🏐 | 39. Untuknya, yang Lebih layak

1.6K 24 4
                                        

Hari ini adalah hari ketiga Vian datang ke rumah sakit setelah operasi Mecca yang berhasil

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini adalah hari ketiga Vian datang ke rumah sakit setelah operasi Mecca yang berhasil. Langkahnya memasuki ruangan dengan seplastik makanan ditangannya.

Mendengar pintu dibuka, Mecca menoleh dan tersenyum cerah apalagi melihat plastik putih ditangan Vian.

"Kak." sapa Mecca riang, ia kembali muram saat masih tak melihat Fika dan Fahmi dibelakang Vian.

"Kok sendiri lagi? Kata dokter udah boleh kok dijengukin!" protes Mecca, membuat Vian terdiam.

"Kak Ian?" panggil Mecca.

"Hah?" Vian tersadar.

Mecca mengernyit. "Kok ngelamun?"

Vian menggelengkan kepala. "Gapapa."

Mecca menghela napas. "Omong-omong, yang donorin siapa, Kak? Boleh Kak Ian kasih tau aku namanya? Aku mau doain Kakak cantik itu biar hidup damai di sana. Soalnya, kalo di Indonesia katanya pendonor matanya cuma bisa yang udah meninggal, ya? Kata Ibu juga, Kak Ian yang kasih pendonor itu buat aku."

Vian menghela napas, sepertinya ini saatnya ia memberi tahu gadis itu siapa orang baik yang sudah mendonorkan matanya itu. Vian merogoh satu amplop berwarna pink bergambar pita pada satu jaketnya, diberikannya amplop itu pada Mecca. "Kamu baca ini, semua terjawab di sana."

Mecca menatap amplop itu bingung, tapi ia mengambilnya. "Apa ini?"

"Buka aja," kata Vian yang kini sudah memalingkan wajah, tak ingin melihat reaksi Mecca membaca surat yang ada di dalam amplop itu.

Perlahan, Mecca membuka amplop itu dan mendapati selembar kertas di dalamnya. Matanya mulai bergerak membaca kata demi kata yang tertulis rapi pada kertas itu.

Hai, Ca.

Maaf ya Ca, maafin gue. Andai gue gak ngajak lo pulang bareng sampe maksa lo duduk didepan, lo pasti masih bisa liat tanpa perlu donor mata. Pasti sakit banget, ya Ca? Tapi tenang aja, sekarang lo pasti udah bisa liat lagi, kan?

Gue tau, lo lebih butuh mata itu. Lo lebih layak buat liat keindahan alam semesta ini Ca, terlebih Kak Vian. Dia indah ya, Ca? Tapi sekarang lo lebih layak buat sama dia, selamat melihat dia tanpa perlu jaga perasaan gue. Gue ikhlas, serius.

Maaf kalo selama ini gak bilang kalo gue sakit dan udah stadium akhir. Gue cuma takut lo gak mau temenan sama gue, kayak temen SD gue dulu. Makanya pas ada lo, gue seneng banget Ca. Lo temen pertama gue. Ca... kanker itu gak menular, kan? Makasih ya, lo udah jadi temen yang baik selama gue hidup.

Kak Vian tau Ca, gue tau alasan dia pilih gue waktu dia sama lo lagi. Dia kasihan sama gue, dia cuma mau bantu gue buat tetap hidup meskipun tau kita gak bisa ngelawan takdir Tuhan kan, Ca?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 15, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Like My Ex  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang