Rena menarik tangan dengan kasar. Dia masih menangis tentu saja. Karena telah diperlakukan Jeffrey dan anaknya dengan kasar. Padahal, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Joanna telah mencuci otak kalian!"
"Bukannya Mama yang telah melakukan itu pada Juno sekarang? Sehingga dia begitu benci ibu kandungnya."
Rena menatap Kevin nyalang. Dia jelas marah dan kembali terluka. Karena anaknya masih saja membela Joanna daripada dirinya.
"Kenapa kamu selalu membela wanita itu? Apa yang Mama lakukan juga demi kamu! Demi kebahagiaan kamu!"
"Tapi sayangnya aku tidak merasa bahagia. Mama salah, apa yang telah Mama lakukan tidak benar. Jadi tolong, sudahi ini semua! Biarkan kami tenang tanpa gangguan."
"Kamu menganggap Mama sebagai pengganggu, Kevin!? Mama yang melahirkan kamu. Mama yang mempertahankan kamu di saat ayah kandungmu tidak tahu! Di saat nenek dan kakekmu tidak menginginkanmu!"
"Rena, cukup! Sudahi ini semua! Pergi sekarang! Jangan pernah datang jika hanya kekacauan yang akan kamu timbulkan!" Jeffrey menarik Rena keluar dari kamar anaknya. Melewati Kevin yang tentu saja hanya diam dengan air mata yang terus saja membasahi wajah.
Jeffrey melepas tangan Rena saat akan menurunkan tangga. Dia begitu marah akan si wanita. Karena dia begitu tega berkata seperti itu pada anaknya. Pada Kevin yang sudah banyak menerima luka dari masa lalu mereka.
"Tidak bisakah kamu pergi sejauh mungkin dari Jakarta sekarang? Jangan pernah temui aku, Kevin dan Juno juga. Pergi sejauh yang kamu bisa! Akan ku tanggung semua biayanya!"
Rena tertawa sumbang. Air matanya masih setia mengalir tentu saja. Karena apa yang baru saja didengar begitu menyakitkan baginya.
"Aku tidak mau! Aku tidak akan meninggalkan keluargaku. Kamu, Kevin dan Juno adalah anakku. Aku tidak akan meninggalkan kalian—"
PLAK...
Jeffrey menampar Rena begitu kencang. Hingga wanita itu tersungkur di ujung tangga. Dengan air mata yang terus saja keluar tentu saja.
"Juno bukan anakmu! Dia anakku dengan Joanna! Kamu tidak berhak mengklaim Juno sebagai anakmu Rena! Jadi tolong, menyerah saja!" Jeffrey mengepalkan tangan. Dia begitu kesal karena Rena sangat bebal. Tidak mau menyerah akan apa yang diinginkan. Padahal hal itu jelas mustahil didapatkan.
"Aku tidak akan menyerah! Sampai matipun aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkan kalian!" Rena berteriak sembari membangkitkan badan. Dia ingin berpegangan pada teralis tangga. Namun tangan yang sudah basah terkena air mata justru tergelincir begitu saja. Hingga tubuhnya jatuh terguling sampai ke lantai dasar.
"Rena!"
"Mama!"
Pekik Jeffrey dan Kevin bersamaan. Mereka berjalan beriringan menuruni tangga. Guna menyusul Rena yang kini sudah hilang kesadaran. Dengan darah yang sudah mengelilingi kepala.
Beberapa bulan berlalu.
Joanna dan Mega memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Sehingga kini, mereka datang ke Jawa untuk mengabari beberapa anggota keluarga dan teman yang mungkin akan diundang ke dalam acara itu.
"Orang tua dan adik-adikmu sudah. Lalu untuk mantan suamimu bagaimana?" tanya Mega setelah dia dan Joanna memasuki mobil. Setelah mereka makan bersama keluarga Joanna untuk membahas hal ini. Meski harus ada isak tangis. Karena orang tua dan adik-adik Joanna sempat meminta maaf akan apa yang dulu telah terjadi.
Akan masa lalu mereka yang buruk sekali. Sebab ada masalah yang tidak terselesaikan dengan baik. Sehingga mereka terus berasumsi jelek tentang masing-masing.
"Dia bukan keluargaku lagi. Kecuali Juno, tapi anak itu pasti belum mengerti."
"Bagaimanapun juga dia temanku. Aku akan tetap mengundang dia meski kau melarangku." ucap Mega saat mulai menyetir. Membuat Joanna terkekeh kecil. Karena dia baru mengingat hal ini.
"Iya, juga. Kalian berteman. Mau tidak mau dia harus diundang. Kalau begitu kita ke Jeffrey setelah kamu bertemu keluarga dan teman-temanmu saja."
Mega mengangguk kecil. Senyum tersungging di wajahnya saat ini. Dengan satu tangan yang mulai saling genggam erat sekali.
"Semoga semuanya diperlancar. Aku tidak sabar menjadi mempelai pria."
Joanna terkekeh sekarang. Karena dia merasa geli sebenarnya. Geli karena membayangkan pernikahannya dengan Mega. Sebab mereka memutuskan menikah di Bali saja. Meski diadakan di ruangan terbuka, namun tetap saja itu agak berlebihan karena Mega mengundang banyak orang. Bahkan lebih banyak daripada di pernikahan pertamanya.
"Aku sebenarnya masih malu. Apa kata orang-orang kalau tahu aku janda beranak satu?"
"Siapa yang peduli, sih? Bodo amat tentang pandangan mereka. Asal bagiku kamu sempurna. Lagipula aku juga tidak sebaik itu, Sayang. Aku tidak perjaka. Lalu apa bedanya? Hanya status pernikahan dan buntut saja, kan?"
Joanna menepuk kencang pundak Mega. Karena agak kesal sebab Juno dianggap sebagai buntutnya. Meski sebenarnya itu sedikit ada benarnya.
"Juno bukan butut, ya!"
"Hahaha! Iya-iya! Dia anak tiriku yang tampan!"
Mereka terkekeh bersama. Lalu melanjutkan perjalanan dengan perbincangan. Sesekali mereka juga berhenti untuk membeli makanan. Untuk mengganjal perut selama perjalanan.
Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa, ya.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)