya bebas. Ingin pria itu kembali ke pelukannya. Segera. Tidak peduli apapun caranya.
Chapter 47-50 bisa dibaca dulu di karyakarsa.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomantikJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)