Jeffrey baru saja selesai mandi. Dia langsung masuk kamar dan menduduki tepi ranjang. Lalu menyentuh laptop baru yang sudah berada di atas ranjang. Pertanda jika istrinya yang membelikan.
"Kamu beli ini? Uang kita masih?"
Joanna yang sudah duduk di tengah ranjang mulai mengangguk singkat. Lalu memberikan laptop baru ini pada suaminya. Sebagai modal untuk kembali bekerja. Sebab semua alat tempur suaminya masih disita dan sepertinya tidak dikembalikan.
Bahkan, banyak klien yang meminta ganti rugi karena menolak menunggu Jeffrey kembali. Tidak heran jika harta Jeffrey dan orang tuanya habis karena untuk mengurus hal ini.
"Masih ada dua klien yang menunggu kamu. Aku juga sempat menyelamatkan beberapa file kerjaanmu. Dibantu Jordan."
Joanna meletakkan flashdisk hitam di atas laptop juga. Membuat Jeffrey berkaca-kaca. Karena tidak menyangka jika Joanna bisa totalitas ini dalam mengurusnya. Padahal dia berencana berhutang pada temannya, untuk membeli laptop agar bisa kembali bekerja. Meski harus terseok-seok karena pasti dia akan sulit mendapat klien sekarang.
"Aku benar-benar tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa lagi padamu. Kamu benar-benar penyelamatku!"
Jeffrey menaiki ranjang. Melangkahi laptop berikut flashdisknya. Guna memeluk istrinya.
"Kamu tidak hutang siapapun, kan? Cincin nikah kita masih ada?"
Jeffrey melepas pelukan, lalu meraih salah satu tangan istrinya. Guna memeriksa apakah cincin nikah mereka masih ada. Sebab cincin itu yang Jeffrey minta agar tidak dijual untuk keperluan hidup mereka.
"Masih. "
"Lalu kamu pakai uang apa?" tanya Jeffrey penasaran. Sebab sebelum mandi, dia sempat membaca RAB yang istrinya buat saat dirinya dipenjara. Mengingat wanita itu yang dipercaya Jeffrey dan keluarganya untuk mengurus segala urusan keuangan mereka.
"Ada yang kamu sembunyikan dariku? Jangan-jangan ini dari Jordan!"
"Bukan!" Joanna menepuk paha Jeffrey sekarang. Karena pria itu telah asal menebak.
"Lalu dari mana? Aku sudah baca dengan teliti RAB tadi. Uang kita tidak banyak yang tersisa saat ini."
"Aku pakai uang tabungan liburan yang dibawa salah satu temanku. Kita punya tabungan bersama sejak lama, sejak sepuluh tahunan. Tahun depan kita berencana ke Amsterdam, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut mereka."
Dada Jeffrey mencelos saat mendengar ucapan istrinya. Sebab dia merasa gagal tentu saja. Karena sudah menginterupsi kesenangan istrinya.
"Aku akan berusaha sangat keras agar kamu bisa ke Amsterdam dengan teman-temanmu tahun depan. Aku janji, Sayang!"
Joanna mengangguk saja. Karena dia sudah tidak berharap bisa pergi juga. Sebab dia telah bertengkar hebat dengan teman-temannya. Sehingga kecil kemungkinan dia bisa ikut bergabung kembali meski sudah ada uangnya.
Jeffrey meletakkan laptop dan flashdisk di atas meja. Lalu mendekati Joanna yang masih duduk bersila di atas ranjang. Kemudian mengecup pipi dan bibir bergantian.
"Jangan sekarang!" Cegah Joanna saat Jeffrey ingin menyesap bibir bawahnya. Karena ingin memperdalam ciuman mereka. Serta melakukan kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan. Mengingat saat di penjara, Jeffrey menolak saat si istri menawarkan. Karena tidak tega meniduri istrinya di ranjang bekas banyak orang.
"Kenapa? Kamu tidak datang bulan, kan?"
"Aku masih flu dan batuk. Nanti kamu tertular. Dua atau tiga harian mungkin sembuh. Uhuk!" Joanna yang sejak tadi mati-matian menahan batuk akhirnya kembali batuk. Dia juga meraih dua lembar tisu untuk mengeluarkan ingus. Karena dia benar-benar sedang sakit saat itu. Sehingga menolak melakukan itu agar Jeffrey tidak tertular tentu.
Jeffrey yang melihat itu jelas tidak kecewa. Namun justru kasihan pada istrinya. Sehingga dia mengambil alih tisu kotor istrinya, agar dibuang ke tempat sampah.
"Aku buatkan jahe hangat, ya? Kata orang-orang itu bagus untuk orang sakit."
"Kamu bisa memang?" tanya Joanna dengan suara parau. Dia mulai rebahan sekarang. Lalu memakai selimut di sekujur badan. Karena merasa kedinginan.
"Aku minta Rena atau Mama."
"Tidak usah. Malah merepotkan. Kamu sini saja! Aku mau tidur dipeluk suamiku yang tampan!"
Jeffrey menahan senyum sekarang. Lalu kembali naik ranjang. Kemudian memposisikan diri di samping istrinya. Agar bisa memeluknya erat-erat.
"Kalau transfer penyakit bisa, aku mau menggantikan kamu sekarang. Sayangku seharusnya jaga kesehatan, jangan kecapekan!"
Joanna tersenyum saja. Dia mulai memejamkan mata. Lalu memeluk perut suaminya yang terasa keras. Karena saat di penjara dia jadi rajin olahraga. Sehingga otot-otot tubuhnya mulai terlihat seperti Mega.
———
Besoknya, Joanna seharian di dalam kamar. Keluar hanya jika mau ke kamar mandi saja. Karena kamar mandi hanya ada satu di kontrakan.
"Ma, aku bawa ke dokter saja, ya? Batuknya tidak sembuh-sembuh soalnya. Suaranya juga tambah hilang. Aku kasihan."
"Dia hanya butuh istirahat. Wajar kalau dia tumbang sekarang. Tiga bulan lebih dia wara-wiri sendirian, kehujanan, kepanasan tidak dia rasakan. Sekarang kamu temani saja istrimu di dalam. Mama dan Rena yang akan kerjakan tugas rumah."
Jeffrey menurut saja. Dia kembali masuk kamar. Menatap Joanna yang kini memainkan ponselnya. Sembari bersandar pada kepala ranjang.
"Sayangku butuh sesuatu?" tanya Jeffrey setelah menaiki ranjang. Dia mulai memijat kedua kaki istrinya yang sudah dibalut selimut tebal.
Joanna menggeleng pelan. Membuat Jeffrey Mulai menarik nafas panjang. Karena tidak betah melihat Joanna tersiksa seperti sekarang. Sebab dia batuk setiap bernafas. Sehingga tidak terhitung berapa kali Jeffrey mendengarnya.
"Kita ke rumah sakit, ya? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Aku tidak pernah lihat orang batuk seperti ini sebelumnya."
Joanna menggeleng pelan. Dia juga sesekali batuk juga. Kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Lalu menarik jeffrey agar bisa dipeluknya.
Jeffrey diam saja. Namun tangannya mulai melingkari tubuh istrinya. Mengusap punggung wanita itu pelan. Agar meredakan batuknya meski mustahil tentu saja.
"Kalau sampai besok batukmu semakin parah, akan kubawa dokter ke rumah!"
Joanna diam saja, dia mulai memejamkan mata. Berharap bisa tidur segera. Agar tidak mendengar ocehan suaminya.
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomanceJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)