Sudah satu bulan berlalu.
Tingkah Kevin benar-benar membuat Joanna bingung. Sebab anak itu tidak mengusiknya barang sekalipun. Padahal ucapannya yang dulu-dulu sangat tajam dan pedas tentu.
"How was your day, Sayang?" tanya Jeffrey yang baru saja pulang kerja. Dia mendekati Joanna yang sudah duduk di teras sembari menatap Kevin yang sedang menyiram tanaman bersama Nolan. Karena entah kenapa mereka jadi begitu akrab. Sehingga anak itu nyaman berdekatan. Padahal bukan rahasia lagi jika Joanna dan Nolan cukup dekat.
"Kevin tidak nakal, kan?" Jeffrey bertanya lagi saat tidak mendapat sahutan. Dia juga memeluk istrinya sebentar. Sebelum akhirnya ikut duduk di samping si wanita. Sembari menatap Kevin yang kini beralih memberi makan ikan. Karena di depan teras ada kolam ikan berukuran sedang.
"Ini tidak masuk akal. Tidak mungkin dia bisa mudah berubah. Maksudku, anak itu tengil sebelumnya. Apa yang kamu katakan padanya?"
Jeffrey terkekeh sekarang. Lalu meraih kedua tangan istrinya. Sebab dia jelas tahu jika ini hal baik sebenarnya. Karena itu berarti kegiatan uji coba istrinya berbuah manis sekarang. Mengingat selama satu bulan ke belakang, Kevin benar-benar tidak pernah mengusik istrinya. Barang sekali saja.
"Apa yang aku katakan pada Kevin tidak penting. Karena yang terpenting sekarang adalah kamu yang harus menepati janji."
Joanna menarik nafas panjang. Dia juga menatap Jeffrey lekat-lekat. Karena dia harus menepati janjinya. Untuk menerima Kevin tinggal bersama mereka jika anak itu bisa bersikap manis dalam satu bulan.
"Iya, aku akan menepati janji. Aku menerima Kevin tinggal di sini. Asal dia bisa terus bersikap seperti ini."
"Thank you, Sayang!"
Jeffrey tersenyum bahagia. Dia memeluk Joanna. Disaksikan Kevin dan Nolan. Karena suara Jeffrey agak kencang sebelumnya.
Setelah berpelukan, mereka melangsungkan makan malam bersama seperti biasa. Dengan posisi Kevin dan Joanna yang ada di samping kiri dan kanan Jeffrey tentu saja.
Mereka makan dengan tenang. Tidak ada perbincangan yang berarti di sana. Karena Jeffrey hanya bertanya akan keadaan sekolah Kevin saja. Sehingga tidak akan ada konflik di sana.
"Bagaimana ujiannya hari ini? Aman?"
Kevin yang baru saja selesai makan mulai mengangguk singkat. Lalu meminum air dalam gelas yang sudah dipegang hingga tandas. Sebab dia ingin banyak bicara setelahnya.
"Aman, Pa. Soal kisi-kisi dari tempat les banyak yang keluar tadi. Sepertinya, aku akan dapat ranking lagi kalau tadi cukup teliti."
Jeffrey tersenyum bangga. Dia mulai mengusap kepala anaknya. Dengan tatapan memuja.
"Kamu memang yang terbaik! Tapi jika nanti hasilnya kurang baik, Papa akan tetap mengapresiasi."
"Thank you, Pa."
Jeffrey mengangguk cepat. Dia juga beralih menatap Joanna yang kini sedang menatap piring saja. Karena dia memang belum selesai makan.
"Setelah Papa pulang visit dari Papua, kita liburan bertiga, ya? Mau kan, Ma?"
Joanna mendongak. Menatap Jeffrey yang kini sudah menatapnya dengan tatapan penuh harap. Sebab dia memang terkadang memanggil Joanna dengan sebutan Mama, untuk mencontohkan anaknya. Mengingat sampai sekarang, Kevin masih belum memanggil Joanna dengan sebutan Mama.
"Liburan ke mana? Kalau Bali atau Malang terlalu dekat. Mending ke Singapura, sudah lama aku tidak kesana. Ada festival kembang api juga minggu depan."
"Ide bagus. Kevin belum ada passport tapi. Nanti aku akan minta orang untuk buatkan. Kamu mau, kan?"
Kevin Menangguk cepat. Sebab dia tidak pernah liburan selama ini. Jelas dia begitu bersemangat kali ini. Karena pengalaman pertama liburannya langsung ke luar negeri.
"Mama ikut, kan?"
"Iya, Mama Joanna ikut."
"Bukan, Pa. Mama Rena maksudku. Selama ini Mama hanya fokus bekerja dan mengurusku. Selama ini kami tidak pernah liburan sama sekali. Apalagi ke luar negeri. Ini akan menjadi pengalaman liburan pertama kami."
Jeffrey jelas tidak bisa langsung menjawab. Karena dia mulai menatap istrinya dengan tatapan meminta pertolongan. Karena dia jelas tidak tega jika langsung memberi penolakan.
"Biarkan saja dia ikut. Supaya kita bisa sepasang-pasang."
Joanna tersenyum licik sekarang. Karena dia jelas ingin memamerkan kemesraan dengan suaminya. Agar Rena dan Kevin yang selama satu bulan ini dianggap sedang pencitraan semakin panas.
"Serius, Sayang?"
"Iya. Nanti aku yang akan pesan tiket dan hotelnya."
Jeffrey tersenyum senang. Dia juga menatap Kevin yang juga melakukan hal yang sama. Namun tampak ada sedikit gurat kekesalan di sana. Karena dia berharap jika liburan ini hanya diisi mereka bertiga saja. Tanpa Joanna di dalamnya.
Selesai makan, Jeffrey bermain PSP dengan Kevin di ruang keluarga. Sedangkan Joanna kembali ke kamar, guna beristirahat. Sebab sejak siang dia sudah menyiapkan bawaan suaminya yang besok akan visit ke Papua.
"Sayang..."
Joanna yang merasa baru saja memejamkan mata mulai terperanjat saat mendengar suara Jeffrey tiba-tiba. Pria itu sudah berada di sampingnya. Dengan wajah yang sudah basah.
"Kemarin pasti capek banget, ya? Aku mau berangkat dua jam lagi. Tidak perlu antar ke bandara nanti."
Joanna yang mendengar itu jelas terkejut. Dia langsung bangun. Lalu menatap jam dinding di ruangan itu.
Sudah jam lima pagi. Itu berarti Joanna sudah tidur selama sembilan jam lebih. Namun dia merasa baru tidur sebentar tadi.
"Aku pasti kangen berat nanti."
Jeffrey memeluk istrinya. Sedangkan Joanna yang baru saja terbangun diam saja. Karena masih mengumpulkan nyawa.
"Kukira semalam kamu nungguin aku. Satu minggu loh kita tidak bertemu."
Joanna mulai sadar perlahan setelah merasakan dingin pada perutnya. Karena tiba-tiba saja si suami memasukkan tangan pada bajunya. Guna menggoda dirinya.
"Pintunya sudah dikunci, kan? Tidak lucu kalau Kevin tiba-tiba masuk dan memergoki kita."
"Aman!"
Jeffrey mulai memberi kecupan di dahi istrinya. Lalu turun ke pipi dan bibirnya. Dilanjut dengan kegiatan panas yang lainnya. Karena dia jelas tidak bisa melakukan ini selama satu minggu ke belakang.
Di tempat lain, Kevin sedang menelpon ibunya. Mengatakan akan rencana liburan mereka ke Singapura minggu depan. Sebab semalam dia ketiduran dan tidak sempat memberi tahu Serena.
"Mama tenang saja. Nanti aku akan berusaha mendekatkan kalian. Supaya istri Papa kesal berkepanjangan. Papa pasti capek karena visit ke Papua sebelumnya, sehingga dia pasti akan terpancing juga. Papa akan memarahi Tante Joanna dan yah, setelahnya Mama bisa masuk perlahan."
Kevin tersenyum lebar saat menjelaskan. Dia benar-benar merasa senang sekarang. Karena usaha untuk mendekatkan orang tua kandungnya akan segera terlaksana.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)