Joanna sedang menyortir buku di perpustakaan kota. Karena dia memang sedang bekerja paruh waktu di sana. Hanya dari pagi sampai siang saja. Sehingga setelahnya dia bisa bersantai di rumah singgah yang ditinggali bersama beberapa orang sana.
"Aku bisa mencarikan kamu pekerjaan yang lebih bagus. Kerja paruh waktu di sini gajinya berapa, sih? Pasti tidak akan mencukupi hidupmu di sini."
Joanna tersenyum tipis. Dia masih memindahkan buku dari troli ke rak dengan rapi. Seolah tidak terpengaruh akan ucapan pria yang baru saja bertemu dengannya kemarin.
"Gaji di sini memang kecil dan tidak bisa menghidupi aku selama satu bulan tinggal di sini. Tapi aku bisa membaca banyak buku untuk mencari inspirasi. Supaya saat pulang, aku bisa memiliki ide segar untuk menulis."
"Kamu masih menulis?"
Mega terkejut. Karena dia memang pernah mendengar jika Joanna pernah menulis dulu. Namun tidak serius. Hanya sekedar hobi dan sedikit menghasilkan tentu. Sehingga tidak wanita itu buat serius.
"Iya. Memang tidak bisa menghasilkan banyak, namun cukup untuk menambah biaya hidupku di sini."
Mega yang mendengar itu jelas merasa sedih. Miris juga karena kehidupan Joanna dianggap begitu menyedihkan saat ini. Padahal wanita itu merasa lebih baik saat tinggal di sini. Meski harus hidup sederhana dan tidak bergelimang harta seperti saat masih menjadi istri Jeffrey.
"Padahal kamu sudah bertahun-tahun di sini. Tapi kenapa kita baru dipertemukan hari ini?" Mega menatap Joanna lama. Membuat wanita itu terkekeh saja. Karena dia masih belum selesai meletakkan buku pada rak. Sehingga tidak bisa memperhatikan si pria lama-lama.
"Aku masih punya banyak bangunan kosong di sini. Bisa kamu tempati kapanpun kamu ingin. Tidak perlu diisi, kamu hanya bawa barang-barangmu saja nanti."
Joanna menarik nafas panjang. Dia merasa ini berlebihan. Mengingat dia dan Mega tidak terlalu dekat. Mengingat pria itu adalah teman baik mantan suaminya dan tidak memiliki relasi apa-apa dengannya sebelumnya.
Kecuali saat mereka bertemu di Jakarta tanpa sengaja. Mereka hampir menghabiskan malam bersama. Sebelum Joanna tersadar jika pria yang sedang di depannya adalah salah satu teman baik suaminya. Itu sebabnya mereka begitu akrab setelahnya, bahkan Mega sampai menyiapkan tempat untuk Joanna menginap selama di Bali saat menunggu teman-temannya.
"Aku sudah nyaman tinggal di tempat yang kutinggali sekarang. Kamu masih tinggal di Bali memang? Kukira sudah menetap di Surabaya atau Jakarta."
"Masih bolak-balik aku. Makanya aku terkejut saat tahu kamu sudah tinggal di sini selama lima tahun. Kupikir Bali tidak seluas itu, tapi kenapa kita baru bertemu?"
"Lebay kamu!" Joanna menepuk pundak Mega. Lalu membawa troli ke pojok ruangan.
"Kita ngobrol di luar saja. Kebetulan aku sudah selesai sekarang."
Mega menangguk cepat. Lalu mengekori Joanna yang kini meraih tas. Kemudian pamit dengan dua wanita muda yang masih sibuk menatap layar monitor di atas meja.
"Kita makan siang saja bagaimana? Aku lapar. Kamu sudah makan?"
"Belum juga. Ayo! Kita makan di restoranku yang baru saja buka, kebetulan ada di dekat sini juga. Kamu harus review masakannya!"
"Boleh. Tapi aku tidak janji bisa mereview makanan, karena kemampuan masakku standar. Masih belum bisa aku menilai makanan."
"Ya sudah, kamu cukup makan dengan tenang! Nanti berkomentar enak atau tidak saja." Mega menarik tangan Joanna. Membawa wanita itu masuk mobil warna merah gelap.
"Kamu sudah menikah, Ga?" tanya Joanna saat memakai sabuk pengaman. Sebagai antisipasi saja. Kalau-kalau ada orang yang melihat dan membuat pasangan pria ini salah paham. Mengingat dirinya seorang janda yang sudah pasti akan dilabeli buruk orang-orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)