Matahari mulai tenggelam seiring berjalannya waktu, sinarnya menghilang di balik tirai kamar apartemen mewah itu, namun semua itu tidak mengganggu seorang pria yang sedang duduk menatap layar laptopnya. Kacamata bertengger di hidung mancung pria tersebut. Wajahnya serius, dingin, tanpa sedikit pun ekspresi lelah. Data-data yang tersusun rapi memenuhi layar laptop, sebagian besar adalah laporan dari RC Entertainment yang harus ia cek sebelum keberangkatan pagi nanti.
Karena ia akan pergi ke Surabaya esok pagi, Riko mengerjakan pekerjaan hingga larut malam. Ia tidak mau selama dirinya berada di Surabaya harus disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Tujuan sebenarnya ia pergi bukan untuk urusan perusahaan. Ada alasan lain yang jauh lebih pribadi.
Riko bersandar sejenak di kursinya. Matanya menatap layar laptop yang masih menyala. Laporan demi laporan sudah ia cek. Tanda tangan digital sudah dikirimkan di beberapa berkas penting. Meski semua urusan telah ia selesaikan, pikirannya sama sekali tidak tenang. Ada sesuatu yang mengusik dan membuat dadanya terasa sesak meskipun raut wajahnya tetap datar.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, yang berarti waktu penerbangannya hanya tersisa dua jam lagi. Namun ia belum sempat menyiapkan barang-barangnya. Bahkan untuk meninggalkan semua pekerjaan ini Riko masih terasa berat, karena masih ada hal-hal yang tadinya ingin ia cek lagi. Tetapi ia tahu, tidak ada waktu. Semua harus ia tinggalkan.
Dengan langkah pasti, ia bangkit dari kursinya dan menutup laptop itu. Suara dentingan logam yang bertemu dengan meja terdengar ketika ia melepaskan kacamata, lalu menarik napas panjang. Ia memutuskan hanya membawa barang-barang yang benar-benar diperlukan; selebihnya bisa ia beli di sana nanti.
Riko membuka lemari pakaian, mengambil beberapa setelan rapi dan jas berkualitas. Sebuah koper hitam berukuran sedang ia letakkan di lantai kamar. Tangannya memasukkan pakaian dengan gerakan yang cepat namun teratur. Tidak lupa sebuah pistol kecil yang ia letakkan rapi di saku tersembunyi koper. Bukan karena mencari masalah, tapi karena perjalanan ini bukan perjalanan biasa.
Setelah selesai, langkah kaki tegap itu membawa tubuhnya ke sisi ranjang. Ia duduk sejenak, lalu perlahan merebahkan tubuhnya. Matanya memandang langit-langit kamar yang gelap tanpa lampu. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan. Tidur hanya sebagai formalitas, pikirannya tidak mungkin tenang.
Riko memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Dalam diamnya, ada obsesi dingin yang terpendam.
••••
Keesokan paginya, langit masih pucat ketika Riko sudah berada di bandara. Proses check-in dan pemeriksaan keamanan berjalan cepat karena ia memesan tiket first class. Ia berjalan sendiri, tanpa bawahan, tanpa suara. Ini adalah keputusan yang ia kendalikan sendiri.
Tempat duduk di kabin first class terasa nyaman, tetapi Riko tetap menunjukkan ketenangan yang kaku. Ia menatap keluar jendela pesawat, melihat kabut tipis menutupi landasan. Pikirannya melayang pada tujuan akhir perjalanan ini.
Seorang pramugari menghampirinya dengan sopan.
"Tuan, apakah Anda ingin minum?" Riko hanya menoleh sedikit, matanya dingin.
"Air putih." balas Riko.
Pramugari itu segera pergi dan kembali membawa segelas air putih dingin. Riko menatapnya sesaat, lalu meneguk perlahan. Tidak ada percakapan lain.
Pesawat akhirnya lepas landas. Suara mesin menggetarkan kabin. Riko menatap ke luar, membiarkan pemandangan awan berlalu begitu saja.
Riko memejamkan mata, tetapi pikirannya kembali memutar memori lama bersama Xania. Gadis itu dulu bekerja di agensi miliknya. Manis, lembut, polos, dan cantik.
"Aku akan mengambilmu kembali, apapun caranya sayang." gumamnya lirih.
••••
Setibanya di bandara Surabaya, Riko bergegas menuju tempat tinggal yang sudah disiapkan untuknya selama ia tinggal di kota tersebut. Apartemen di lantai paling atas sebuah apartemen bintang lima.
Dalam perjalanan menuju apartemen, ia memilih mengemudi mobil hitam yang sudah disiapkan bawahannya. Mengemudi dengan santai tapi pasti, karena suasana hatinya sedang bagus. Bagus bukan karena senang, tapi karena targetnya telah ditemukan.
Sesampai nya di apartemen, ia bisa melihat sebagian kota yang sibuk, tapi tanpa suara hiruk pikuk. Hanya pemandangan lampu kota dan jalanan yang masih basah oleh hujan semalam.
Ia tidak akan menemui gadisnya saat ini juga. Riko memutuskan menunda. Bukan karena ia ragu, namun karena ia tidak ingin gegabah. Semua harus berjalan sesuai rencana.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan esok hari ia akan menemui gadis itu. Untuk sekarang, Riko memilih untuk istirahat sejenak karena tadi malam pun ia hanya tidur beberapa jam.
Tubuhnya yang sudah segar sehabis mandi, disandarkan ke sofa kulit hitam. Ia membuka laptop kecil, bukan laptop perusahaan, namun laptop khusus yang hanya berisi hal-hal pribadi dan rahasia. Ia mengetik beberapa perintah singkat. Layar menampilkan peta kota Surabaya beserta beberapa titik yang sudah ditandai.
Riko menatap layar itu dalam diam.
Telepon genggamnya bergetar pelan. Ia mengangkat tanpa suara salam.
"Semua orang sudah di posisi, Tuan." ucap salah satu bawahannya singkat.
"Pantau saja" jawab Riko datar.
"Kalau Nona Xania pergi keluar bagaimana, Tuan?"
"Biarkan. Jangan dekati dia, ikuti saja kemana mereka pergi seperti kemarin. Jangan sampai bikin mereka curiga dengan kalian."
"Baik, Tuan" kemudian telepon ditutup.
Riko memandang langit malam kota Surabaya dari balik kaca besar apartemen. Sesaat bibirnya terangkat sedikit. Sebuah senyum dingin dan tipis.
"Kau tidak akan tahu aku di sini, Baby. Tapi aku melihatmu, mulai hari ini....tidak ada lagi tempat bersembunyi untukmu." gumamnya pelan.
🖤🖤🖤🖤
Terima kasih kepada reader's setia Crazy Obsession, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Jangan lupa bantu Vote, Komen & Follow, juga share ke teman-teman kalian. Bantu ramaikan cerita ini biar author semangat update nya yaa🫶🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Obsession
Romance"Mau, lari kemana lagi? Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa lepas dari jangkauan ku sayang" senyum licik terlihat jelas di wajah yg tampan itu. "Kau, bisa gak Menjauhlah dari ku!" Gadis tersebut bergegas melarilan diri,ke sebuah tempat gang...
