58/58

2.7K 148 2
                                        

Entah bagaimana caranya, kini Jeffrey berhasil membawa Joanna masuk mobil sekarang. Meski wajah si wanita masih ditekuk dalam. Sebab dia tidak mau sebenarnya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, sampai kamu tega melakukan itu padaku Joanna." Jeffrey menoleh pada istrinya. Dia memasang wajah kecewa. Karena merasa dikhianati oleh istrinya. Mengingat semalam, hubungan mereka sudah membaik seharusnya.

"Aku ingin menganggap semua ini sebagai candaan. Tapi kamu sudah mengemas semua barang di apartemen juga. Sayang, sebenarnya ada apa? Aku salah apa lagi sekarang?" Jeffrey berkaca-kaca. Dia mulai meraih kedua tangan istrinya. Karena memang dia tidak ingin diceraikan. Apalagi dengan kesalahan yang dia tidak tahu apa.

"Aku hanya bosan. Aku butuh suasana baru sekarang."

Jeffrey mengernyitkan dahinya. Karena merasa jika alasan ini tidak masuk akal. Sehingga dia ingin menuntut penjelasan yang lebih banyak.

"Bosan? Bosan dengan hubungan ini? Atau dengan suasana di kota ini?"

Joanna menarik tangan. Lalu membuang wajah. Menatap jendela karena enggan menatap wajah pria di sampingnya.

"Keduanya." 

Jeffrey menatap Joanna tidak percaya. Karena istrinya mengatakan hal seperti ini dengan nada biasa saja. Seolah tanpa beban dan merasa bersalah. Padahal hal ini jelas mengecewakan dirinya.

"Aku merasa hambar akhir-akhir ini. Hubungan yang dulu terasa membingungkan justru mendebarkan setiap hari. Tidak seperti sekarang yang tampak biasa saja saat kujalani."

Joanna beralih menatap Jeffrey. Ucapannya jelas terdengar tegas kali ini. Didukung dengan ekspresi serius si wanita sejak tadi.

"Aku ingin bercerai, Jeff. Aku merasa hubungan ini sudah tidak bisa bekerja dengan baik lagi. Kita sudah berbeda visi misi. Jadi lebih baik kita berjalan masing-masing."

Jeffrey menggeleng sekarang. Menatap Joanna dengan tatapan terluka. Karena jelas ucapannya ini sangat menyakiti hatinya.

"Berhenti bicara omong kosong! Aku tahu kamu tidak sebajingan ini! Joanna, aku paham jika kamu mungkin bosan dengan hubungan ini. Jadi lupakan alasan konyol yang kau ucapkan tadi!" Jeffrey menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara. Sebab jelas dia butuh emosi yang stabil untuk membahas ini semua.

"Kita pindah. Kamu mau ke mana? Jakarta? Malang? Atau Singapura?"

Mata Joanna membola. Dia jelas tidak menyangka jika Jeffrey akan menyarankan demikian. Pindah di saat dia baru saja membuat kantor sendiri di Surabaya. Setelah segala huru-hara yang terjadi sebelumnya.

"Jangan gila! Kamu baru saja buat kantor di Surabaya!" Joanna menepuk dada Jeffrey dengan tangan kiri. Tidak kencang namun mungkin dapat menyadarkan pria ini sedikit.

"Gila kamu! Kamu baru buat kantor di sini!"

"Aku bisa buka kantor lain nanti. Masalah kerjaan masih bisa kuatasi meski pindah domisili. Semua ini tidak masalah asal masih ada kami yang mendampingi." Jeffrey meraih tangan Joanna kembali. Sedangkan wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin. Agar wanitanya luluh dan mau kembali lagi. Berubah pikiran untuk merealisasikan perceraian ini. Karena dia yakin jika ini hanya kegiatan impulsif yang dilakukan istrinya saat sedang dalam keadaan tidak baik.

"Kamu gila, Jeff!"

Joanna menarik tangan. Menatap Jeffrey tidak percaya. Atau marah lebih tepatnya. Karena si pria mulai membuatnya goyah. Disaat dia sudah yakin dengan keputusan sebelumnya.

"Aku sangat mencintaimu, Jo. Kamu mungkin masih bisa hidup tanpaku. Tapi tidak denganku. Setelah apa yang telah kita lalui dulu."

Jeffrey mulai memeluk Joanna. Karena wanita itu tidak lagi mengeraskan rahangnya. Seolah kemarahan yang sebelumnya mendadak hilang dalam sekejap.

GET TO KNOW BETTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang