64/64

2.6K 178 12
                                        


Malamnya, Jeffrey pulang lebih awal. Dia bahkan berpapasan dengan Kevin yang baru saja les di gedung sebelah. Karena anak remaja ini memiliki jadwal yang begitu padat agar dapat masuk universitas impian.

"Mama bangun, Pa?" tanya Kevin yang baru saja selesai mandi. Sama seperti Jeffrey, karena rambut mereka sama-sama basah saat ini.

"Masih tidur. Kamu bawa apa?" Jeffrey kali ini balik bertanya. Saat Kevin membawa kotak berukuran sedang yang harum baunya.

"Macaroon, kemarin Mama pengen ini. Jadi aku belikan, kata Nenek juga boleh makan. Asal sedikit saja."

"Berikan nanti saja, ya? Mama masih istirahat. Nanti kalau Mama keluar, kamu sendiri yang harus berikan."

Kevin mengangguk singkat. Karena dia memang semakin dekat dengan ibu sambungnya. Meski belakangan, dia agak sibuk karena banyak kegiatan.

"Joanna tidak keluar? Makan malamnya bagaimana? Mau diantar ke kamar?" tanya Jessica yang sedang menyiapkan makan malam. Tentu saja bersama Rena juga.

"Aku masih marah akan apa yang sudah terjadi tadi pagi. Kenapa Mama seperti ini? Kenapa Mama jahat sekali?"

Jessica menarik nafas panjang. Dia sudah jengah karena terus dimarahi anaknya. Karena saat sarapan dan sebelum si anak berangkat kerja, dia tentu mendapat amukan juga. Belum ketambahan Kevin pula. Sehingga kini, dia merasa muak tentu saja.

"Istrimu memang belum becus menjadi ibu! Apa salah jika Mama mengatakan fakta itu? Joanna itu masih kekanakan! Mentalnya masih berantakan! Lihat saja, hubungan dengan orang tua dan adik-adiknya masih berantakan! Kamu mau anakmu diurus wanita yang tidak stabil seperti dia? Seharusnya kamu bersyukur karena di sini ada Mama dan Rena, karena kami kandungan Joanna masih bertahan! Bayangkan jika kami tidak ada, pasti akan ada percobaan menggugurkan yang kedua dan ketiga!"

Jeffrey mengepalkan tangan. Dia jelas merasa tidak terima saat istrinya dijelekkan. Meski ada beberapa bagian yang memang benar. Namun tetap saja, sebagai suami yang sangat mencintai istrinya, dia jelas tidak terima jika si istri direndahkan.

"Mama keterlaluan! Mama lupa siapa yang dulu sangat memuja Joanna? Terlepas dari semua keburukannya! Emosinya yang tidak stabil bukan salahnya. Aku yakin jika diminta memilih, istriku pasti ingin memiliki emosi yang stabil juga. Dia tidak ingin menyakiti orang. Mama tahu sendiri luar dalamnya Joanna. Istriku, dia tidak seburuk yang Mama ucapkan. Aku yakin dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita. Jadi tolong, berhenti mengatakan hal buruk padanya. Karena jika tidak, kami yang akan pindah!"

Jessica yang mendengar itu jelas tidak terima. Dia naik pitam. Karena Jeffrey terdengar lebih membela istrinya daripada dirinya. Padahal dia telah banyak berkorban untuk si anak. Apalagi kepindahannya ke Jakarta jelas membuatnya harus banyak beradaptasi juga.

"Kamu keterlaluan Jeffrey! Kamu lebih membela istri daripada ibu kandungmu sendiri! Kamu sadar jika sudah menyakiti Mama saat ini? Kamu mau jadi anak durhaka Jeffrey?"

Jeffrey menggeleng pelan. Karena jelas dia tidak terima jika dilabeli sebagai anak durhaka. Sebab dia sangat menyayangi ibunya dan tidak mungkin sengaja melukainya.

"Aku tidak ingin menjadi anak durhaka, Ma. Aku sangat menyayangi Mama. Tapi jika menyangkut tentang Joanna, jelas aku tidak akan tinggal diam. Istriku, jelas akan menjadi prioritas. Sudah cukup kalian membuatnya tertekan selama kehamilan. Setelah dia melahirkan, aku harap kalian segera kembali ke Surabaya. Kecuali Kevin karena dia tidak mungkin kembali pindah."

Rena yang sejak tadi hanya mengamati jelas tidak tahan untuk menyela. Karena dia merasa berhak ikut campur juga. Sebab selain menjadi sepupu dan merangkap saudara angkat, dia juga ibu dari Kevin, cucu pertama dalam keluarga mereka.

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang