Joanna sedang keluar kamar. Dengan handuk yang melilit badan. Karena mengira jika orang-orang sudah tidak ada. Namun dia justru menemukan Jessica yang sedang duduk di ruang tengah bersama Rena. Sembari mendengarkan podcast horror bervolume besar. Seolah sengaja agar mereka tidak mendengar desahan.
"Ma... " sapa Joanna sebelum masuk kamar mandi. Karena kamar mandi memang terletak di dekat ruangan ini. Sehingga mau tidak mau dia harus melewati.
Hingga sepuluh menit kemudian Joanna selesai mandi. Dia berharap Rena dan Jessica sudah pergi. Namun mereka justru masih duduk di sana dengan podcast yang sudah mati.
"Lain kali jangan pakai handuk saja seperti ini! Kevin sudah besar, dia—"
"Iya, Ma. Maaf. Lain kali aku akan pakai baju."
Joanna bergegas masuk kamar. Dia melihat Jeffrey yang masih telanjang. Namun sudah mengganti sprei dan sarung bantal. Seolah tahu jika dirinya pasti akan kesal jika kembali dalam keadaan berantakan.
"Di luar sepi kan?"
"Ada Mama dan Rena. Kamu pakai baju!"
Jeffrey terkekeh saja. Lalu memakai baju dengan asal sebelum keluar kamar. Bahkan kaosnya terbalik sekarang. Karena tidak peduli juga.
"Kenapa dibawa ke dalam?" tanya Jessica saat melihat Jeffrey membawa masuk bedcover dan sarung bantal ke dalam kamar mandi. Karena ingin sekalian dicuci. Sebab dia tidak ingin istrinya yang mencuci sendiri.
"Mau aku cuci sekalian, Ma. Ini berat, kasihan Joanna."
"Istrimu itu tidak pernah mencuci sejak kita pindah di sini. Bahkan celana dalamnya saja Rena yang cuci. Taruh saja bed cover di dalam mesin cuci!"
Jeffrey tampak ragu. Namun akhirnya menurut. Dia memasukkan kain kotor itu ke dalam mesin cuci yang sudah kosong. Lalu bergegas mandi karena sudah ingin istirahat. Sebab tubuhnya mulai terasa pegal. Mengingat dia baru saja pulang dari Jakarta naik kereta.
Ceklek...
Jeffrey kembali masuk kamar. Dia melihat Joanna yang sedang makan sate yang tadi diberikan. Di atas kursi dekat jendela. Sehingga angin malam dapat berhembus kencang. Membuat udara dingin kian terasa.
"Laper, ya?"
"Iya, lah!"
Joanna ingin menyuapi Jeffrey dengan sate ayam. Namun pria itu menolak. Karena masih kenyang. Selain itu, dia juga tahu Joanna masih lapar. Sehingga dia tidak ingin menginterupsi kegiatan.
"Aku berencana bawa kamu pindah ke tempat lain. Agak tidak enak juga kalau kita berkumpul dalam satu rumah seperti ini."
"Aku setuju!" Joanna yang sudah memikirkan ini mulai menatap Jeffrey. Karena dia kepikiran akan ucapan Jessica yang memintanya untuk kerja dan pindah dari sini.
"Pindah di kontrakan kecil tidak apa-apa. Asal berdua saja. Aku akan kerja, nanti gajiku bisa untuk biaya sewa."
Jeffrey terkekeh sekarang. Lalu mengecup pipi istrinya. Sebelum akhirnya merapikan rambut yang menutupi wajah.
"Tidak perlu, Sayang. Aku sudah punya uang. Keadaan kita akan membaik perlahan."
Joanna yang mendengar itu jelas terkejut. Karena Jeffrey belum berbicara apapun tentang pertemuannya dengan klien di Jakarta.
"Maksudnya?"
"Aku dapat tiga klien lagi di sana. Karena dua klien yang sebelumnya memang sudah memakai jasaku sejak lama. Mereka bersaudara dan sama-sama prihatin dengan keadaanku yang sebelumnya. Sehingga mereka mengenalkan aku dengan beberapa kolega mereka. Dan ya, aku dapat tiga digit untuk pembayaran di muka."
Joanna yang mendengar itu jelas merasa senang. Rasanya dia begitu bangga. Karena Jeffrey begitu layak diperjuangkan.
"Selamat, Sayang! Aku bangga sekali padamu!"
Joanna meletakkan piring di atas meja. Lalu memeluk Jeffrey dengan tangis bahagia. Sebab penderitaan mereka akan berakhir segera.
"Kamu ada yang pengen dibeli? Baju atau tas mungkin?"
Joanna menggeleng pelan. Sebab dia sudah merasa cukup sekarang. Meski tidak bisa berpenampilan glamour lagi seperti sebelumnya.
"Buat kamu beli Hp dulu. Besok kita beli jas baru. Pakaian mendiang Papa agak kekecilan untuk kamu."
"Hp ini sudah cukup, kok. Kemarin sempat jatuh di air, tapi masih bisa."
Joanna melirik ponsel suaminya. Samsung A54 yang sama seperti miliknya. Karena dia beli bersamaan saat ada diskonan.
"Baju-baju Papa juga tidak banyak yang kekecilan. Masih ada beberapa yang muat."
Joanna diam saja. Kini dia mengurai pelukan. Membuat tatapan mereka kembali bertemu sekarang.
"Kamu pinjam uang tabungan ke Amsterdam berapa? Aku ganti sekarang. Tidak enak juga aku ke teman-temanmu. Mereka pasti agak kesal padaku." Jeffrey ingin meraih ponselnya. Berniat mengirim uang pada rekening istrinya. Sebab dia kepikiran akan rencana liburan Joanna. Mengingat wanita itu sangat suka berkelana. Akibat sejak kecil tidak pernah dibawa liburan oleh orang tuanya.
"Ganti kapan-kapan. Kita cari kontrakan saja."
Jeffrey mengangguk singkat. Lalu meraih ponselnya. Guna mencari kontrakan yang paling cocok mereka tinggali sementara. Sampai dia bisa membeli rumah.
"Aku keluar dulu."
Jeffrey mengangguk singkat. Sedangkan Joanna mulai keluar kamar. Guna mencuci piring dan menggosok gigi juga. Sekaligus mengatakan pada si mertua kalau dia dan jeffrey akan pindah segera.
"Aku sudah bilang Jeffrey, Ma. Dia setuju kalau kita pindah. Dia sedang cari-cari tempat sekarang. Kalau sudah dapat, besok aku mungkin akan survey dengannya." ucap Joanna saat mencuci piring. Membuat Jessica tersenyum kecil. Namun tidak dengan Rena yang tampak khawatir.
"Secepat itu? Jeffrey apa tidak mau istirahat dulu? Baru satu minggu lebih dua hari dia keluar, hari ini dia juga baru pulang dari Jakarta karena kamu paksa langsung kerja."
"Aku tidak memaksa. Jeffrey sendiri yang mau segera kerja." Joanna berbohong sekarang. Karena ingin terlihat hebat di depan Rena. Sebab dia yang sudah mengatur pertemuan Jeffrey dengan dua klien di Jakarta. Sengaja agar mereka tidak terpuruk terlalu lama. Karena dia tahu jika suaminya memiliki potensi besar setelah melihat portofolionya.
"Lagi pula, kenapa kamu terdengar keberatan? Jangan-jangan, kamu masih suka suamiku, ya?" Joanna mulai meletakkan cucian pada rak. Lalu mengeringkan tangan dengan tisu satu lembar. Kemudian dilempar pada tong sampah.
"Joanna! Jangan mulai! Jangan bertengkar lagi! Masalah yang kita hadapi sudah besar saat ini, jangan memperkeruh segalanya dengan permasalahan ini!"
Joanna yang merasa akhir-akhir ini Jessica berubah jelas hanya tersenyum saja. Lalu pergi ke kamar mandi sebelum kembali ke kamar. Tanpa sepatah kata.
"Rena, Mama tahu kamu masih suka Jeffrey. Tapi kamu harus tahu diri, Joanna istri sah Jeffrey! Dia juga sudah banyak membantu keluarga ini. Mama mohon, lupakan Jeffrey dan biarkan mereka hidup dengan damai kali ini."
Rena yang mendengar itu hanya mengangguk kecil. Lalu pamit masuk kamar karena mengaku sudah ingin tidur kali ini. Membuat Jessica mulai tidak enak hati. Karena sudah terlalu keras tadi.
Tenang gengs, konflik yang sebenarnya baru mau dimulai. Kalau mau baca duluan, chapter selanjutnya ada di karyakarsa. See yaaa...
Tbc....
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)