Tujuh bulan kemudian.
Masa kehamilan Joanna benar-benar menyebalkan. Karena hidupnya harus diatur oleh dua orang. Oleh Jessica dan Rena. Sehingga dia tidak bisa menikmati masa-masa ini dengan tenang.
"Bisa tidak? Kalau aku punya waktu sendiri sebentar. Satu minggu saja. Agar aku bisa benar-benar merasakan kehamilan ini tanpa gangguan mereka."
Jeffrey mulai membuka mata. Menolehkan kepala ke samping kanan. Pada Joanna yang kini sudah berada di dekapan. Karena seperti biasa, mereka akan tidur dalam posisi berpelukan. Meski terhalang perut besar si wanita.
"Sayang, sebentar lagi kamu melahirkan. Mama pasti tidak akan mengizinkan. Dia sangat khawatir akan keselamatan kalian." Jeffrey menjauhkan badan. Agar bisa menatap wajah istrinya lebih jelas.
"Aku butuh refreshing, Jeff! Aku bosan di rumah terus! Makan makanan yang sama terus! Aku juga butuh hiburan! Butuh bersenang-senang!"
"Tapi kamu sedang hamil, Sayang. Sabar sedikit saja. Sebentar lagi kamu pasti bisa bersenang-senang. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka setelah melahirkan."
Jeffrey mendudukkan badan ketika melihat istrinya memasang wajah kesal. Dia juga mulai menjauhkan badan. Lalu bersandar di kepala ranjang dengan perlahan.
"Mau hamil atau tidak seharusnya tidak menjadi masalah! Aku stres Jeffrey! Tujuh bulan aku tidak pernah keluar dari sini! Kecuali saat memeriksa kandungan bersama Mama, Rena dan Kevin!"
"Iya, Sayang. Aku mengerti. Aku minta maaf karena sudah membuatmu merasa stress seperti ini. Sabar, ya? Untuk pemeriksaan minggu depan aku yang akan antar. Kita sekalian jalan-jalan."
Raut wajah Joanna berubah. Dia merasa senang. Karena akhirnya, keinginan untuk bersenang-senang sedikit terkabul sekarang. Meski harus menunggu tujuh hari ke depan.
"Janji, ya? Kalau kamu tidak akan mengalah pada Mama lagi seperti biasa. Minggu depan, kamu harus memaksa! Bilang kalau kamu sebagai ayah ingin juga menemani aku memeriksakan kandungan!"
"Iya, Sayang. Aku janji. Kali ini aku tidak akan kalah lagi." Jeffrey memeluk istrinya. Menenangkan si wanita yang mulai manja belakangan. Meski hanya saat di kamar. Karena saat di luar kamar, Joanna jelas akan menjaga image di depan Jessica dan Rena. Apalagi ada Kevin juga. Semakin tidak bisa berulah pula dia sekarang.
Satu minggu kemudian.
Joanna sudah berdandan sangat cantik sekarang. Dia memakai terusan warna merah muda dan cardigan warna merah fanta. Tidak lupa dengan lipstik warna pink yang membuat tampilannya semakin segar. Meski rambut panjangnya telah dipangkas hingga pundak.
"Cantiknya istriku!" seru Jeffrey saat keluar kamar mandi. Dia mengecup dahi yang sudah tertutup poni. Karena tidak ingin merusak riasan si istri jika dia mencium area lain.
"Sudah siap? Kita keluar sekarang!"
Joanna Mengangguk singkat. Dia berdiri dengan perlahan. Dibantu suaminya yang kini memakai pakaian santai karena sengaja cuti kerja.
"Kamu tidak kerja, Jeff?" tanya Jessica saat melihat Jeffrey tidak memakai pakaian kerja. Namun kaos polo warna hitam dan jeans warna biru tua.
"Tidak, Ma. Mau antar istriku periksa kandungan. Hari ini aku saja yang antar."
Jessica mulai mengadu alisnya. Dia tidak setuju akan rencana si anak. Karena dia jelas ingin ikut andil akan segala hal yang mencakup cucunya. Termasuk dalam agenda pemeriksaan kandungan.
"Tidak, Jeff! Mama tidak mau kecolongan lagi! Kandungan Joanna bisa bertahan sejauh ini karena Mama! Tinggal satu bulan lagi penantian kita terbayarkan! Mama tidak mau dengan sedikit kelonggaran bisa menghancurkan semua perjuangan!"
Rena yang sedang mengelap garpu mulai mengangguk singkat. Dia setuju akan ucapan Jessica. Karena jelas dia tidak ingin kandungan Joanna kenapa-kenapa.
“Mama tidak percaya denganku?” tanya Joanna dengan nada pelan. Suaranya parau sekarang. Karena menahan kesedihan. Dia juga berusaha mendekat. Setelah melepas tangan Jeffrey dari pinggang.
"Sayang..."
"Selama tujuh bulan ini aku sudah cukup bersabar, Ma. Aku tidak menentang kalian yang ingin ikut tinggal bersama kita. mengatur semua apa yang kumakan dan aku gunakan! Aku tidak masalah. Tapi tidak bisakah kalian mengizinkan aku bernafas barang sebentar saja? Aku seorang ibu juga, aku ingin melakukan hal menyenangkan selama kehamilan tanpa didikte kalian!"
Jessica tampak meradang. Begitu pula dengan Rena yang kini sudah mendekat. Dia juga tampak marah. Sepertinya tidak terima dengan apa yang baru saja didengar.
"Kami tidak akan seperti ini jika sejak awal kamu tidak berulah! Tidak mencoba menggugurkan kandungan! Wajar kalau kami begitu protektif sekarang! Karena kami takut terjadi hal yang serupa!"
Air mata Joanna mulai membasahi pipi sekarang. Dia benar-benar tersinggung akan ucapan Rena. Meski apa yang dikatakan memang benar.
"Maaf karena sudah mengecewakan kalian. Aku tahu aku salah, aku juga benar-benar telah menyesali semuanya. Aku sudah berusaha menebusnya dengan menurut pada kalian selama kehamilan. Apa semua ini masih belum cukup untuk menebus semuanya? Apa menurut kalian, aku masih belum layak menjadi ibu sekarang?"
"Sayang, kamu sudah cukup layak. Kamu—" Jeffrey yang ingin menyentuh pundak istrinya mulai ditepis kasar oleh si wanita. Karena dia sedang tidak butuh ditenangkan.
"Jawab aku, Ma! Apa menurut Mama aku masih belum layak untuk menjadi ibu dari bayi yang kukandung sekarang!?"
Air mata Joanna semakin membanjiri wajah. Karena dia benar-benar merasa kerdil sekarang. Merasa butuh validasi dari si ibu mertua juga. Agar paling tidak, dia merasa layak menjadi orang tua. Karena dia sudah tidak dekat dengan keluarga dan teman-teman yang seharusnya memberi dukungan.
"Kamu masih belum layak menjadi orang tua, itu sebabnya Mama tidak bisa membiarkan kalian pergi berdua saja. Kamu harus periksa kandungan dengan Mama! Kamu harus tetap dalam pantauan Mama sampai bayi ini dilahirkan!"
"Mama!"
Joanna yang mendengar itu hanya bisa menggeleng pelan. Dengan air mata yang mengalir semakin deras. Dia juga terus menepis tangan Jeffrey yang berusaha menyentuhnya. Karena dia merasa sedang tidak butuh dukungan.
"Oke, Ma. Kalau begitu urus saja anak ini setelah dilahirkan. Aku tidak akan menyentuhnya sampai Mama merasa aku layak menjadi orang tua. Toh, sejak awal hanya bayi ini yang Mama pikirkan!"
Joanna mulai menatap suaminya. Karena ingin berbicara padanya. "Kamu bisa kerja sekarang! Aku akan ke dokter dengan Mama. Aku masih bisa bersabar sampai satu bulan ke depan. Setelah itu aku akan bebas, aku bisa melakukan apapun yang kusuka tanpa perlu memikirkan anak. Toh, sudah ada Mama dan Rena yang akan mengurusnya. Iya, kan?" Joanna kembali menatap Jessica, berikut Rena yang berdiri di sampingnya. Seolah sedang bekerjasama untuk menyerangnya.
"Benar, kan? Setelah anak ini lahir, kamu dan Mama akan mengurusnya dengan baik, kan?" Joanna menatap Rena. Membuat wanita itu salah tingkah. Agak menyesal juga karena telah ikut campur terlalu jauh sekarang.
"Jawab aku, Rena!"
"Sayang..."
"Iya, aku dan Mama Jessica akan mengurusnya. Aku yakin bisa menjadi ibu yang baik bagi anakmu kelak. Bahkan lebih baik dari ibu kandungnya!"
Senyum tipis Joanna tersungging singkat. Air matanya juga terus membanjiri wajah. Disusul dengan derap langkah kaki yang mulai mendekat. Karena Kevin baru saja keluar kamar lengkap dengan seragam SMA yang melekat di badan.
"Kamu lihat Kevin? Dia sangat pintar, dia sangat membanggakan. Dia bahkan lebih berprestasi daripada ayahnya saat masih sekolah. Mama rasa Rena memang sangat layak mengurus anakmu kelak, jika kamu memang belum siap melakukan."
Hati Joanna semakin sakit hati saat mendengar. Membuat Jeffrey lekas membawanya kembali ke kamar. Guna menenangkan sekaligus menyelamatkan dari berbagai ucapan yang mungkin akan semakin menyakiti hatinya.
Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomantizmJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)