67/67

2.4K 195 14
                                        

Juno sudah menjalani CT Scan. Hasilnya aman. Tidak ada cedera serius yang diderita. Karena Juno memang menangis karena terkejut saja. Bukan karena merasa kesakitan.

Jeffrey dan yang lain jelas merasa lega saat mengetahui hal ini. Sehingga mereka bergegas membawa pulang Juno yang memang sudah tidur sejak tadi. Setelah ditenangkan Jeffrey.

Bahkan saat ini, Juno masih berada di pangkuan Jeffrey. Saat si pria duduk di sofa ruang rawat VIP. Karena mereka berkumpul di sana selagi menunggu hasil CT Scan keluar di hari ini.

"Aku akan mengurus bagian administrasi dengan Kevin." Jessica dan Jeffrey mengangguk kecil. Mereka masih menatap Juno yang sudah tidur dengan damai saat ini. Tidak meraung heboh seperti tadi.

"Tolong ambilkan Hpku, Ma." Jessica meraih ponsel yang sudah tergeletak di atas meja. Ponsel yang layarnya sudah retak karena jatuh saat berbelanja. Sehingga si pemilik kesulitan saat ingin mengangkat telepon istrinya. Namun berhasil mengangkat telepon dari dua orang setelahnya.

"Kok rusak begini? Baru jatuh atau bagaimana?"

"Iya, tadi jatuh dan tidak sengaja terlindas troli."

Jessica mulai mendekatkan ponsel pada si anak. Karena salah satu tangan Jeffrey sudah mengadah. "Jeffrey, ini sudah tidak bisa dipakai lagi!" 

Komentar Jessica dalam hati Jeffrey benarkan. Karena ponsel ini memang sudah tidak bisa diselamatkan. Sebab layarnya sudah 80% rusak meski masih bisa menyala. 

"Tinggal ganti LCD." Jeffrey membolak-balikkan ponsel ini. Karena merasa sayang saja jika harus membuang benda pemberian si istri. Mengingat ponsel ini adalah ponsel yang dulu dibeli saat dirinya jatuh miskin. 

"Jangan seperti orang susah! Ganti baru apa susahnya? Nanti Mama suruh Kevin dan Rena!"

Jeffrey mengangguk saja. Karena dia juga butuh ponsel baru sekarang. Namun tetap, ponsel ini tidak akan dimusnahkan. Sebab ada begitu banyak kenangan di dalamnya.

Dua jam kemudian Juno sudah bisa dibawa pulang. Setelah menunggu Kevin dan Rena menebus obat sekalian.

Ceklek...

Jeffrey membuka pintu kamar, namun tidak ada Joanna di sana. Padahal dia berharap jika istrinya berada di sana. Mengingat di rumah sakit tidak ada. 

"Kevin, tadi Mama ada bilang padamu mau ke mana? Tidak mungkin masih di rumah sakit, kan?" tanya Jeffrey setelah keluar kamar. Sebab Juno masih di gendongan Jessica. Dengan Rena dan Kevin yang sedang menyiapkan tempat duduk di sekitar.

"Sudah keluar setahuku, Pa. Naik taksi juga."

Jeffrey tampak cemas. Dia berniat menghubungi istrinya. Namun baru ingat jika ponselnya rusak. "Papa pinjam Hp, Vin! Mau telepon Mama."

Kevin mengangguk singkat. Lalu memberikan ponsel yang baru saja digenggam. Karena ingin diletakkan pada atas meja.

"Ini, Pa."

Jeffrey meraih ponsel ini dengan segera. Lalu mendial nomor istrinya. Agar bisa dihubungi sekarang juga.

Butuh waktu cukup lama hingga panggilan diangkat. Membuat Jeffrey sedikit merasa lega. Karena sebelumnya, dia sempat berpikir jika Joanna akan menolak panggilan.

"Halo? Kamu di mana? Juno sudah pulang." Jeffrey bertanya dengan nada rendah. Tidak ada nada emosi di sana. Seolah sadar jika dirinya baru saja melakukan kesalahan besar. Sebab telah kelepasan berbicara hal buruk sebelumnya.

"Joanna?" Jeffrey memanggil istrinya dengan suara yang lebih rendah. Dia juga kembali masuk kamar. Sembari menutup pintu dari dalam. Seolah tidak ingin terdengar oleh yang lainnya.

"Aku minta—"

Aku tidak bisa merawat Juno lagi. Maaf karena aku harus pergi seperti ini. Maaf juga karena aku belum becus menjadi ibu selama ini.

Deg. Jantung Jeffrey seakan berhenti berdetak. Tubuhnya juga mulai jatuh di atas ranjang. Jatuh terduduk karena kedua lututnya terasa lemas.

"Aku yang salah! Aku sudah salah bicara, aku minta maaf. Kamu sama sekali tidak bersalah! Jadi kamu harus kembali pulang!"

Satu tangan Jeffrey mengepal. Dia benar-benar tidak bisa menerima akan apa yang baru saja didengar. Mengingat dia begitu mencintai istrinya. Jelas ditinggalkan akan menjadi mimpi buruknya.

"Tolong jangan seperti ini. Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu ingin, asal jangan pergi. Aku mohon, kamu harus kembali..." Mata Jeffrey memanas sata pandangannya tertuju pada lemari pakaian yang sedikit terbuka. Sehingga dia memutuskan untuk mendekat dan membukanya lebar-lebar.

Aku minta maaf. Tolong sampaikan maafku pada Mama dan Rena juga, karena selama ini aku sudah keras kepala pada mereka. Aku baru sadar, jika aku memang tidak layak menjadi orang tua. Aku masih—

"AKU YANG SALAH! JADI CEPAT KEMBALI PULANG! AKU AKAN MENGUSIR MEREKA SEMUA! HANYA KAMU YANG BERHAK MENGURUS ANAK KITA!" Jeffrey meninju pintu lemari. Lemari yang isinya sisa sedikit. Karena Joanna sudah mengemas barang-barangnya hingga tidak tersisa sama sekali. Bahkan koleksi sepatu di rak juga sudah bersih. Namun bodohnya Jeffrey tidak sadar sama sekali.

Maaf, aku tidak bisa Jeffrey. Aku benar-benar tidak bisa mengurus Juno lagi. Aku tidak ingin menyakiti dia lebih parah dari ini.

Jeffrey akan berbicara lagi, namun panggilan sudah diputus dari si istri. Karena dirasa pembicaraan ini tidak akan berakhir jika tidak ada salah satu yang mengakhiri. Mengingat mereka tidak memiliki kesepakatan saat ini.

Mata Jeffrey sudah memerah. Dia ingin membanting ponsel ini sekarang. Namun tidak jadi setelah ingat jika benda pipih ini milik anaknya.

"Papa? Mama pergi, ya?" 

Jeffrey yang ingin menelepon Joanna lagi langsung menatap ke arah sumber suara. Pada Kevin yang baru saja membuka pintu kamar dengan perlahan. Lalu bertanya seperti tadi dengan mata berkaca-kaca. Karena dia baru saja melihat rak sepatu yang tidak lagi penuh seperti sebelumnya.

"Mama hanya pergi sebentar. Tidak lama lagi pasti pulang. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri karena Papa sudah berbicara kasar tadi." Jeffrey bangkit dari ranjang. Lalu mengembalikan ponsel anaknya. Karena tidak ingin Kevin semakin kepikiran. Mengingat anak ini mulai menyukai Joanna belakangan.

"Bohong!" Kevin mulai membuka lemari. Air matanya jatuh saat melihat tidak ada pakaian wanita di sini. Padahal dia sering membuka benda ini saat ingin memasukkan pakaian si ibu yang baru saja dilaundry.

"Mama pasti tidak akan kembali! Semua barangnya tidak ada lagi!" Kevin menangis di depan lemari. Membuat Jeffrey mendekat dan memeluk anak ini. Dengan air mata yang ikut mengalir. Karena dirinya jelas sangat merasa kehilangan saat ini. Takut juga jika si wanita tidak kembali lagi. Mengingat sudah tidak ada apapun yang tersisa di sini. Kecuali Juno yang selamanya tentu akan menjadi milik si istri.

"Papa janji akan membawa Mama kembali. Kita akan berkumpul lagi!"

Kevin menangguk di dalam pelukan ayahnya. Dia berharap janji ini akan terkabul segera. Karena dia sudah begitu menyayangi Joanna. Sebab wanita itu telah dianggap sebagai penyelamat hidup ayahnya dan mereka semua.

Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.

Tbc…

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang