Laurora Mecca gagal move on dengan Viandra Klastara--mantan cinta monyetnya di Sekolah Menengah Pertama, dan memutuskan kembali mengejar cinta sang mantan di SMA.
Menjadi cegil dalam mengejar Vian, tak mudah bagi Mecca. Ia harus menghadapi beberapa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fahmi bersandar menunggu di samping mobil, satu tangannya di dalam saku celana dan satunya bertengger pada kap mobil Mazda 2 SkyActiv miliknya. Jarum jam ditangannya sudah menunjukkan pukul tiga, dimana anak SMA Pasundan sudah waktunya pulang. Dan Fahmi berharap Mecca menjadi salah satu siswa yang keluar melewati gerbang sekolah itu.
Mendengar bahwa Mecca sudah kembali jomblo, Fahmi jadi bertekad akan mencoba mengejar gadis itu lagi. Siapa tahu kali ini beruntung.
"Eh, itu siapa?" tanya Shila, mengernyit melihat lelaki dengan seragam putih abu bersandar pada mobilnya tak jauh dari gerbang.
Nasya mengikuti arah pandang Shila. "Itu kan yang waktu itu kenal sama Mecca."
Gita langsung menoleh dan berdeham, langkahnya berjalan menuju Fahmi diikuti teman-temannya. "Halo, cari siapa?"
Fahmi menoleh kala mencium aroma parfum vanilla yang manis menyengat hidungnya, didepannya berdirilah gadis dengan seragam putih abu yang super ketat, ditemani kedua temannya yang sudah seperti pengawal.
Melihat cowok itu yang diam saja Gita mengulurkan tangan. "Oh lupa, belum kenalan. Gue Gita, nama lo?"
Bersamaan dengan itu, seorang gadis berjalan keluar dari sekolah membuat Fahmi spontan berjalan meninggalkan Gita menuju gadis dengan rambut dikepang yang berjalan sendirian.
"Hai!" sapanya pada gadis itu, membuat Mecca menoleh.
"Fahmi?"
"Ini serius gue diginiin?" Gita menatap Mecca sinis dari dekat mobil Fahmi. "Kenapa harus Mecca lagi? Udah kayak pemeran utama aja!"
"Sabar ya, Git." kata kedua temannya seraya mengipasi Gita yang kepanasan dan meringis kasihan melihat temannya.
Di sisi lain Mecca mengernyit melihat Fahmi yang datang menghampirinya. "Kenapa kesini?"
Fahmi tersenyum lebar. "Gue anter pulang, yuk?"
Mecca sontak menggelengkan kepala, ia tidak berniat untuk memberi harapan pada lelaki yang pernah menjadi teman SMP-nya itu. "Eh? Nggak usah, sebentar lagi Om Ruben dateng jemput ke sini. Lain kali aja, ya?"
Fahmi masih menunjukkan seyum termanisnya. "Ya udah, besok gimana? Gue dateng lagi ke sini besok."
Mecca kembali menggeleng. "Eh, beneran nggak usah, Mi."
Tin! Tin!
"Ah itu Om Ruben udah dateng, kapan-kapan lagi, ya? Bye!" Mecca segera meninggalkan Fahmi dan berjalan menuju mobil teracotta itu.