80/80

3.9K 138 5
                                        

Joanna dan Mega telah melangsungkan pernikahan. Keduanya tampak begitu bahagia. karena apa yang sudah direncanakan berjalan dengan lancar. Baik dari awal maupun di akhir acara. Bahkan hampir 90% tamu undangan hadir semua, karena memang acara ini tidak hanya menghadirkan keluarga dan teman. Namun kolega orang tua Mega juga. Mengingat dia anak pertama yang melangsungkan pernikahan. Tidak heran jika resepsi yang diadakan begitu besar.

Tujuh teman baik Joanna juga datang. Termasuk tiga teman yang sebelumnya kecewa padanya, akan insiden uang tabungan liburan yang pernah diminta saat Jeffrey dalam keadaan membutuhkan. Sebab Mega mendatangi mereka, satu per satu untuk menyatukan. Mengingat sudah beberapa tahun terlewat dan sudah lama mereka tidak berhubungan. Sehingga jika tidak dipupuk bonding yang lebih dalam, pertemanan mereka mungkin tidak bisa kembali seperti sekarang.

Joanna benar-benar bersyukur karena telah memiliki Mega di sampingnya. Pria yang akan melakukan segalanya demi kebahagiaannya. Serta pria yang akan menomor satukan dirinya di atas segalanya.

"Terima kasih untuk hari ini." ucap Joanna selesai resepsi. Dia benar-benar berterima kasih pada pria ini. Karena telah membuatnya begitu bahagia dan bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi.

"Meskipun Jeffrey tidak hadir, tapi ada Juno dan Kevin. Dia bahkan mau dengan suka rela foto bersama denganku. Aku benar-benar terharu." Joanna memeluk Mega yang sedang melepas pakaian. Karena saat ini mereka sudah tiba di rumah. Di rumah Mega yang berada di Bali tentu saja. Karena tempat resepsi tidak jauh dari sana.

"Aku yang seharusnya berterima kasih. Karena kamu tidak kembali dengan Jeffrey." Mega yang sejak tadi menahan senyum mulai membalas pelukan. Mendekap Joanna erat-erat. Sebab akhirnya dia menikah juga, dengan wanita yang tentu saja sangat dicinta.

"Aku bodoh jika kembali dengannya, meski ada Juno yang sebenarnya memberatkan." Joanna melepas pelukan. Karena ingat jika ada sesuatu yang sejak tadi ingin ditanyakan.

"Kevin dan Juno berdua saja, kan? Sekarang mereka di mana? Langsung pulang? Kamu suruh orang untuk mengantar mereka ke bandara juga?"

"Mereka sedang bersama Logan. Mereka menginap di sini satu malam. Di resort sebelah. Supaya besok pagi atau siang bisa jalan-jalan bersama kita. Aku sudah pesan penerbangan malam untuk mereka."

Joanna tersenyum lebar. Lalu berjinjit guna mengecup bibir Mega, untuk yang pertama kalinya setelah mereka menjalin hubungan. Sebab selama berkencan, mereka benar-benar tidak melakukan skinship berlebihan.

"Thank you." ucap Joanna setelah menjauhkan wajah. Pipinya bersemu merah. Membuat Mega gamas dan mulai mencium kedua pipinya. Lalu pindah ke dahi dan bibirnya. 

Mereka bercinta cukup lama. Karena sesi foreplay dilakukan begitu intens tentu saja. Karena keduanya saling begitu memuja hingga lupa jika ada kegiatan penetrasi yang akan menjadi puncak kesenangan mereka.

Di lain tempat, Jeffrey sedang mengurus pengobatan Rena. Bersama ibunya, karena dia tidak sanggup jika harus mengurus Rena sendirian. Karena wanita itu memiliki gangguan mental dan kerap membuat perawat yang dipekerjakan tidak betah berlama-lama.

"Berapapun uang yang Mama minta untuk perawatan Rena, akan aku berikan! Tapi tolong jauhkan dia dari aku dan anak-anak! Sudah cukup Kevin yang menderita, jangan buat Juno merasakan hal yang sama!"

Jessica yang baru saja membersihkan ompolan Rena jelas merasa tidak terima. Karena dia sudah tua dan seharusnya rehat saja. Bukan justru mengurusi Rena yang kini hilang akal akibat terlalu stress belakangan.

"Kamu mau Mama menghabiskan masa tua untuk mengurus orang gila? Dia bahkan berak dan kencing sembarangan! Mama tidak sanggup jika harus mengurus dia selamanya!"

"Lalu Mama mau aku yang mengurus Rena? Atau Kevin dan Juno yang masih balita!? Dia bahkan ketakutan bertemu Rena, Ma. Jadi tolong, bawa pergi dia sejauh mungkin dari Jakarta. Aku akan berikan berapapun yang Mama minta asal dia hilang dari pandanganku dan anak-anak."

"Kamu tega Jeffrey? Kamu tega membuat Mama menderita seperti ini?"

"Bukannya tega, Mama sendiri yang melarang aku untuk membawa Rena ke rumah sakit jiwa. Karena dia masih keluarga kita, karena dia masih memiliki potensi untuk kembali dipulihkan. Jadi Mama yang harus bertanggung jawab atas dirinya. Terserah Mama mau apakan dia pada akhirnya, tapi yang jelas, aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Aku hanya akan bertanggung jawab atas segala biaya yang dibutuhkan. Anggap saja sebagai kompensasi atas dia yang telah melahirkan Kevin ke dunia dan pernah hidup menderita karena masa lalu kita. Selebihnya, aku tidak akan bertindak lebih jauh, Ma. Aku tidak akan menikahi dia, aku tidak akan menerima dia kembali tinggal di rumah bersama anak-anak."

Air mata Jessica mengalir perlahan. Dia benar-benar takut sekarang. Takut akan segalanya. Karena dia juga tidak ingin Jeffrey menikahi Rena sekarang. Namun dia tidak tega jika membiarkan Rena tinggal di rumah sakit jiwa. Sebab bagaimanapun juga Rena adalah keponakan yang telah dianggap sebagai anak kandungnya.

"Mama tidak memintamu untuk menikahi Rena setelah melihat keadaannya yang sekarang. Mama hanya—kasihan jika dia harus tinggal berjauhan dengan kebahagiannya. Dengan kamu, Kevin dan Juno juga. Mama masih berharap dia akan pulih meski tidak bisa seperti sedia kala."

"Mama kasihan dengan Rena, tapi kenapa tidak bisa kasihan dengan aku dan cucu-cucu Mama? Masa depan mereka masih panjang. Apa jadinya jika mereka hidup berdampingan dengan Rena terlalu lama? Sekarang saja Juno sudah takut padanya, Mama mau—"

"Cukup! Mama mengerti. Mama salah karena sudah memaksakan kehendak kali ini. Mama akan membawa Rena pergi. Rena akan Mama bawa ke Surabaya. Tapi kamu dan anak-anak harus sering datang! Paling tidak sebulan sekali agar dia tidak terlalu merindukan kalian."

Jeffrey sedikit merasa lega. Karena ibunya mau mengalah. Namun untuk mengiyakan permintaan ibunya, rasanya begitu berat. Sehingga dia tidak kunjung memberi jawaban.

Setelah melalui perdebatan panjang, Jeffrey akhirnya bisa tidur dengan tenang. Karena tidak ada lagi Rena dan ibunya yang mengganggu hidupnya. Namun hatinya juga terasa hampa, karena Joanna tidak ada. Wanita itu bahkan sudah menikah dengan pria lain sekarang. Sehingga tidak ada lagi harapan untuk mereka kembali bersama. 

Kecuali jika Mega ketahuan selingkuh atau meninggal.

Apa kita buat saja salah satu opsi di atas terjadi, ya? Ah, jangan! Kasihan penulis kesayangan kita. Capek tuh dia.

Karena masih ada ratusan draft cerita yang belum dipublish, ada puluhan cerita lama yang mau direvisi supaya bisa dipublish lagi. Belum lagi belasan ide yang baru sempet ditulis di buku tulis.

Jadi lebih baik kita akhiri saja. Lalu move on di cerita yang lainnya. Dah!

END.

Akhirnya cerita ini selesai juga. Aku benar-benar nggak nyangka cerita ini bakalan tembus 80 chapter meskipun memakan waktu begitu lama. Padahal niat awal mau buat sampe 30 chapter aja. Eh malah keterusan, karena sempet hilang rasa pas mau lanjutin cerita, sebab ada begitu banyak guncangan di dunia nyata.

Aku sadar betul bahwa tulisanku masih banyak kekurangan. Aku masih belajar dan sangat berterima kasih pada kalian yang sudah setia membaca dan memberi banyak dukungan. Baik melalui kritik dan saran, maupun yang lainnya. Thank you sooo much! Ini sangat berharga bagiku. Karena menulis bukan hanya hobiku, tapi juga bagian dari hidupku.

Aku sering merasa duniaku gelap saat mengalami kegagalan dan dikecewakan. Merasa tidak berguna dan ingin mati saja. Tapi saat terbesit ingin mengakhiri ini semua, aku ingat kalau masih ada kalian. Masih ada banyak cerita yang belum aku selesaikan, masih ada banyaaak negara yang belum aku pijak dan masih ada harapan untuk aku yang selalu merasa sendirian.

Padahal sebenarnya tidak, jika aku mau mengangkat tangan meminta pertolongan.

Bagi kalian yang mungkin merasakan hal yang sama, ayo temukan alasan kecil agar bisa bertahan sedikit lebih lama! Agar tidak berakhir jadi pecundang karena mencurangi rencana Tuhan. Karena tugas kita mudah sebenarnya, cukup jalani hidup sebaik yang kita bisa, untuk sisanya biar Tuhan yang bereskan.

Kalau rencana kita gagal, dikecewakan, dsb? Anggap ini sebagai redirection saja. Karena mungkin rencana kita kurang benar, jadi Tuhan sedang arahkan agar jadi lebih benar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang