Laurora Mecca gagal move on dengan Viandra Klastara--mantan cinta monyetnya di Sekolah Menengah Pertama, dan memutuskan kembali mengejar cinta sang mantan di SMA.
Menjadi cegil dalam mengejar Vian, tak mudah bagi Mecca. Ia harus menghadapi beberapa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ada Mecca, nggak?" tanya Vian pada Naufal yang kebetulan baru selangkah dari pintu kelas. Cowok itu mengangguk dan kembali melongok ke dalam.
"Mek, dicariin Ketua Voli."
Mecca yang masih membereskan tas langsung menoleh pada ambang pintu. "Kak Vian?"
Tanpa lama, Mecca langsung berlari kecil ke pintu dan tersenyum lebar melihat Vian yang sedang berdiri di depan Naufal dengan tangan masuk ke saku celana dan satu tangan menenteng tas dibahu kiri.
"Gue cemburu Mek," ucap Naufal tiba-tiba membuat Mecca dan Vian menoleh cepat padanya.
"Lah kenapa?" tanya Mecca heran, sedangkan Vian hanya menyimak.
"Karena lo sukanya malah sama Ketua Voli bukan gue." ujar Naufal terang-terangan yang malah membuat Mecca tertawa.
"Ya ampun, Pal. Lo temen baik gue kok di kelas selain Fika."
Naufal mendengus dan terkekeh. "Second choice anying."
"Hahaha. Eh, Kak Ian ada apa kesini?" pandangan Mecca kembali pada Vian.
Cowok itu berdeham. "Pulang,"
"Hah?" Mecca cengo, ia tidak mengerti maksud Vian. Ia pamit akan pulang atau bagaimana?
"Gue anterin." seolah paham apa yang dipikirkan Mecca Vian kembali bersuara, membuat Naufal yang malas melihat dua insan itu langsung melenggang pergi.
Mecca masih tidak mengerti. Vian tiba-tiba seperti ini. Apa lelaki itu mulai luluh? Atau hanya tidak ingin kehilangan fans seperti yang dibilang Ruben? Mecca berdeham. "Ini apa sih? Kak Ian ngajak aku pulang bareng maksudnya?"
"Heem. Mau?"
"Aneh," gumam Mecca yang membuat Vian terkekeh karena mendengar gumamannya.
"Kok aneh?"
Mecca menggeleng, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Maksudnya bukan kayak Kak Ian yang biasanya."
Vian berdecak. "Dibilang karena gue bohong semuanya, kan?"
"Aku belum terbiasa, Kak. Takut Kak Ian cuma bohong lagi." ucap Mecca jujur.
"Gue nggak bohong kalo ini. Ayo pulang." Vian tiba-tiba saja menarik lengannya membuat jantung Mecca semakin berdetak cepat. Gila, rasanya seperti banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
Mecca bahkan tak berani menatap Vian sampai di parkiran, tangannya dingin dan pasti Vian merasakan itu. Vian mengernyit memperhatikan Mecca yang berisik kini menjadi pendiam.
"Jangan grogi." ujarnya membuat Mecca mendongak.
"E-eh emang keliatan?"
"Banget."
Mecca meringis. "Maaf. Udah lama nunggu Kak Ian respon baik begini. Aku gak perlu balikan kok, di respon baik aja udah seneng."
"Yakin cuma direspon aja?" tanya Vian dan Mecca langsung mengangguk.