66/66

2.5K 179 30
                                        

Hal yang paling Joanna takutkan kembali datang. Iya, tentu saja akan kedatangan Jessica dan Rena ke tempat tinggalnya. Karena dia yakin pasti mereka akan mengejeknya. Sebab dia tidak kunjung berhasil menghasilkan ASI untuk anaknya.

"Kalau dilihat dari rak kaleng susu yang masih penuh, itu berarti ASImu tidak kunjung keluar. Berarti benar jika kehadiranku tidak berpengaruh pada keadaanmu yang sekarang?"

Joanna yang sedang menikmati makan malam sendirian jelas ketakutan. Karena Jeffrey sedang berada di luar sekarang, guna belanja bulanan dan menandatangani beberapa berkas di kantornya.

"Mama, maaf..."

Bukan, ini bukan suara Joanna. Namun suara Kevin yang sudah berkaca-kaca. Karena dia tidak sadar jika sejak tadi sudah diikuti ibu dan neneknya. Sehingga mereka bisa menerobos masuk saat dirinya selesai menekan kombinasi sandi baru apartemen mereka.

"Tebakanku benar, kan? ASImu masih belum keluar, kan?" Jessica sudah menduduki kursi di depan Joanna. Sehingga wajah mereka bisa berhadapan. 

"Bukan urusan Mama!" Joanna mulai bangkit dari kursi. Bergegas masuk kamar dan mengunci diri dari dalam saat ini. Guna menghubungi Jeffrey dan memberitahu jika ada ibunya di sini.

"Jeffrey! Angkat!!!!" Joanna tampak panik. Karena pintu kamar terus digedor saat ini. Sedangkan Juno yang sebelumnya tertidur juga sudah menangis kencang sekali. Karena terkejut mendengar keributan ini.

Sudah belasan kali Joanna menghubungi Jeffrey. Namun pria itu tidak kunjung mengangkat panggilan ini. Bahkan pada panggilan yang terakhir kali, pria itu sengaja mereject panggilan. Seolah ada hal lebih penting yang sedang diurus sekarang.

"Brengsek!" Maki Joanna setelah mendengar suara operator berulang kali. Dia yang gelap mata juga mulai meraih koper kecil. Lalu diisi beberapa barang yang mungkin dibutuhkan saat pergi. Sebab dia merasa sudah tidak lagi sanggup hidup di sini jika ada Rena dan ibu Jeffrey.

"Sabar, Sayang. Mama sedang berkemas."

Juno menangis semakin kencang. Beriringan dengan suara gedoran dan teriakan Jessica di luar kamar. Karena dia semakin panik saat mendengar suara tangisan cucunya.

"JOANNA BUKA! KAMU TIDAK DENGAR SUARA JUNO, HAH!? DIA KETAKUTAN!"

Joanna mengabaikan teriakan Jessica. Saat ini dia mulai menggendong Juno yang masih menangis kencang. Karena ketakutan.

"Sssh.... Tenang, Sayang. Ada Mama. Kamu akan baik-baik saja kalau ada Mama."

Joanna menimang Juno sebentar. Menjauh dari pintu kamar. Hingga bayi mungil itu berangsur-angsur diam. Sembari menatap wajah ibunya yang mulai tersenyum terpaksa. Karena dia tengah takut akan seseorang yang berada di luar sana.

"Anak pintar! Kita pergi dari sini, ya? Juno bisa tenang sampai kita keluar, kan?"

Juno mengedipkan mata berulang. Seolah paham akan permintaan ibunya. Membuat Joanna terkekeh sumbang. Karena merasa semakin gila saja. Sebab menganggap Juno mengerti ucapannya.

Dengan sekuat tenaga Joanna menarik koper yang berisi barang-barangnya dan si bayi. Karena dia berniat menginap di hotel selama beberapa hari. Sampai Rena dan Jessica keluar dari apartemen ini.

Ceklek...

Pintu terbuka. Joanna berhadapan dengan Jessica. Membuat Juno kembali menangis kencang saat ibunya mendapat tamparan.

PLAK...

Joanna mendapat tamparan begitu kencang. Hingga bekas merah menempel jelas di pipi kanan. Sebab Jessica yang sudah begitu murka akhirnya berhasil menyalurkan rasa kesal.

"Mau ke mana kamu, hah!? Jangan coba-coba membawa pergi cucuku! Dia tidak layak hidup dengan ibu sepertimu!" Jessica murka saat melihat keadaan Joanna. Sehingga dia langsung merebut si cucu dari gendongan. Membuat Kevin yang sejak tadi memantau dari belakang berusaha membantu ibu tirinya.

"Nenek berhenti! Jangan seperti ini!" Kevin mendorong Jessica saat wanita itu berhasil merebut cucunya. Sehingga dia hampir terjungkal kalau saja tidak ada Rena yang sigap memegangi di belakang.

"Kevin!" Bentakan Rena tidak membuat Kevin berhenti. Dia berusaha merebut Juno saat ini. Namun tentu dirinya berhasil menghalau kelakuan si anak yang mulai menyebalkan belakangan ini.

"Kamu jangan ikut campur!" 

Joanna berusaha merebut Juno lagi. Namun Rena mendorongnya kencang sekali. Hingga membuat tali gendongan yang masih melekat pada tubuh Juno ikut tertarik. Sehingga bayi tidak bersalah ini jatuh dan menimpa paha Rena kencang sekali. Sebab dia yang sadar jika Juno dalam bahaya refleks menjatuhkan diri. Menghalau tubuh si bayi agar tidak langsung terkena lantai ruangan ini.

"KAMU BENAR-BENAR TIDAK BECUS JADI IBU!" Jessica langsung membawa Juno ke dalam gendongan. Bayi itu menangis semakin kencang. Mungkin merasa sakit pada lehernya. Karena dia yang belum bisa menyangga kepala harus terjatuh dan menimpa paha orang dewasa.

"KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"

Rena langsung bangun perlahan. Lalu menyambar tas. Kemudian mengekori Jessica yang sudah terlebih dahulu keluar dari unit apartemen dengan tergesa. Dengan Juno yang masih berusaha ditenangkan.

Joanna tentu tidak bisa berkutik sekarang. Dia sadar betul jika hal ini terjadi karena salahnya. Karena tidak hati-hati dalam mengurus bayinya. Sehingga dia hanya bisa menangis dan mengekori mereka.

Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Namun hanya Jessica dan Rena yang masuk ke IGD saat ini. Sedangkan Joanna dan Kevin yang menyusul menggunakan kendaraan lain tidak diizinkan ikut menemani. 

"Papa sedang di jalan, Ma. Mama tenang saja, setelah ini Mama pasti diperbolehkan masuk juga."

Kevin berusaha menenangkan Joanna, dengan memeluk wanita itu di depan ruang tunggu yang sepi sekarang. Tidak heran jika Juno bisa langsung dibawa masuk ke dalam.

Di lain tempat, Jeffrey sedang menyetir dengan tergesa. Karena dia begitu khawatir akan keadaan anaknya. Mengingat Kevin baru saja mengatakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Ditambah Rena juga baru saja mengirimkan video saat Juno meraung saat diperiksa. 

"Semoga Juno tidak kenapa-kenapa!"

Jeffrey terus berdoa selama perjalanan. Hingga mobil tiba di tempat tujuan. Membuatnya lekas turun dan disambut Kevin yang sudah menunggu di parkiran.

"Di mana Juno?"

"Masih di IGD, Pa! Mama!" Kevin memanggil Joanna yang masih menangis di depan ruang tunggu. Sementara Jeffrey yang kalut justru semakin memperparah perasan sedih wanita itu.

"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA JUNO!? KAMU BERNIAT PERGI DAN MEMBAWA ANAKKU, HAH!? KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA MELAKUKAN ITU, JOANNA! KARENA KAMU BELUM LAYAK JADI IBU SEKARANG!" Jeffrey berteriak pada Joanna yang baru saja mendekat. Padahal si istri berharap mendapat pelukan dan ditenangkan. Namun justru rasa sakit yang didapat.

"Papa!" Kevin menegur ayahnya. Sedangkan yang ditegur justru melengos begitu saja. Langsung masuk IGD setelah melihat Rena melambaikan tangan dari dalam. Meninggalkan Kevin dan Joanna yang air matanya semakin membanjiri wajah.

"Mama jangan dengarkan ucapan Papa, ya? Aku yakin Papa pasti tidak bermaksud seperti itu sebenarnya. Ini pasti karena dia sedang kalut saja." Kevin berusaha menenangkan Joanna, namun wanita itu tampak tidak terpengaruh akan ucapannya. Karena tangisnya tidak mereda dan bahkan lebih parah.

"Mama mau ke mana?" tanya Kevin saat Joanna berjalan menjauh dari sana. Dengan punggung tangan yang mulai menyeka air mata. Agar pandangannya tidak kabur saat berjalan.

"Kevin! Ayo antar Mama ke minimarket samping rumah sakit!" seruan Rena membuat niat Kevin yang ingin mengejar Joanna tidak terlaksana. Sebab ibunya sudah mendekat dan menarik tangannya. Membuat anak muda ini akhirnya mengalah dan hanya bisa menatap ibu tirinya dari kejauhan saja.

Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.

Tbc…

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang