Joanna membuang test pack ke dalam closet kamar mandi. Dia sangat ketakutan saat ini. Hingga tidak sadar jika cincin nikahnya ikut hanyut dan sudah tidak terlihat lagi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Jeffrey yang datang. Dia terkejut saat melihat Joanna duduk lesehan di depan closet kamar mandi. Dengan sampah yang sudah berserakan di dekat kaki.
"Ada apa ini!? Kamu kenapa? Sakit?"
Jeffrey panik. Dia mulai menyentuh pundak Joanna. Berusaha membangunkan istrinya. Namun tentu ditepis oleh si wanita.
"Keluar! Aku tidak mau melihat wajahmu sekarang!"
Jeffrey mundur perlahan. Dia tentu semakin marah. Karena Joanna masih begitu keras kepala. Bahkan dalam keadaan seperti sekarang. Sebab dia tengah menangis sekarang, entah karena apa.
"Kamu—"
"Urus saja anak kesayanganmu itu! Jangan pedulikan aku!"
Jeffrey menggeram frustrasi. Dia ingin meninju tembok kamar mandi. Namun diurungkan karena tidak ingin menakuti si istri.
"Aku mengiyakan ucapan Rena agar Kevin senang. Seperti itu saja kamu tidak peka!"
Joanna menyeka air mata. Lalu bangkit dari duduknya. Meninggalkan Jeffrey yang kini sedang marah padanya.
"Aku sedang bicara denganmu!" Jeffrey memekik kencang. Dia jelas merasa kesal. Karena Joanna terus saja seperti ini jika bertengkar. Menghindari dan membuat masalah berlarut-larut karena tidak kunjung diselesaikan.
"Aku salah, aku akan minta maaf pada Kevin dan Rena." ucap Joanna sebelum keluar kamar. Membuat Jeffrey yang sebelumnya berada di kamar mandi ikut keluar. Guna melihat apakah Joanna benar-benar menepati ucapan.
"Kevin, Mama minta maaf. Mama terlalu sensitif tadi. Aku juga minta maaf padamu, Ren. Karena sudah membuat kamu sedih."
Kevin mengangguk cepat. Lalu mendekati Joanna. Memeluk wanita itu untuk yang pertama kalinya. Sebab dia tahu jika hal ini terjadi karena salah ibunya juga. Karena sudah menyulut pertikaian sejak awal.
"Mama Joanna tidak sepenuhnya salah. Ini salah Mama Rena juga karena telah membahas hal yang tidak Mama suka."
Senyum tipis Joanna tersungging sekarang. Karena sedikit merasa senang, sebab ada yang membela. Dia juga membalas pelukan Kevin sebentar, sebelum akhirnya pamit pergi untuk membeli sesuatu di luar.
"Mama mau keluar sebentar. Kamu mau titip apa?" tanya Joanna setelah melepas pelukan. Hal itu tentu tidak luput dari penglihatan Jeffrey dan Rena. Sehingga mereka diam saja karena tidak ingin menginterupsi sekarang.
"Aku temani, Ma."
"Tidak perlu. Kamu di sini saja, mandi dan istirahat. Kamu pasti lelah karena sudah seharian di luar."
Joanna menepuk pundak Kevin pelan. Lalu pergi begitu saja. Tanpa berpamitan pada Jeffrey maupun Rena.
"Papa tidak mau antar Mama?" tanya Kevin saat Joanna hilang dari pandangan. Sebab dia agak khawatir tentu saja. Mengingat dia melihat jejak air mata di wajah ibu tirinya. Pertanda jika wanita itu sudah menangis sebelumnya. Entah apa yang sudah dilakukan ayahnya.
"Kamu langsung istirahat, ya?"
Kevin menangguk singkat. Dia menatap ayahnya yang kini pergi setelah mengusap kepalanya. Guna menyusul ibu tirinya.
"Mama keterlaluan! Seharusnya Mama tidak membahas hal seperti ini di depan Mama Joanna!"
Kevin langsung masuk kamar. Meninggalkan Rena yang kini dipenuhi rasa bersalah. Sebab telah menimbulkan keributan. Hingga Joanna menangis sebelumnya.
Jeffrey tidak berhasil mengejar Joanna. Karena wanita itu masuk lift yang hampir penuh orang. Sehingga dia tidak bisa ikut serta. Sehingga harus menunggu beberapa menit hingga tiba di lantai dasar.
Karena tidak tahu Joanna akan ke mana, Jeffrey memutuskan untuk menunggu di lobby saja. Sebab mengira jika istrinya hanya akan memberi barang di sekitar gedung apartemen mereka. Mengingat dia tidak membawa tas. Sehingga kecil kemungkinan dia pergi jauh sekarang.
Beberapa jam berlalu.
Jeffrey tidak kunjung melihat Joanna. Sofa yang diduduki bahkan sudah terasa hangat. Karena terlalu lama menanggung beban.
"Ke mana dia? Ini hampir jam sebelas." Jeffrey tampak khawatir. Sehingga dia mulai bangkit dan meminta untuk melihat CCTV dari security. Guna mencari tahu keberadaan si istri. Mengingat dia tidak memiliki kenalan di sini. Sehingga kecil kemungkinan dia akan bersama seseorang saat ini.
Setelah berhasil menemukan plat taksi yang membawa istrinya pergi, Jeffrey akhirnya menghubungi detektif swasta untuk mencari tahu akan keberadaan si istri. Sebab perasaannya tidak enak sekali. Sehingga dia ingin cepat-cepat menemukan wanita ini.
Hari sudah berganti. Namun Jeffrey masih belum menemukan keberadaan Joanna saat ini. Karena detektif swasta yang disewa belum menemukan keberadaan terakhir wanita ini.
"Ibu Joanna hamil, Pak?"
Jeffrey yang sedang memejamkan mata langsung membelalak seketika. Karena saat ini dia sedang menunggu di dalam mobil yang masih terparkir di basement apartemennya. Dengan panggilan telepon yang masih tersambung dengan detektif yang dipekerjakan.
"Hamil? Kenapa kamu bisa memberi kesimpulan seperti ini!?" tanya Jeffrey panik. Sebab dia takut terjadi apa-apa pada istrinya nanti. Jika dia benar-benar hamil saat ini.
"Saya bertanya, Pak. Tidak sedang memberi kesimpulan. Karena istri Bapak terlihat mendatangi dokter kandungan setelah keluar dari gedung apartemen Bapak dan akhirnya hilang dari jangkauan. Karena dia berjalan kaki dan melewati gang-gang sempit yang tidak terjangkau CCTV."
Jeffrey menelan ludah kasar. Dia benar-benar takut sekarang. Takut jika Joanna melakukan hal gila karena tidak terima akan kehamilan. Mengingat dia tahu betul jika Joanna belum siap memiliki keturunan.
Di tempat lain, Joanna sedang mempersiapkan diri untuk melakukan aborsi. Karena dia merasa belum siap menjadi orang tua saat ini. Sehingga nekat menghilangkan si jabang bayi.
Ini keputusan yang terbaik. Aku belum siap menjadi ibu dan mungkin selamanya juga tidak akan pernah layak menjadi ibu.
Batin Joanna setelah melebarkan paha. Karena dia siap menghilangkan janinnya. Selagi masih baru juga. Sehingga dia tidak merasa terlalu kehilangan. Setidaknya untuk sekarang.
Tidak apa-apa. Lebih baik aku yang menanggung dosa daripada anak ini hidup menderita karena memiliki ibu yang masih punya penyakit mental dan keluarga yang berantakan.
Joanna berkedip sekali. Membuat air matanya mengalir. Karena dia tentu merasa sedih. Merasa bersalah juga karena tega membunuh anak kandungnya sendiri. Meski ini demi kebaikan anak itu nanti. Agar dia tidak menderita karena lahir dalam keadaan yang menurutnya tidak ideal sama sekali.
Kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)