39/39

2.6K 122 12
                                        

Jeffrey dan Joanna sudah tiba di Surabaya. Joanna yang masih marah langsung masuk kamar. Membiarkan Jeffrey membawa barang-barang sendirian. Dia juga menolak diajak makan di luar meski sebenarnya sudah merasa lapar. Karena tidak mood melihat wajah Jeffrey lebih lama.

"Aku mau  ke rumah Mama. Mau kirim oleh-oleh dari orang tuamu. Kamu mau di rumah saja atau ikut?"

Joanna menggeleng pelan. Dia mulai masuk kamar mandi karena berniat membersihkan diri. Sedangkan Jeffrey hanya ganti baju karena ingin langsung pergi. Sebab sejak kemarin ibunya ingin dirinya bergegas datang ke rumah setelah tiba di Surabaya lagi.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Jeffrey akhirnya tiba di rumah. Namun saat akan masuk, dia terkejut saat melihat Rena dan Kevin yang sudah berada di rumah itu. Mereka sedang duduk di teras seolah sedang menunggu.

"Sedang apa kalian di sini?"

Jeffrey bertanya dengan raut kesal. Karena dia jelas lelah setelah menyetir cukup lama. Dia malas bertengkar, sehingga dia bereaksi ketus pada mereka.

"Jeffrey, ayo masuk! Kita perlu bicara!"
Seruan Sandi dari dalam membuat Jeffrey lekas masuk rumah. Diikuti Rena dan Kevin di belakang. Sebab mereka akan membicarakan hal penting sekarang.

"Ada apa, Pa? Serius amat kelihatannya."

Jeffrey mengekori Sandi hingga di ruang keluarga. Di sana sudah ada ibunya. Dengan selembar kertas yang tergeletak diatas meja. 

"Ini apa?"

Jeffrey mendekati meja. Ingin membaca isi kertas yang sepertinya akan menjadi topik pembicaraan. Mengingat hanya selembar kertas ini yang ada di atas meja.

"Tes DNA?" Jeffrey bergumam pelan saat membaca bagian atas kertas. Lalu turun perlahan. Membaca dengan penuh kehati-hatian, agar tidak ada yang terlewat.

Usai membaca, tangan Jeffrey bergetar. Bahkan kertas ini jatuh sekarang. Seolah tangannya sudah tidak memiliki tenaga. Tidak sanggup membawa beban, meski hanya selembar kertas saja.

"Apa maksudnya ini? Rena yang membawa ini?" tanya Jeffrey pada orang tuanya. Karena hanya ada mereka di ruangan.

"Seharusnya Papa yang tanya. Apa yang telah kalian lakukan sebelum kamu pergi ke Amerika? Kalian pernah berhubungan? Lebih dari saudara?"

Jeffrey kesusahan menelan ludah. Wajahnya sudah pucat sekarang. Keringat juga sudah membasahi dahinya. Padahal suhu ruangan sudah dingin sekarang. 

"Pa, aku—"

PLAK...

Jeffrey mendapat tamparan dari ibunya. Jessica yang sejak tadi duduk tenang mulai bergerak. Menampar anak semata wayangnya sangat kencang. Hingga sudut bibirnya berdarah.

"Mama benar-benar kecewa padamu! Kenapa kalian setega itu!? Kenapa kamu meniduri sepupumu!? Saudara angkatmu! Kalian saudara Jeffrey! Kalian tumbuh bersama! Kalian—"

Ucapan Jessica terjeda saat Rena memasuki ruangan. Dia mendekati Jeffrey yang kini memegai wajah. Atau lebih tepatnya sudut bibir yang sudah memar dan berdarah.

"Ini salahku juga. Bukan hanya salah Jeffrey. Kami melakukannya secara sadar. Tanpa paksaan."

Jeffrey menepis tangan Rena. Karena wanita itu ingin menyentuh wajahnya. Dengan air mata yang sudah membasahi wajah.

"Jadi benar? Kevin anakku? Kamu hamil anakku? Bukan laki-laki itu?"

Rena mengangguk cepat. Air matanya semakin deras membasahi wajah. Karena akhirnya, beban di pundaknya hilang seketika. Setelah memberi tahu ayah kandung dari anaknya. 

"Maaf karena sudah menyembunyikan hal ini. Aku melakukan ini karena tidak mau mengecewakan orang tua kita lebih dalam lagi. Aku juga tidak mau merusak masa depanmu Jeffrey. Aku ingin melihatmu sukses sebagai arsitek seperti saat ini. Memiliki istri yang cantik dan baik hati. Tidak peduli jika aku harus hidup sengsara dengan Kevin. Asal kamu hidup bahagia seperti apa yang selama ini kamu ingin. Itu juga yang membuatku selalu menolak saat kamu ingin hubungan kita kembali. Karena aku ingin kamu hidup sempurna tanpa celah sama sekali. Tanpa bayang-bayang masa lalu yang berisi aku dan Kevin." Rena menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara. Dia juga menatap Kevin yang baru tiba di dalam ruangan.

"Tapi belakangan, aku merasa bersalah pada Kevin, anak kita. Ditambah saat tahu Joanna tidak sebaik yang kukira. Wanita itu tidak pantas untuk kamu yang sempurna." 

Jeffrey menggeleng cepat. Dia juga mundur perlahan, saat Rena berusaha meraih tangannya. Karena dia benar-benar sudah kecewa pada si wanita. Sebab telah menyembunyikan hal yang begitu besar selama belasan tahun ke belakang.

"Aku ingin kita memulai semuanya. Ceraikan Joanna agar kita bisa kembali bersama, dengan anak kita." Rena menjeda ucapan saat melihat Jeffrey memasang wajah tidak terima. Dia merasa jijik mungkin saja. Saat mendengar permintaan tidak tahu diri yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Kevin, aku sudah melukainya terlalu banyak. Kamu juga pasti merasa seperti itu, kan? Untuk itu kita harus membalasnya, kita harus menciptakan keluarga yang sempurna untuk dia. Keluarga yang hanya berisi kita bertiga saja. Tanpa Joanna. Aku yakin perasaanmu pada wanita itu tidak sedalam itu, kan? Joanna, dia hanya orang baru, kehadirannya tidak sepenting itu. Aku yakin kamu bisa mengabulkan permintaanku."

Jeffrey menggeleng pelan. Matanya juga mulai menatap Kevin yang tampak kecewa. Karena reaksi ayah kandungnya tidak sesuai harapan.

"Aku tidak akan pernah menceraikan Joanna mau seburuk apapun dia! Aku bisa merawat Kevin tanpa kamu, Rena! Aku bisa menghadirkan keluarga yang sempurna untuknya bersama Joanna! Jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk bergabung juga!"

Jeffrey berjalan cepat mendekati Kevin. Anak itu sudah bertambah tinggi dari yang terakhir kali. Sepundak Jeffrey lebih sedikit dan pasti masih bisa tumbuh lagi.

"Papa minta maaf, karena tidak mengetahui ini lebih cepat. Andaikan sejak awal Papa tahu kamu ada, Papa akan memperjuangkan kalian mati-matian."

Kevin yang awalnya sempat berontak saat dipeluk tentu mulai melunak saat mendengar pengakuan ayahnya. Apalagi saat dia merasakan basah pada pundaknya. Pertanda jika pria yang berlabel sebagai ayah kandungnya benar-benar serius dalam berucap. Bahwa dia akan memperjuangkan dia dan ibunya mati-matian di lain keadaan.

Tbc...



GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang