Mega sudah tiba di rumah. Dia menatap ibunya yang sedang memasak di dalam. Sendirian. Tanpa Joanna. Membuat dirinya merasa was-was. Takut jika Joanna diusir ibunya. Mengingat sebelumnya, wanita itu sedang berada di sana.
"Mama sendirian?" tanya Mega setelah meletakkan ponsel dan kunci mobil di atas meja. Lalu mencuci tangan dan menatap ke arah sekitar.
"Kamu berharap ada siapa lagi memang?" Kali ini Mira yang balik bertanya. Dia yang sedang menggoreng ikan mulai tersenyum tipis namun terlihat begitu culas di mata anaknya.
"Mama bertemu Joanna? Di mana dia sekarang? Mama usir, ya?" Mega menukikkan alisnya. Dia merasa kesal tentu saja. Karena pacarnya diusir begitu saja.
"Kamu pikir mama sejahat itu, ya? Oh, iya, mana Logan? Kamu jadi jemput dia, kan?" Mira mengintip ke belakang. Mencari keberadaan Logan, namun tidak ada. Tidak ada siapapun di belakang Mega.
"Ke minimarket dia. Lalu di mana Joanna? Mama tahu kalau dia pacarku, kan?"
"Iya, sudah tahu. Mama juga tahu kalau dia janda anak satu." Mira kembali memasak setelah menampilkan raut kecewa. Membuat Mega begitu cemas. Takut jika hubungannya dengan Joanna ditentang.
"Mama tidak perlu merasa kecewa. Lagi pula aku dan dia sama. Hanya status pernikahan saja yang membedakan. Aku sudah tidak perjaka dan aku yakin mama pasti sudah tahu sejak lama. Secara, pergaulanku sudah liar sejak SMA." Mega mendekati ibunya. Bersandar pada meja. Agar bisa mengawasi raut wajah yang bersangkutan.
"Mama tidak kecewa."
"Lalu kenapa wajah mama berubah masam? Mama pikir aku anak SD yang mudah diperdaya?" Mega memasang wajah muram. Dia kesal sekaligus was-was. Takut jika jawaban ibunya akan memberatkan hidupnya.
"Mama tidak kecewa karena tahu pacarmu janda, tapi Mama kecewa karena kamu tidak memberi tahu Mama sejak awal!" Mira mematikan kompor setelah mengangkat ayam dari wajan. Lalu menjitak kepala anaknya. Karena rasa gemas yang sudah sejak tadi ditahan.
"AW!" Pekik Mega kesakitan. Meski sebenarnya tidak sakit-sakit amat. Dia hanya bersuara untuk mendramatisir keadaan. Agar rasa senang di hatinya sedikit tersalurkan. Karena ibunya setuju akan hubungannya.
"Sukurin! Hahaha!" seru Logan yang baru saja tiba. Sembari membawa satu kresek besar berisi makanan ringan. Bersama Joanna yang membawa kresek berisi udang. Karena dia diminta Mira membeli di toko terdekat.
"Pukul yang kencang, Ma! Supaya kapok dia! Punya pacar kok disembunyikan!" Logan berjalan mendekat. Sedangkan Joanna hanya terkekeh saja. Sembari mengekor di belakang.
"Kalian bertemu di mana? Kok bisa tahu kalau dia pacarku padahal kalian baru pertama kali bertemu?" Mega menunjuk Logan dan Joanna bergantian. Karena mereka tampak akrab. Bahkan Logan sempat mengambil alih kresek yang berisi udang, untuk diberikan pada ibunya.
"Aku sudah diberi tahu Mama lewat chat. Diberi fotonya juga. Jadi aku sengaja turun minimarket supaya bisa cegat Kak Jo di jalan."
Mega hanya bisa tersenyum lebar saat mendengar penjelasan adiknya. Sedangkan Joanna hanya terkekeh saja. Lalu mengambil alih udang yang akan dicuci ibunya.
"Aku saja, Ma."
"Tapi amis, Cantik. Nanti kamu bau, Mega tidak mau cium." Mira melirik Mega sebentar. Membuat Logan tertawa terbahak. Karena melihat reaksi kakaknya yang hanya diam dengan wajah merah paham.
"Mama ada-ada saja." Joanna memaksa untuk mengambil alih udang. Membuat Mira mengalah dan mengerjakan hal lain sekarang. Membuat adonan tepung untuk menggoreng udang.
"Hahaha! Malu niyeee? AW!" Mega menjewer telinga Logan. Membuat anak itu memekik pelan. Sehingga Mira mulai menegurnya. Agar Mega tidak lagi menyakiti adiknya. Mengingat mereka kerap bergulat jika disatukan.
"Mega!!!"
Mega mengabaikan ibunya. Dia terus menjewer telinga Logan hingga anak itu mengaduh kesakitan. Joanna? Dia hanya menahan senyuman sembari mencuci udang.
8. 00 PM
Di lain tempat, Rena sedang menemani Juno yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Sebab kini dia sudah kembali diperbolehkan menemui anak Jeffrey dan Joanna. Namun tidak untuk kembali tinggal di sana.
"Mama mau pulang kapan? Ini sudah malam." tanya Kevin saat memasuki kamar adiknya. Sebab dia baru saja pulang dan terkejut saat tahu ibunya masih berada di dalam.
"Baru jam delapan, Vin. Papamu juga belum pulang, kan?"
"Sudah. Aku diberi tahu Papa kalau Mama masih di dalam."
"Serius? Barusan atau sudah dari tadi?" Rena mulai bangkit. Meraih tas di kecil dan mengeluarkan kaca dan lipstik. Karena di ingin menemui ayah Kevin.
"Mama mau apa lagi, sih? Mau menggoda Papa? Tidak mempan! Di hatinya hanya ada Mama Joanna!"
"Berhenti menyebut wanita dengan sebutan Mama! Dia bukan ibumu Kevin!" Rena murka. Dia menatap tajam Kevin yang kini masih berada di pintu kamar. Karena enggan masuk dan berdekatan dengan ibunya.
"Dia masih Mamaku mau masih atau tidak dia jadi istri Papaku. Lagi pula, apa Mama tidak punya malu? Mau sampai kapan Mama mempermalukanku?"
Pertanyaan Kevin jelas membuat Serena sakit hati. Dia merasa jika si anak keterlaluan sekali. Padahal dia sudah berusaha menahan segala tindak kurang ajar si anak sebelum ini.
"Mama membuatmu malu, Kevin? Bagian mana yang membuat kamu malu? Apa memperjuangkan keluarga yang utuh begitu mengusikmu?" Air mata Rena tumpah. Dia benar-benar tidak bisa membendung kesedihan. Karena berkali-kali telah dikecewakan oleh anak kandungnya.
"Iya. Semua hal gila yang Mama lakukan benar-benar telah membuatku malu, Ma! Jadi cukup sudahi semua! Aku tidak masalah jika memiliki keluarga yang tidak utuh seperti sekarang. Demi Tuhan aku lebih suka jika kita hidup berjauhan daripada—"
Plak...
Rena menampar Kevin sangat kencang. Membuat sudut bibir anak itu berdarah. Bahkan telapak tangan wanita itu juga mengecap di pipinya.
"Mama benar-benar menyesal karena sudah melahirkanmu! Seharusnya aku gugurkan saja kamu dulu!"
Kevin yang sejak tadi memasang wajah marah kini berubah pias. Ada rasa tercubit di dadanya setelah mendengar penuturan ibunya. Akan penyesalan wanita itu karena telah melahirkan dirinya.
"Aku juga tidak pernah minta dilahirkan, Ma. Tidak pernah."
Rena yang akan keluar kamar mulai menghentikan langkah. Air matanya kembali keluar. Disusul dengan kepalan tangan yang Mulai terangkat. Berniat melayangkan tamparan yang kedua untuk anaknya yang kurang ajar.
"Jangan pernah gunakan tanganmu yang kotor untuk melukai anakku yang berharga!"
Kevin yang sebelumnya sudah memejamkan mata mulai membuka mata perlahan. Dia menatap ayahnya yang sudah berada di sampingnya. Sembari menahan tangan ibunya yang akan kembali melayangkan tamparan.
Guys, sorry banget baru bisa update sekarang. Karena setelah bapakku meninggal, dua minggu kemudian disusul nenek dari alm bapak juga meninggal. Banyak hal di hidupku yang berubah. Jadi aku harus adjust perlahan.
Karena cerita ini akan tamat sebentar lagi, aku akan usahakan update 2 kali sehari. Waktu buka dan sahur nanti. Tapi kalau mau baca duluan bisa di karyakarsa seperti biasa. Thank you karena kalian udh sabar nungguin aku update cerita.
Tbc…
KAMU SEDANG MEMBACA
GET TO KNOW BETTER [END]
RomansaJoanna dan Jeffrey menikah karena perjodohan. Kisah klise yang sering berakhir menyedihkan. Namun Joanna berusaha menolak segala penderitaan. Sebab tidak ingin berakhir menyedihkan karena menikahi pria yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
![GET TO KNOW BETTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/382375072-64-k953488.jpg)