74/74

2K 122 8
                                        

Joanna jelas menangis selama mobil berjalan. Membuat Mega tidak enak hati tentu saja. "Kita mau langsung atau mau jalan-jalan sebentar?"

Mega memberikan beberapa lembar tisu pada Joanna. Membuat tangis wanita ini berangsur-angsur reda. Karena dia sudah cukup lama menangis sebenarnya. 

"Langsung kembali saja. Untuk apa aku di sini lama-lama?"

"Ya sudah."

Mega menurut saja. Karena dia tidak memiliki kegiatan juga. Mengingat semua pekerjaan sudah ada yang mengurus sekarang.

Sejak pesawat berangkat, Joanna diam saja. Dia tidak mengatakan apapun kecuali ditanya. Padahal biasanya wanita itu ceria, banyak bertanya dan tidak suka mematikan percakapan. Itu sebabnya mereka bisa begitu dekat selama satu bulan. Karena Joanna tampak begitu terbuka pada Mega sebelumnya.

Pesawat sebentar lagi tiba ke tempat tujuan. Namun Joanna masih diam saja. Tidak menangis ataupun melakukan hal yang lainnya. Dia hanya menatap jendela dan sesekali berkedip saja. Membuat Mega sungkan jika ingin bertanya. Takut mengganggu kenyamanannya.

"Malam ini aku boleh menginap di tempatmu?" tanya Joanna setelah Mega mengencangkan sabuk pengaman. Sesuai dengan anjuran pramugari yang baru saja terdengar. Sebab sabuknya sudah terlepas karena dia sempat ke kamar mandi sebentar.

"Kamu serius? Tumben."

"Aku hanya ingin menyendiri. Di rumah singgah aku tidak akan bisa seperti ini. Maksudnya, aku sedang tidak ingin ditanya-tanya saat ini. Aku takut emosiku meledak nanti. Boleh, kan?"

"Boleh, dong! Menginap selamanya juga boleh. Hehehe." Candaan Mega membuat Joanna tersenyum kecil. Dia juga mengucap terima kasih. Karena sudah diperlakukan sebaik ini.

"Terima kasih. Terima kasih karena sudah memperlakukanku dengan baik."

"My pleasure, Queen."

Kini Joanna tertawa. Karena Mega membuat gesture seperti sedang ingin membungkukkan badan. Sedangkan tubuhnya sudah tertahan sabuk pengaman.

Es yang Joanna bangun sebelumnya akhirnya mencair juga. Dia dan Mega bisa kembali bercanda. Bincang santai seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Tidak lama kemudian Joanna tiba di tempat Mega. Dia takjub akan keadaan rumah Mega yang begitu bersih dan nyaman meski berukuran besar.

"Serius kamu tinggal sendiri? Jangan-jangan kamu sudah beristri!" tanya Joanna penuh intimidasi. Dia juga sudah menjatuhkan tas di kursi teras rumah ini. Sebab dia berharap bisa menginap di Jakarta selama beberapa hari, namun Juno justru tidak mau melihatnya lama-lama seperti tadi.

"Iya, kamu istriku! Iyalah! Aku tinggal sendiri. Tapi ada orang yang datang untung masak dan bersih-bersih setiap hari. Tapi hari ini, orang yang masak tidak bisa datang. Isi kulkas penuh sekarang, nanti aku yang akan masak untuk kita. Kamu mau makan apa?"

"Aku bisa makan apa saja. Aku percaya kamu Chef Mega!" Joanna membuat gestur hormat dengan cara membungkuk 90 derajat. Membuat Mega jelas teretekeh kencang. Lalu bergegas membuka kulkas untuk menyiapkan bahan masakan. 

"Kamu istirahat saja di sofa. Atau pakai kamar yang ada di sampingnya."

"Di sofa saja. Aku tiduran sebentar, ya? Nanti aku bantu cuci peralatan kalau sudah selesai masak."

"Iya, kamu santai saja."

Joanna terkekeh pelan. Lalu mendudukkan diri di atas sofa. Lalu menyandarkan kepala pada punggung sofa. Dia hanya memejamkan mata sebentar, namun dengkuran halus mulai terdengar. Karena dia langsung tertidur setelahnya. Sebab kemarin dia tidak bisa tidur karena tidak sabar bertemu anaknya.

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang