Laurora Mecca gagal move on dengan Viandra Klastara--mantan cinta monyetnya di Sekolah Menengah Pertama, dan memutuskan kembali mengejar cinta sang mantan di SMA.
Menjadi cegil dalam mengejar Vian, tak mudah bagi Mecca. Ia harus menghadapi beberapa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fika memandang kursi sebelahnya yang kosong selama hampir dua minggu ini. Fika rindu sekali bercengkrama dengan Mecca. Biasanya gadis berisik itu akan bercerita apa saja padanya, sekarang rasanya kosong sekali. Fika tak memiliki teman lagi.
"Eh Fika, gue denger temen lo buta?" Gita tiba-tiba datang ke kelas dan duduk di kursi depan Fika.
Fika menoleh malas. "Bukan urusan lo, kan?"
Gita tertawa pelan. "Jelas urusan gue, berarti cowok-cowok udah gak bakalan suka dia lagi. Soalnya dia udah gak bisa liat."
"Anjing lo ya! Gak berprikemanusiaan, dasar gila!" Fika tiba-tiba emosi, secara tidak langsung Gita merasa diuntungkan oleh kebutaan yang Mecca alami.
Gita malah terkekeh melihat respon Fika. "Bukan gak berprikemanusiaan, gue cuma sedikit lega aja soalnya gue bosen banget liat dia jadi pemeran utama setiap gue liat cogan. Harusnya lo juga seneng, Kak Vian sekarang udah pasti seutuhnya jadi milik lo tanpa lo harus berbagi sama si Mecca."
"Stresss! Jaga mulut lo sialan!" Fika sudah berdiri dari duduknya dan menarik kerah seragam Gita, bisa dipastikan ia akan menonjok wajah sialan itu jika sebuah lengan tidak menahannya.
Fika melirik pemilik tangan itu, ternyata Nasya. Fika langsung membuang napas dan melepaskan cekalan Nasya pada tangannya.
"Heh Gita! Gue tinggalin ternyata lo makin jauh, ya? Beruntung banget gue dijauhin sama manusia gak beradab kayak lo." kata Nasya, membuat Fika sedikit mengernyit, bukannya mereka satu geng?
"Eh Nasya, lo gak usah ngerasa paling suci. Lo lupa pernah jahat juga ke Mecca?" balas Gita nyolot.
Nasya menggeleng tak habis pikir. "Tapi gue gak sejauh yang lo lakuin. Lagian kalo ada Mecca, gue juga mau minta maaf sama gue karena gue terkontaminasi kelakuan lo itu!"
Oh, mungkin mereka berantem. Atau udah gak temenan lagi? Batin Fika.
"Cih, lo sekarang bukan level gue Sya." kata Gita dengan tatapan merendahkan.
Nasya balas berdecih. "Gue juga gak mau kali selevel sama lo."
"Bisa diem gak berdua? Gue puyeng dengernya." Fika memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing mendengar perdebatan keduanya.
•••
"Yan, lo kenapa?" tanya Rifki melihat temannya yang sejak tadi hanya diam melamun.
Vian tersadar, mengusap matanya sebelum menjawab. "Kepikiran Mecca. Harusnya hari itu gue gak oleng."
"Yan, jangan nyalahin diri lo sendiri." kata Deri.
Vian menghela napas, sepi sekali rasanya sekolah tanpa melihat gadis itu. Meskipun akhir-akhir ini Mecca sudah mulai jauh dengannya. "Gue kangen. Gue bohong kalo gue gak peduli sama Mecca, Der."