🏐 | 37. Mereka di Sampingku

512 9 2
                                        

Mecca sedang melamun dikamarnya, ternyata sudah hanpir satu bulan ia tidak masuk sekolah karena kondisinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mecca sedang melamun dikamarnya, ternyata sudah hanpir satu bulan ia tidak masuk sekolah karena kondisinya. Tapi ia tetap bersyukur, mungkin ini cara Tuhan sebelum ia menemukan bahagianya.

Suara pintu yang dibuka membuat Mecca mengernyit. "Siapa?"

"Sore, Ca!" suara cempreng itu membuat Mecca tersenyum lebar.

"Hai! Fika! Udah pulang emang? Ini udah jam 3?" tanya Mecca membuat Fika gemas dan mencubit pipi temannya itu.

"Udah lah makanya gue di sini. Mau cilok Mang Eno nggak?"

"Mau!" pekik Mecca kelewat senang. Sudah lama sekali ia tidak jajan diluar, maka tidak bisa menolak.

"Nih gue bawain, aaa," Fika mulai menusuk cilok itu dengan lidi dan menyuapi Mecca, tentu saja diterima Mecca dengan senang hati.

Mecca mengunyah ciloknya, dua detik kemudian matanya membulat. "Masih enak rasanya! Ternyata gue buta pun gak ngerubah apapun, termasuk rasa cilok."

Fika meringis mendengarnya. "Ca, gelap banget dah."

"Hehe."

Fika ikut memasukan cilok itu ke dalam mulut. "Bentar lagi, katanya Kak Vian mau nyusul. Tadi ada rapat Voli dulu tapi gue izin gak ikutan soalnya pengen nemenin lo."

"Kangen Voli..." kata Mecca, ia ingat bagaimana perjuangannya masuk ke sana. Ia tak menyangka akan masuk seleksi padahal awalnya hanya ikut Fika dan dapat bonus bertemu Vian.

"Iya, bentar lagi, ya? Berdoa aja." kata Fika.

"Pasti."

"Mecca." suara seorang lelaki yang masuk membuat Mecca mengernyit, katanya Vian tapi itu bukan suaranya.

"Kak Ian? Eh, tapi suaranya beda." ujar Mecca.

"Iya tadi yang manggil Fahmi Ca, dia ngotot pengen ikut nemenin kamu." sahut suara yang Mecca yakini adalah Vian, lelaki itu datang bersamaan dengan Fahmi, yang pernah menembak Mecca dengan sekantung plastik jajanan.

"Hehe boleh kan, Ca?" tanya Fahmi.

Mecca tersenyum senang. "Boleh dong!"

"Ca, Kak Vian bawa coklat banyak itu." bisik Fika, membuat senyum Mecca semakin merekah.

"Mauuu! Eh? Nggak lah, hahaha itu buat lo." katanya segera tersadar, membuat Fika terkekeh.

"Itu buat kita! Iyakan, Kak?" kata Fika semangat diangguki Vian.

"Iya."

"Mau gue suapin?" tawar Fika, sudah siap dengan satu bungkus coklat ditangannya.

Sedangkan Vian dan Fahmi sudah mulai duduk bersila dikarpet bawah kasur Mecca, memperhatikan dua gadis diatas ranjang. Tentu saja dengan pintu kamar terbuka dan sudah disetujui Medina.

Like My Ex  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang