Beberapa bulan berlalu.
Jeffrey baru saja pindah ke rumah baru. Karena apartemen yang ditempati sebelumnya tidak cukup menampung tujuh orang termasuk dua ART yang baru saja dipekerjakan pada enam bulan lalu. Mengingat Rena dan Jessica kini hanya fokus mengurus Juno yang telah ditinggalkan si ibu.
Iya. Joanna masih belum kembali. Bahkan hingga Juno hampir genap satu tahun bulan ini.
Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Membuat Jeffrey uring-uringan setengah mati. Karena dia begitu sulit mendapat kabar dari sang istri.
"Dia masih istriku! Mama tidak berhak berkata seperti itu!" seru Jeffrey pada ibunya. Dia marah, karena Jessica baru saja mengatakan hal yang tidak masuk akal menurutnya.
"Istri macam apa yang tega meninggalkan suami dan anaknya selama satu tahun penuh? Dia sudah bukan istrimu! Lebih baik segera urus perceraian kalian! Setelah itu nikahi Rena!"
Jeffrey yang sedang menata ruang kerja mulai membalikkan badan. Menatap ibunya yang sejak tadi dipunggungi badan. Karena wanita itu baru saja masuk ruangan.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Joanna, apalagi menikahi Rena! Mama seharusnya sadar, istriku pergi juga karena kalian! Jadi berhenti ikut campur masalah rumah tanggaku jika Mama tidak ingin kusalahkan terus menerus!"
"Jeffrey, Mama tidak akan ikut campur kalau istrimu bisa mengurus diri dengan baik. Tidak mencoba menggugurkan kandungan dan—"
"Mama cukup! Itu semua salahku! Istriku melakukan itu karena aku! Karena aku yang tidak becus meyakinkan dia agar mau memiliki anak denganku. Jadi berhenti menyalahkan istriku!"
Jessica yang mendengar jelas merasa tidak terima. Dia menggeleng pelan. Tidak menyangka jika Jeffrey bisa begitu bodoh hanya karena wanita. Sampai-sampai rela menyalahkan diri sendiri seperti sekarang.
"Kamu benar-benar gila, Jeffrey!" seru Jessica sebelum pergi. Meninggalkan Jeffrey yang kini sudah merapikan ruang kerja lagi.
"Istriku pasti pulang." ucap Jeffrey dengan suara lirih. Dia baru saja memasang figura kecil di samping layar monitor. Figura yang berisi fotonya bersama Joanna saat pertama kali jumpa. Yaitu saat melangsungkan akad nikah di rumah si mertua.
Jeffrey ingat sekali, saat itu perasaannya campur aduk. Antara senang dan sedih. Senang karena istri yang ibunya pilih terlihat sangat cantik jika dilihat secara langsung dan sedih karena sadar jika hubungannya dengan Rena akan semakin sulit dimulai lagi.
"Kenapa dulu aku berpikir seperti itu? Seharusnya aku menikmati momen bahagia itu!" Jeffrey mengusap kaca figura dengan tisu. Rasanya dia sangat menyesal karena tidak menikmati momen yang tidak bisa diputar kembali itu. Momen saat dia menikahi wanita yang sangat dicintai hingga akhir hayatnya tentu.
Drttt...
Ponsel Jeffrey bergetar. Kontak istrinya tertera. Membuatnya segera mengangkat.
"Halo?"
Halo Jeffrey. Kamu jadi pindah hari ini? Kamu dan Juno butuh apa? Aku akan kirim sesuatu ke sana.
Jeffrey diam sejenak. Rasanya dia ingin menculik wanita itu agar kembali pulang. Menyekapnya di rumah selama 24 jam dan tidak mengizinkan keluar selamanya.
Mengingat selama ini, Jeffrey sudah tahu di mana keberadaan istrinya. Melalui detektif swasta yang disewa. Dia juga tidak 100% putus komunikasi dengannya. Karena Joanna akan menelepon seminggu sekali untuk menanyakan kabar anaknya. Namun tidak bisa jika sebaliknya. Sebab wanita itu akan mematikan ponselnya sehingga tidak akan bisa menerima panggilan.
"Iya, kami jadi pindah. Kamu tidak perlu mengirimkan apa-apa. Cukup datang saja, aku dan Juno pasti akan sangat senang."
Joanna diam cukup lama. Tidak menjawab perkataan suaminya. Karena dia sudah merasa nyaman tinggal di luar sana dan merasa sudah tidak lagi pantas kembali dengan suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)