45/45

2.9K 134 3
                                        

Joanna ketiduran di atas sofa. Entah sudah berapa lama. Namun Jessica tidak membangunkan meski dia ada di sana. Sehingga wanita itu bangun saat suaminya datang. Dengan setelan rumah dan wangi tentu saja. Pertanda jika dia sudah pulang dan berganti pakaian.

"Sayang?"

Joanna terbangun saat mendapat kecupan di pipinya. Hingga Jessica yang sedang menyuapi suaminya mulai tersenyum menggoda. Sebab jarang melihat kemesraan mereka. Begitu pula dengan sandi yang kini bersiul menggoda. Padahal dia baru saja sehat.

"Apasih, Pa? Seperti tidak pernah muda saja!"

Jeffrey menarik gorden yang menutupi ranjang ayahnya. Sengaja agar mereka bisa puas bermesraan. Karena hampir satu minggu mereka tidak berjumpa.

"Kamu sudah pulang, ya?" tanya Joanna saat dipeluk Jeffrey. Karena pria itu sudah menduduki sofa saat ini. Sembari memeluk istrinya yang sudah dipangku menyamping. Karena tubuhnya kecil dan bisa dengan mudah diangkat ke sana kemari.

"Iya, hanya untuk mandi sebentar. Nanti kamu kabur kalau lihat aku berantakan."

Joanna terkekeh pelan. Lalu mengusap dagu suaminya yang terdapat luka goresan. Karena sepertinya, pria itu buru-buru saat memakai cukuran. Sehingga terkena dagunya.

"Kena cukuran, tadi buru-buru soalnya." Jeffrey menjawab sebelum ditanya. Karena setelah mereka saling mengungkapkan perasaan, Joanna memang mulai perhatian. Over protektif juga. Bahkan Jeffrey harus laporan apa saja yang dimakan setiap harinya, agar intake kalori hariannya terjaga.

Maklum saja, ini karena Joanna sangat concern terhadap kesehatan. Sebab dulu dirinya sering sakit-sakitan. Sehingga dia mulai menerapkan hidup sehat untuk hidup lebih lama. Apalagi sekarang dia ada sumber kebahagiaan lain yang ingin ditemani hingga renta.

"Kamu memang ceroboh! Cukuran saja sampai lecet."

Joanna mulai bangkit dari pangkuan Jeffrey. Lalu meraih salep antiseptik dari tas yang berada di atas kursi. Karena dia memang selalu sedia kotak P3K mini.

"Kamu memang sudah sangat cocok jadi ibu. Aku tidak sabar ingin melihat rupa anak beruntung itu." Jeffrey berbicara asal saat Joanna mengoleskan salep pada lukanya. Membuat gorden langsung dibuka oleh ibunya. Karena ingin menegur ucapannya.

"Jangan pressure menantu Mama, ya! Kalau belum siap ya jangan dipaksa! Kamu pikir hamil dan melahirkan mudah?"

Jessica yang belakangan bersimpati pada Joanna akhirnya mulai bersuara. Membela Joanna yang sampai sekarang belum ingin punya anak. Karena dia sendiri yang mengatakan jika belum siap dan selalu menggunakan pengaman saat melakukan. Sehingga Jessica perlahan mengerti dan tidak memaksa. Toh, sekarang sudah ada Kevin juga. Sehingga Joanna tidak perlu lagi merasa sedang diburu melahirkan cucu di keluarga Iskandar.

"Aku bercanda kali, Ma. Kita biasa bercanda seperti ini kok di rumah. Iya kan, Sayang? Kamu tidak merasa terpressure kan sekarang?"

Joanna mengangguk singkat. Dia tertawa. Karena melihat interaksi lucu Jeffrey dan Jessica. Sebab dia tidak bisa seperti ini dengan ibunya.

Di rumah, Kevin sedang membuka pintu kamar Joanna. Karena ibunya tidak kunjung keluar dari sana. Padahal ayahnya sudah lama pergi dari rumah.

"Ma?"

Kevin membuka pintu kamar dengan hati-hati. Karena pintu kamar memang tidak terkunci. Sehingga dia bisa masuk kali ini. Tidak seperti biasanya yang selalu dikunci.

"Mama sedang apa? Tadi tidak berhasil, ya?"

Ya. Kevin dan Rena memang sengaja merencanakan hal buruk sebelumnya. Sengaja ingin menjebak Jeffrey yang baru saja pulang. Namun justru rencana itu gagal. Karena Jeffrey benar-benar sudah tidak menginginkan Serena. Meski wanita itu telanjang bulat di depannya.

Itu sebabnya wajah Jeffrey sempat terluka sebelumnya. Karena dia terkejut saat melihat Rena datang dengan keadaan tidak berbusana. Salahnya juga yang begitu ceroboh tidak mengunci kamar. Sehingga dia hampir terkena jebakan.

"Papamu benar-benar sudah tidak menginginkan Mama."

Kevin memeluk ibunya yang sudah memakai pakaian lengkap. Wanita ini menangis di balkon kamar. Sembari menatap taman mini di rumah yang didedikasikan untuk anaknya.

"Seharusnya Mama tidak berusaha menolak. Seharusnya Mama tidak mengatai dia hina dan menjijikkan. Agar kita bisa bisa berkumpul bersama. Ini salah Mama karena terlalu percaya diri sebelumnya. Mama menganggap sanggup mengurus kamu sendirian. Tapi nyatanya tidak, karena kamu butuh sosok ayah juga."

Kevin memeluk ibunya semakin erat. Dia ikut menangis sekarang. Karena perasaan campur aduk tentu saja. Agak merasa bersalah juga. Karena dia sadar betul akan apa yang sudah mereka lakukan adalah bukan hal benar. Namun dia harus melakukan ini agar Jeffrey kembali padanya dan juga ibunya.

"Mama menyerah Kevin. Mama sudah tidak sanggup lagi untuk memperjuangkan Papa Jeffrey. Mama juga merasa bersalah pada Joanna. Dia—"

"Ma, stop merasa bersalah! Dia yang telah merebut Papa! Dia adalah sumber kesengsaraan kita!" Kevin mencoba denial. Dia merasa jika ada yang harus disalahkan sekarang. Namun bukan dari sisi dia dan ibunya.

"Mama tidak bisa melakukan ini lagi Kevin. Mama—" ucapan Rena terjeda saat pintu dibuka kasar. Ada beberapa orang yang berdatangan. Sembari membawa kardus besar.

"Dengan Ibu Joanna? Istri dari Bapak Jeffrey Iskandar?"

"B—bukan, kalian siapa?" Rena ketakutan. Namun dia berusaha tenang di depan anaknya. Dia juga mulai melepas pelukan dan mendekati salah satu orang yang sejak tadi sudah berbicara. Sembari menunjukkan surat penyitaan aset si pemilik rumah.

"Ini pasti salah! Jeffrey tidak mungkin korupsi dana jembatan!" Rena  merobek surat yang orang itu bawa. Air mata kembali tumpah. Karena takut Jeffrey disakiti oleh mereka.

"Kami hanya menjalankan perintah, Bu. Untuk keterangan lain bisa anda katakan di kantor polisi."

Kevin bungkam karena masih berusaha mencerna keadaan. Dia memang sempat panik sejenak. Namun setelah mendengar apa yang ibunya dan orang ini katakan, senyuman tipis mulai tersungging di wajah. Sebab otak pintarnya mulai menyusun rencana.

"Ini bisa jadi rencana bagus. Kalau Papa dipenjara dan asetnya tidak ada, istri Papa pasti akan meninggalkan Papa. Tahu sendiri dia ini gila uang. Ayo, Ma! Lebih baik kita bantu mereka menyita semua barang!"

Bisik Kevin pada ibunya. Dia juga mulai membantu untuk memasukkan barang-barang Joanna ke dalam kardus besar secara asal dan cukup brutal. Membuat beberapa orang di sana mulai menegur tentu saja. Sebab diantara barang yang dilempar ada tas seharga ratusan juta yang sebelumnya dipajang pada lemari kaca. Jelas harganya akan turun jika dilelang kalau terdapat lecet sedikit saja.

Untuk chapter 46-50 bisa kalian baca dulu di karyakarsa. Aku upload di sini kalau chapter ini diramein, ya!

Tbc...

Tbc

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang